Saudi dan UEA Tolak Perundingan AS-Iran, Qatar dan Oman Dorong Jalan Damai

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 26 September 2026 - 23:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Hubungan erat Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan selama bertahun-tahun dianggap sebagai tulang punggung aliansi kedua negara, mulai menunjukkan keretakan.(X @SerapBalaman)

Hubungan erat Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden UEA Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan selama bertahun-tahun dianggap sebagai tulang punggung aliansi kedua negara, mulai menunjukkan keretakan.(X @SerapBalaman)

Riyadh, APGtimes.com – Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mendorong Amerika Serikat (AS) untuk mempertahankan tekanan terhadap Iran. Kedua negara Teluk itu menolak upaya untuk segera melanjutkan perundingan damai Washington dan Teheran.

Menurut laporan The Wall Street Journal, Kamis (24/9/2026), Saudi dan UEA meminta pemerintahan Presiden Donald Trump tidak memberikan konsesi yang dapat mengurangi tekanan terhadap Iran.

Saudi juga mendorong Washington mempertahankan blokade Angkatan Laut AS sampai Iran menyepakati perjanjian baru.

Sikap Saudi Berubah

Sikap Arab Saudi kini berbeda dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.

Sepanjang musim panas, Saudi bersama sejumlah negara Arab mendorong perundingan dengan Iran. Mereka bahkan sempat membuka peluang kesepakatan yang mengakui sebagian pengaruh Iran atas Selat Hormuz.

Namun, serangan Iran terhadap kapal-kapal Arab Saudi di Selat Hormuz mengubah situasi.

Serangan kelompok Houthi di jalur pelayaran alternatif Laut Merah turut memperburuk kondisi keamanan kawasan.

Baca Juga :  Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak

Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman kemudian dilaporkan meminta pejabat AS mempertahankan blokade hingga Iran menerima kesepakatan baru.

UEA juga mulai menurunkan harapan terhadap perundingan diplomatik. Para pejabat negara itu menilai serangan terhadap kapal dan kekerasan di kawasan menunjukkan Iran belum menunjukkan keinginan kuat untuk kembali ke meja perundingan.

UEA juga menolak kemungkinan Iran menguasai Selat Hormuz secara permanen.

Qatar dan Oman Tetap Dorong Diplomasi

Oman dan Qatar mengambil posisi berbeda dari Saudi serta UEA.

Kedua negara menilai konflik telah memberikan dampak besar terhadap kawasan. Mereka mendorong pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap sekaligus penghentian serangan terhadap negara-negara Teluk.

Qatar juga berusaha mempertemukan kembali Iran dan AS di sela-sela Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Baca Juga :  Iran Bersiap Perang Lebih Besar, Selat Hormuz Makin Tegang dan Jalur Kapal Terancam

Menteri Luar Negeri Iran tiba di Doha pada Minggu untuk membahas sejumlah proposal baru. Salah satu usulan mencakup jeda pertempuran selama tujuh hari.

Jeda tersebut diharapkan dapat membuka jalan bagi penghentian serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan.

Sebagai imbalannya, Iran menginginkan AS mencabut blokade maritim.

Trump Sebut AS-Iran Akan Bertemu Lagi

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan pada Selasa (22/9/2026) bahwa Washington dan Teheran kemungkinan kembali bertemu dalam waktu dekat.

Namun, proses tersebut menghadapi hambatan dari perbedaan sikap kedua pihak.

AS disebut telah berulang kali memberi tahu Qatar bahwa Trump tidak berniat mencabut embargo maritim terhadap Iran.

Para mediator kini menghadapi tantangan untuk mempertemukan kembali kepentingan AS, Iran, serta negara-negara Teluk yang memiliki kepentingan langsung terhadap keamanan Selat Hormuz. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Siapkan Target Balasan jika AS dan Israel Menyerang Lagi, Produksi Senjata Naik 2,5 Kali Lipat
Arab Saudi Gempur Houthi, Operasi Rebut Mokha Mengancam Jalur Strategis Bab El-Mandeb
Tabung Bakteri Pes Pecah di Rusia, Pekerja Laboratorium Meninggal
G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Minyak, Pasokan Solar Jadi Prioritas
Rusia Ancam Gunakan Senjata Nuklir jika NATO Blokade Kaliningrad
Biaya Izin Tinggal Permanen Jepang Naik 20 Kali Lipat Jadi Rp22,7 Juta
Kim Jong Un Disebut Berbobot 140 Kg, Intelijen Korsel Ungkap Kondisi Kesehatannya
FBI Kebobolan Data, ShinyHunters Klaim Curi Informasi Sensitif Ribuan Pegawai
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Iran Siapkan Target Balasan jika AS dan Israel Menyerang Lagi, Produksi Senjata Naik 2,5 Kali Lipat

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Arab Saudi Gempur Houthi, Operasi Rebut Mokha Mengancam Jalur Strategis Bab El-Mandeb

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Tabung Bakteri Pes Pecah di Rusia, Pekerja Laboratorium Meninggal

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 18:09 WIB

G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Minyak, Pasokan Solar Jadi Prioritas

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Rusia Ancam Gunakan Senjata Nuklir jika NATO Blokade Kaliningrad

Berita Terbaru