Walhi Ungkap 22.690 Hotspot Karhutla Sumsel Berada di Konsesi Perusahaan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemandangan Sungai Musi diselimuti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Palembang, Sumatera Selatan, 13 September 2026.(AFP/AL ZULKIFLI)

Pemandangan Sungai Musi diselimuti kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Palembang, Sumatera Selatan, 13 September 2026.(AFP/AL ZULKIFLI)

Palembang, APGtimes.com – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Selatan mengungkap temuan 22.690 titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di area konsesi perusahaan.

Walhi Sumsel memperoleh data tersebut melalui analisis spasial. Data bersumber dari Sipongi Kementerian Kehutanan untuk periode 1 September hingga 2 Oktober 2026.

Kepala Divisi Advokasi Walhi Sumsel Galang Suganda mengatakan karhutla kembali mengancam lingkungan dan masyarakat Sumsel.

“Kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi ancaman serius. Asap kembali menyelimuti ruang hidup warga, kualitas udara memburuk, kasus gangguan kesehatan meningkat,” ujar Galang, Senin (5/10/2026).

Menurut Galang, aktivitas kehutanan, perkebunan, dan pertambangan turut memberi tekanan besar terhadap ruang hidup masyarakat.

Hotspot Tersebar di Konsesi HTI dan Perkebunan

Walhi mencatat Sumatera Selatan memiliki luas daratan sekitar 8,6 juta hektare. Sebagian wilayah tersebut telah mendapat alokasi untuk berbagai kegiatan ekonomi berbasis lahan.

Baca Juga :  Razia Lapas Jambi, Petugas Temukan Kartu Remi hingga Kabel Terminal

Sekitar 1,4 juta hektare masuk kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI). Kemudian, sekitar 1,2 juta hektare digunakan untuk perkebunan kelapa sawit.

Selain itu, lebih dari 700 ribu hektare mendapat izin untuk kegiatan pertambangan.

Dari analisis data Sipongi, Walhi menemukan 10.411 hotspot berada dalam izin PBPH atau HTI yang tersebar di 18 konsesi perusahaan.

Sementara itu, 12.279 hotspot berada dalam wilayah izin perkebunan yang tersebar di 63 konsesi perusahaan.

Jika digabungkan, jumlah hotspot di wilayah konsesi korporasi mencapai 22.690 titik.

Walhi Minta Pemerintah Verifikasi Hotspot

Walhi menjelaskan bahwa hotspot menunjukkan anomali panas yang terdeteksi satelit. Data tersebut belum otomatis menunjukkan adanya kebakaran aktif.

Karena itu, petugas tetap perlu melakukan verifikasi langsung di lapangan.

Meski demikian, Walhi menilai konsentrasi hotspot di wilayah konsesi perusahaan perlu mendapat perhatian pemerintah.

Baca Juga :  Korban Dugaan Penipuan Titin Marleni Bertambah, Warga Merangin Mengaku Rugi Rp100 Juta

“Hotspot merupakan indikator anomali panas yang tetap membutuhkan verifikasi lapangan. Konsentrasi hotspot pada wilayah yang berada dalam izin korporasi merupakan indikasi risiko yang harus segera diverifikasi dan diawasi pemerintah,” kata Galang.

Ribuan Hotspot Berada di Kawasan Gambut

Walhi juga menganalisis sebaran hotspot pada Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) di Sumatera Selatan.

Dari total 16.685 hotspot yang berada di kawasan gambut, sebanyak 11.845 titik atau 70,99 persen berada di kawasan Kubah Gambut.

Sementara itu, 4.840 titik atau 29,01 persen berada di kawasan Non-Kubah Gambut.

Walhi menilai tingginya hotspot di kawasan gambut menunjukkan besarnya risiko kebakaran pada ekosistem tersebut.

Kondisi gambut yang mengalami tekanan dapat memperbesar potensi karhutla, terutama saat musim kering. Karena itu, Walhi mendorong pemerintah memperkuat pengawasan dan pencegahan kebakaran di wilayah rawan. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Orangutan Terekam Berjalan Sendirian di Lahan Bekas Karhutla Kotawaringin Barat
Feri Ariasandi Hadiri Puncak Kejurkot Wali Kota Cup PBSI Sungai Penuh
Pemkab Solok Perpanjang Tanggap Darurat Banjir Arosuka hingga 12 Oktober
Bupati Siak Menangis Lihat Guru Tinggal di Rumah Reot, Siswa Tempuh 2 Jam ke Sekolah
Polda Kepri Bongkar Penyelundupan 3 Mesin Pesawat Bekas dari Singapura Senilai Rp30 Miliar
Kapolda Jambi Berganti, Irjen Widodo Gantikan Krisno H Siregar
Gedung PUPR Solok yang Diterjang Banjir Bandang Akan Jadi Monumen Bencana
PT Tren Gen Horizon Bagikan 100 Nasi Kotak dalam Program Jumat Berbagi
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Walhi Ungkap 22.690 Hotspot Karhutla Sumsel Berada di Konsesi Perusahaan

Senin, 5 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Orangutan Terekam Berjalan Sendirian di Lahan Bekas Karhutla Kotawaringin Barat

Senin, 5 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Feri Ariasandi Hadiri Puncak Kejurkot Wali Kota Cup PBSI Sungai Penuh

Senin, 5 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Pemkab Solok Perpanjang Tanggap Darurat Banjir Arosuka hingga 12 Oktober

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Bupati Siak Menangis Lihat Guru Tinggal di Rumah Reot, Siswa Tempuh 2 Jam ke Sekolah

Berita Terbaru