Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Gaza, Israel Tak Mau Tarik Pasukan Sebelum Hamas Dilucuti

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 23:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemimpin di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Rusia, Presiden Vladimir Putin

Pemimpin di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Rusia, Presiden Vladimir Putin

Tel Aviv, APGtimes.com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak secara terbuka rencana 15 poin untuk Gaza yang Amerika Serikat (AS) dorong dan Hamas dukung. Sikap tersebut memperlihatkan perbedaan pandangan Netanyahu dengan Presiden AS Donald Trump terkait masa depan Gaza.

Netanyahu menyampaikan penolakan itu dalam rapat kabinet Israel pada Minggu (9/8/2026). Ia menegaskan Israel tidak akan menarik pasukan sebelum Hamas kehilangan kemampuan militernya.

Netanyahu Tolak Rencana 15 Poin Gaza

Netanyahu mengatakan pemerintah Israel sudah menyampaikan keberatan terhadap sejumlah bagian dalam rencana tersebut kepada AS.

“Israel menolak dokumen 15 poin,” ujar Netanyahu dalam rapat kabinet.

Menurut Netanyahu, militer Israel akan tetap menjalankan operasi sampai pemerintah memastikan tidak ada lagi ancaman keamanan terhadap warga dan pasukannya.

“Militer Israel tidak akan melakukan penarikan apa pun sampai Hamas benar-benar dilucuti senjatanya,” tegasnya.

Netanyahu Tetap Pertahankan Hubungan dengan Trump

Meski menolak sebagian isi rencana Gaza, Netanyahu tetap menyebut Trump sebagai salah satu sekutu terdekat Israel.

Netanyahu mengatakan pemerintah AS memiliki sejumlah gagasan yang Israel bisa terima. Namun, ia menegaskan Israel juga akan mempertahankan kepentingannya dalam isu yang tidak mereka sepakati.

Baca Juga :  Israel Kembali Serang Lebanon Hanya Beberapa Jam Usai Kesepakatan Gencatan Senjata

Sikap tersebut menunjukkan hubungan Netanyahu dan Trump menghadapi perbedaan baru. Keduanya sebelumnya sering menunjukkan kesamaan sikap dalam berbagai kebijakan strategis Israel.

Trump juga pernah mengambil sejumlah kebijakan yang memperkuat hubungan AS-Israel. Salah satunya pemindahan Kedutaan Besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem pada masa jabatan pertamanya.

Perselisihan AS-Israel Makin Terlihat

Perbedaan pandangan antara Netanyahu dan Trump juga muncul dalam isu Iran. Trump sebelumnya mendorong upaya gencatan senjata dengan Teheran.

Namun, Netanyahu tetap mempertahankan sikap keras terhadap program nuklir Iran. Ia menegaskan Israel tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir selama dirinya memimpin pemerintahan.

“Dengan atau tanpa kesepakatan, selama saya menjadi perdana menteri, Iran tidak akan memiliki senjata nuklir,” kata Netanyahu.

Selain Iran, Netanyahu juga memerintahkan serangan baru ke Lebanon setelah Israel menuduh Hizbullah melanggar kesepakatan gencatan senjata.

Tekanan Politik Dalam Negeri Netanyahu

Sikap keras Netanyahu juga berkaitan dengan kondisi politik domestik Israel. Sejumlah survei menjelang pemilu 27 Oktober 2026 menunjukkan posisi politiknya menghadapi tekanan.

Baca Juga :  29 Negara Bagian AS Gugat Meta, Facebook dan Instagram Disorot soal Anak

Rencana Gaza yang mendapat dukungan Hamas juga tidak populer di kalangan pendukung sayap kanan Netanyahu. Sejumlah anggota kabinet dari kelompok kanan jauh bahkan mendorong pemungutan suara baru untuk membatalkan rencana tersebut.

Kondisi itu membuat Netanyahu menghadapi tekanan dari dua arah. Di satu sisi, ia harus menjaga hubungan strategis dengan Trump. Di sisi lain, ia perlu mempertahankan dukungan kelompok kanan dalam menghadapi pemilu.

Hamas Minta AS Tekan Netanyahu

Hamas justru menyatakan dukungan terhadap rencana Gaza. Kelompok tersebut meminta mediator dan pemerintah AS mendorong Netanyahu agar menjalankan peta jalan yang sudah disepakati.

“Kami mengharapkan para mediator dan penjamin dari Amerika untuk menekan Netanyahu dan pemerintahannya agar mematuhi peta jalan,” kata anggota biro politik Hamas, Bassem Naim.

Perbedaan sikap tersebut membuat masa depan rencana Gaza menghadapi tantangan baru. Netanyahu menolak penarikan pasukan sebelum Hamas melucuti senjata, sementara Hamas meminta AS memastikan Israel menjalankan kesepakatan. (yp*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kabut Asap Karhutla Indonesia Lumpuhkan Aktivitas Warga Serian Malaysia
Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu
Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja
Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang
Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, Hampir 1.500 Masih Hilang
Trump Klaim “Mission Accomplished” di Iran, Tapi Tujuan Perang AS Dipertanyakan
Iran Terancam Krisis, Harga BBM Bisa Naik hingga Rp 11.000 per Liter
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 7 September 2026 - 11:09 WIB

Kabut Asap Karhutla Indonesia Lumpuhkan Aktivitas Warga Serian Malaysia

Rabu, 2 September 2026 - 15:09 WIB

Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Selasa, 1 September 2026 - 19:09 WIB

Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:09 WIB

Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?

Berita Terbaru