Netty meminta pemerintah memprioritaskan anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan. Sebab, kelompok tersebut lebih rentan mengalami gangguan kesehatan saat polusi udara meningkat.
“Ketika kabut asap semakin pekat dan kualitas udara memburuk, yang paling penting adalah memastikan masyarakat terlindungi. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan gangguan pernapasan harus mendapatkan perhatian khusus,” ujar Netty, Selasa (13/10/2026).
Netty Minta Pemerintah Siagakan Layanan Kesehatan
Netty menegaskan bahwa pemerintah perlu mengimbangi pemadaman karhutla dengan pelayanan kesehatan yang memadai. Karena itu, pemerintah daerah, dinas kesehatan, dan fasilitas medis harus menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi lonjakan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Selain itu, pemerintah perlu memperluas sosialisasi mengenai kualitas udara dan penggunaan masker. Melalui informasi yang jelas, masyarakat dapat memahami risiko kabut asap serta mengetahui cara mengurangi paparan saat beraktivitas.
Netty juga meminta fasilitas kesehatan mempermudah akses pemeriksaan bagi warga terdampak. Dengan demikian, petugas medis dapat menangani keluhan kesehatan lebih cepat sebelum kondisinya memburuk.
“Jangan sampai masyarakat hanya mengetahui bahwa udara sedang buruk, tetapi tidak mendapatkan panduan mengenai apa yang harus dilakukan. Informasi harus diikuti dengan layanan kesehatan yang siap, akses pemeriksaan, dan penanganan yang cepat bagi warga terdampak,” katanya.
Lebih lanjut, Netty meminta pemerintah menjadikan keselamatan warga sebagai prioritas dalam penanganan karhutla. Menurutnya, penurunan jumlah titik api saja tidak cukup untuk mengukur keberhasilan penanganan.
“Negara harus hadir dalam dua hal sekaligus, mengendalikan kebakaran dan melindungi masyarakat dari dampaknya. Keberhasilan penanganan karhutla bukan hanya diukur dari berkurangnya titik api, tetapi juga dari terjaganya kesehatan dan keselamatan warga,” ujar Netty.
Polusi Udara Tinggi di Palangka Raya dan Palembang
Kabut asap dari karhutla di sejumlah provinsi terus memperburuk kualitas udara. Data IQAir yang dikutip dalam laporan tersebut menunjukkan tingginya tingkat polusi di beberapa kota pada Rabu (14/10/2026).
Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mencatat indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) sebesar 396 pada skala Amerika Serikat pukul 04.00 WIB. Pada waktu yang sama, konsentrasi partikel halus PM2.5 mencapai 273 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Sementara itu, Balikpapan, Kalimantan Timur, mencatat AQI sebesar 123 pada pukul 06.00 Wita. Angka tersebut menempatkan kualitas udara kota itu dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Di sisi lain, Palembang, Sumatera Selatan, mencatat AQI sebesar 688 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 420 µg/m³. Angka tersebut melampaui batas atas kategori berbahaya dalam skala AQI Amerika Serikat yang disebutkan dalam laporan.
Sebagai acuan, AQI 0–50 menunjukkan kualitas udara baik, 51–100 sedang, 101–150 tidak sehat bagi kelompok sensitif, 151–200 tidak sehat, 201–300 sangat tidak sehat, dan 301–500 berbahaya.
Karena itu, tingginya polusi udara membutuhkan langkah perlindungan yang cepat dan terkoordinasi. Pemerintah perlu memantau kualitas udara, menyebarkan informasi secara berkala, serta memastikan warga dapat mengakses layanan kesehatan.
Dengan langkah tersebut, pemerintah dapat menangani karhutla sekaligus mengurangi risiko kesehatan akibat paparan kabut asap. Perlindungan warga harus berjalan seiring dengan upaya mengendalikan kebakaran di berbagai wilayah. (de*)









