Password 123456 Bobol Database Denmark, 8,8 Juta Data Penduduk Dicuri

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi password(Magnific)

Ilustrasi password(Magnific)

Kopenhagen, APGtimes.com – Peretas mencuri 8,8 juta data dari basis data kependudukan nasional Denmark setelah memanfaatkan akun perusahaan penyedia layanan teknologi informasi (TI) yang menggunakan kata sandi “123456”. Insiden ini menyoroti lemahnya perlindungan akses pada sistem yang menyimpan informasi penting masyarakat.

Dikutip dari The Register, peretas diduga masuk melalui Pays ApS, perusahaan penyedia layanan TI dan data yang membantu pelanggan mengakses Registri Pusat Penduduk Denmark atau Central Person Register (CPR).

Direktur Pays ApS, Sophie Laursen, membenarkan bahwa pelaku memanfaatkan akses perusahaan ke basis data tersebut untuk mengambil informasi.

Pemerintah Denmark Menemukan Peretasan Setelah 12 Hari

Pemerintah Denmark mengonfirmasi insiden tersebut. Namun, otoritas baru menemukan aktivitas mencurigakan 12 hari setelah peretas melakukan aksinya.

Seorang pejabat pemerintah menjelaskan bahwa sebuah tagihan mengungkap penggunaan layanan yang tidak wajar dari perusahaan terkait. Pemerintah Denmark tidak menyebutkan nama perusahaan yang menjadi sasaran eksploitasi tersebut.

Peretas mengklaim telah mengambil 8,8 juta data, tetapi mereka menyatakan tidak berniat menjual atau menyebarkan informasi itu.

Baca Juga :  Komdigi dan Polri Usut Dugaan Jual Beli Data yang Dikaitkan dengan Meutya Hafid

Basis data CPR menyimpan catatan kependudukan hampir seluruh warga Denmark. Karena itu, pencurian data dalam jumlah besar menimbulkan kekhawatiran mengenai privasi dan keamanan informasi pribadi.

Kata Sandi Lemah Membuka Celah Keamanan

Penggunaan kata sandi “123456” menjadi sorotan karena siapa pun dapat menebak kombinasi tersebut dengan mudah. Jika akun itu terhubung dengan sistem penting, penyerang berpotensi memanfaatkan aksesnya untuk mengambil data.

Organisasi yang mengelola informasi sensitif perlu menerapkan kata sandi yang kuat dan autentikasi multifaktor. Selain itu, pengelola sistem harus membatasi hak akses pengguna serta memantau aktivitas akun secara rutin.

Perusahaan juga perlu mengevaluasi keamanan mitra yang terhubung dengan sistem mereka. Sebab, celah pada akun pihak ketiga dapat membuka jalan menuju basis data yang lebih besar.

Indonesia Pernah Menghadapi Masalah Kredensial

Indonesia juga pernah menghadapi persoalan keamanan kredensial dalam insiden serangan siber terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) pada 2024.

Dalam kasus tersebut, dokumen yang memuat nama pengguna dan kata sandi untuk mengakses server PDNS sempat tersebar di internet. Dokumen itu mencantumkan kata sandi “Admin#1234” untuk salah satu server penyimpanan data pemerintah.

Baca Juga :  RUU Adminduk Jadi Usul DPR, Sanksi Penyebaran Data Kependudukan Diperberat

Kejadian tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan kredensial dalam menjaga infrastruktur digital. Pengelola tidak cukup hanya mengandalkan perlindungan server, tetapi juga harus menjaga kerahasiaan kata sandi dan mengawasi setiap akses.

Kecerdasan Buatan Menambah Tantangan Keamanan Siber

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut meningkatkan tantangan bagi tim keamanan siber. Pelaku dapat memanfaatkan teknologi ini untuk mengotomatisasi sejumlah tahapan serangan dan mencari celah sistem dengan lebih efisien.

Pemberitaan yang dirujuk sumber juga menyinggung laporan dugaan penggunaan agen AI dalam serangan terhadap lembaga keuangan Korea Selatan dan pemerintah Taiwan.

Meski demikian, kasus Denmark memperlihatkan bahwa peretas tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Kata sandi yang mudah ditebak dapat membuka celah besar ketika pengelola mengabaikan perlindungan berlapis.

Karena itu, pemerintah dan perusahaan perlu memperkuat autentikasi, membatasi akses sesuai kebutuhan, serta mendeteksi aktivitas mencurigakan sejak dini. Langkah-langkah tersebut menjadi bagian penting dalam melindungi data pribadi dan mencegah pencurian informasi berskala besar. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Clicks Communicator Hadirkan Keyboard QWERTY ala BlackBerry, Ini Spesifikasinya
Motu Technology Siapkan 140 Diler Kendaraan Listrik di Indonesia, Motor Listrik Masuk Tahun Depan
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Password 123456 Bobol Database Denmark, 8,8 Juta Data Penduduk Dicuri

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Clicks Communicator Hadirkan Keyboard QWERTY ala BlackBerry, Ini Spesifikasinya

Jumat, 18 September 2026 - 16:09 WIB

Motu Technology Siapkan 140 Diler Kendaraan Listrik di Indonesia, Motor Listrik Masuk Tahun Depan

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB