Dikutip dari The Register, peretas diduga masuk melalui Pays ApS, perusahaan penyedia layanan TI dan data yang membantu pelanggan mengakses Registri Pusat Penduduk Denmark atau Central Person Register (CPR).
Direktur Pays ApS, Sophie Laursen, membenarkan bahwa pelaku memanfaatkan akses perusahaan ke basis data tersebut untuk mengambil informasi.
Pemerintah Denmark Menemukan Peretasan Setelah 12 Hari
Pemerintah Denmark mengonfirmasi insiden tersebut. Namun, otoritas baru menemukan aktivitas mencurigakan 12 hari setelah peretas melakukan aksinya.
Seorang pejabat pemerintah menjelaskan bahwa sebuah tagihan mengungkap penggunaan layanan yang tidak wajar dari perusahaan terkait. Pemerintah Denmark tidak menyebutkan nama perusahaan yang menjadi sasaran eksploitasi tersebut.
Peretas mengklaim telah mengambil 8,8 juta data, tetapi mereka menyatakan tidak berniat menjual atau menyebarkan informasi itu.
Basis data CPR menyimpan catatan kependudukan hampir seluruh warga Denmark. Karena itu, pencurian data dalam jumlah besar menimbulkan kekhawatiran mengenai privasi dan keamanan informasi pribadi.
Kata Sandi Lemah Membuka Celah Keamanan
Penggunaan kata sandi “123456” menjadi sorotan karena siapa pun dapat menebak kombinasi tersebut dengan mudah. Jika akun itu terhubung dengan sistem penting, penyerang berpotensi memanfaatkan aksesnya untuk mengambil data.
Organisasi yang mengelola informasi sensitif perlu menerapkan kata sandi yang kuat dan autentikasi multifaktor. Selain itu, pengelola sistem harus membatasi hak akses pengguna serta memantau aktivitas akun secara rutin.
Perusahaan juga perlu mengevaluasi keamanan mitra yang terhubung dengan sistem mereka. Sebab, celah pada akun pihak ketiga dapat membuka jalan menuju basis data yang lebih besar.
Indonesia Pernah Menghadapi Masalah Kredensial
Indonesia juga pernah menghadapi persoalan keamanan kredensial dalam insiden serangan siber terhadap Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) pada 2024.
Dalam kasus tersebut, dokumen yang memuat nama pengguna dan kata sandi untuk mengakses server PDNS sempat tersebar di internet. Dokumen itu mencantumkan kata sandi “Admin#1234” untuk salah satu server penyimpanan data pemerintah.
Kejadian tersebut menunjukkan pentingnya pengelolaan kredensial dalam menjaga infrastruktur digital. Pengelola tidak cukup hanya mengandalkan perlindungan server, tetapi juga harus menjaga kerahasiaan kata sandi dan mengawasi setiap akses.
Kecerdasan Buatan Menambah Tantangan Keamanan Siber
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut meningkatkan tantangan bagi tim keamanan siber. Pelaku dapat memanfaatkan teknologi ini untuk mengotomatisasi sejumlah tahapan serangan dan mencari celah sistem dengan lebih efisien.
Pemberitaan yang dirujuk sumber juga menyinggung laporan dugaan penggunaan agen AI dalam serangan terhadap lembaga keuangan Korea Selatan dan pemerintah Taiwan.
Meski demikian, kasus Denmark memperlihatkan bahwa peretas tidak selalu membutuhkan teknologi canggih. Kata sandi yang mudah ditebak dapat membuka celah besar ketika pengelola mengabaikan perlindungan berlapis.
Karena itu, pemerintah dan perusahaan perlu memperkuat autentikasi, membatasi akses sesuai kebutuhan, serta mendeteksi aktivitas mencurigakan sejak dini. Langkah-langkah tersebut menjadi bagian penting dalam melindungi data pribadi dan mencegah pencurian informasi berskala besar. (aw*)









