Jakarta, APGtimes.com – Harga Bitcoin (BTC) melonjak 36 persen sejak 18 Agustus 2026. Pada periode yang sama, harga emas justru melemah, sedangkan pasar saham Amerika Serikat (AS) bergerak relatif terbatas.
Mengutip Yahoo Finance, Sabtu (26/9/2026), Bitcoin kini diperdagangkan di sekitar 84.000 dollar AS.
Perbedaan pergerakan tersebut memunculkan pertanyaan baru mengenai hubungan Bitcoin dengan aset lain, terutama saham dan emas.
Sejak 18 Agustus hingga periode pengamatan, SPDR S&P 500 ETF Trust (SPY) hanya naik 0,05 persen. Sementara itu, SPDR Gold Shares (GLD) turun 1,4 persen.
Korelasi Bitcoin Tidak Selalu Sama
Bitcoin selama ini kerap bergerak mengikuti aset berisiko seperti saham. Investor juga sering membandingkan pergerakan Bitcoin dengan emas.
Namun, perbedaan kinerja dalam beberapa pekan terakhir belum cukup untuk menunjukkan bahwa hubungan tersebut telah berubah secara permanen.
Korelasi menggambarkan seberapa erat pergerakan dua aset. Nilainya berada dalam rentang minus satu hingga plus satu.
Nilai plus satu menunjukkan dua aset bergerak sepenuhnya searah. Nilai nol menunjukkan tidak ada hubungan, sedangkan minus satu menunjukkan pergerakan yang berlawanan.
Periode pengamatan juga memengaruhi hasil korelasi. Pengukuran selama lima minggu bisa memberikan gambaran berbeda dibandingkan periode 90 hari.
Dalam lima minggu hingga 23 September 2026, Bitcoin menguat ketika saham AS cenderung stagnan dan emas mengalami penurunan.
Kondisi itu juga berlangsung ketika volatilitas pasar saham berada pada level rendah. Indeks VIX tercatat 14,21. Angka di bawah 15 umumnya menunjukkan kondisi pasar yang relatif stabil.
Namun, gambaran tersebut berubah ketika pengamatan diperpanjang hingga 90 hari.
Pada pertengahan September, korelasi Bitcoin dengan emas mencapai level tertinggi dalam enam tahun. Data tersebut menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin dalam lima minggu terakhir belum cukup untuk memastikan perubahan hubungan jangka panjang.
Tiga Faktor Mendorong Bitcoin
Kenaikan Bitcoin hingga 36 persen sejak 18 Agustus muncul bersamaan dengan sejumlah faktor di pasar keuangan.
Pertama, Departemen Keuangan AS menggandakan program pembelian kembali obligasi pada 19 Agustus. Kebijakan tersebut meningkatkan likuiditas dalam sistem keuangan dan bertepatan dengan awal penguatan Bitcoin.
Kedua, reli Bitcoin mendapat dorongan dari short squeeze.
Short squeeze terjadi ketika pelaku pasar yang sebelumnya memprediksi penurunan harga harus membeli Bitcoin untuk menutup posisi setelah harga justru bergerak naik.
Pembelian tersebut kemudian dapat memperkuat tekanan kenaikan harga dalam waktu singkat.
Perbedaan kinerja Bitcoin, emas, dan saham saat ini menunjukkan bahwa hubungan antar-aset bisa berubah dalam jangka pendek. Namun, pergerakan dalam periode lebih panjang tetap perlu diperhatikan untuk melihat pola yang lebih konsisten. (de*)









