Iran Siapkan Target Balasan jika AS dan Israel Menyerang Lagi, Produksi Senjata Naik 2,5 Kali Lipat

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rudal Zolfaghar buatan Iran saat ditampilkan di Lapangan Azadi di Teheran, 2 Agustus 2026, ketika perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.(AFP/ATTA KENARE)

Rudal Zolfaghar buatan Iran saat ditampilkan di Lapangan Azadi di Teheran, 2 Agustus 2026, ketika perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel masih berlangsung.(AFP/ATTA KENARE)

Teheran, APGtimes.com – Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel agar tidak kembali menyerang wilayahnya. Teheran mengklaim telah menyiapkan sejumlah target untuk menghadapi kemungkinan serangan baru.

Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran Reza Talaei-Nik mengatakan Iran akan memberikan respons lebih kuat jika serangan kembali terjadi. Pernyataan itu ia sampaikan pada Selasa (6/10/2026), seperti dikutip Anadolu Agency dari laporan Fars.

Talaei-Nik menyebut angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan target potensial untuk serangan balasan. Ia menyampaikan hal tersebut saat mendapat pertanyaan mengenai kemungkinan serangan terhadap Kuh-e Kolang atau Gunung Pickaxe.

Iran Perkuat Rudal dan Drone

Selain menyiapkan target, Iran mengklaim telah meningkatkan kemampuan militernya. Penguatan itu mencakup teknologi rudal dan drone, sistem pertahanan udara, serta kemampuan angkatan laut, darat, dan udara.

Baca Juga :  Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026, Presiden Argentina Tetapkan Hari Libur Nasional

Talaei-Nik juga menyebut kapasitas produksi senjata, peralatan pertahanan, dan amunisi Iran kini mencapai 2,5 kali lipat dibandingkan sebelum perang yang dimulai pada 28 Februari 2026.

Menurutnya, produksi sejumlah jenis senjata bahkan meningkat lebih dari tiga kali lipat. Kementerian Pertahanan Iran bersama jaringan mitranya kini memiliki kapasitas untuk memproduksi lebih dari 1.000 jenis sistem, senjata, peralatan, dan amunisi.

Kerja Sama dengan Rusia dan China Berlanjut

Di tengah ketegangan dengan AS dan Israel, Iran juga menyatakan kerja sama pertahanannya dengan Rusia dan China tetap berjalan.

Talaei-Nik mengatakan hubungan strategis dengan Moskwa dan Beijing tidak mengalami penurunan. Pertukaran di bidang politik dan pertahanan juga terus berlangsung berdasarkan perjanjian yang telah disepakati.

Ia menambahkan bahwa diplomasi pertahanan dan konsultasi Iran dengan kedua negara bahkan meningkat di sejumlah bidang. Namun, pemerintah Iran tidak merinci bentuk kerja sama tersebut.

Baca Juga :  Menlu Sugiono Tiba di New York, Siapkan Agenda Indonesia di Sidang PBB

Ketegangan Iran dan AS-Israel Berlanjut

Pernyataan tersebut muncul di tengah konflik Iran dengan AS dan Israel yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Serangan sebelumnya menyasar sejumlah fasilitas militer dan nuklir Iran serta pejabat tinggi militernya.

Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone terhadap Israel serta sejumlah target militer AS di kawasan.

Ketegangan juga berdampak pada jalur energi global. Reuters melaporkan konflik tersebut masih menekan arus minyak melalui Selat Hormuz dan mendorong kenaikan proyeksi harga minyak dunia.

Sebelumnya, Iran juga menyatakan Selat Hormuz belum akan dibuka kembali sebelum tujuh syarat yang diajukan Teheran terpenuhi. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arab Saudi Gempur Houthi, Operasi Rebut Mokha Mengancam Jalur Strategis Bab El-Mandeb
Tabung Bakteri Pes Pecah di Rusia, Pekerja Laboratorium Meninggal
G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Minyak, Pasokan Solar Jadi Prioritas
Rusia Ancam Gunakan Senjata Nuklir jika NATO Blokade Kaliningrad
Biaya Izin Tinggal Permanen Jepang Naik 20 Kali Lipat Jadi Rp22,7 Juta
Kim Jong Un Disebut Berbobot 140 Kg, Intelijen Korsel Ungkap Kondisi Kesehatannya
FBI Kebobolan Data, ShinyHunters Klaim Curi Informasi Sensitif Ribuan Pegawai
Malaysia Pulangkan 1.476 Warga Myanmar, PBB Soroti Risiko Keamanan di Negara Asal
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Iran Siapkan Target Balasan jika AS dan Israel Menyerang Lagi, Produksi Senjata Naik 2,5 Kali Lipat

Selasa, 6 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Arab Saudi Gempur Houthi, Operasi Rebut Mokha Mengancam Jalur Strategis Bab El-Mandeb

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Tabung Bakteri Pes Pecah di Rusia, Pekerja Laboratorium Meninggal

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 18:09 WIB

G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Minyak, Pasokan Solar Jadi Prioritas

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Rusia Ancam Gunakan Senjata Nuklir jika NATO Blokade Kaliningrad

Berita Terbaru