Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa gangguan pada kegiatan sosial, pendidikan, dan pekerjaan dapat memengaruhi kesehatan mental masyarakat.
Selain itu, perubahan rutinitas, pembatasan aktivitas luar ruangan, dan berkurangnya interaksi sosial dapat menurunkan kenyamanan selama bencana asap berlangsung.
Kemenkes Minta Orangtua Melindungi Anak
Kemenkes mengimbau masyarakat, khususnya orangtua, agar menjaga anak-anak tetap beraktivitas di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih.
Aji juga meminta masyarakat segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila keluhan terus berlangsung dan mengganggu kegiatan sehari-hari. Masyarakat sebaiknya mencari pertolongan sebelum kondisi semakin parah.
Kasus ISPA Akibat Karhutla Capai 277.075
Hingga 12 Oktober 2026, Kemenkes mencatat 277.075 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di 63 kabupaten dan kota pada tujuh provinsi terdampak karhutla.
Sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen di antaranya menyerang anak berusia 0–5 tahun.
Kemenkes terus memantau perkembangan jumlah pasien untuk mendeteksi potensi kenaikan kasus. Langkah tersebut juga membantu pemerintah memperkuat respons layanan kesehatan di daerah terdampak.
Asap Mengancam Kelompok Rentan
Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya. Paparan partikel tersebut dapat memicu ISPA, batuk, dan sesak napas, serta memperburuk kondisi penderita asma.
Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok yang paling rentan. Karena itu, mereka membutuhkan perlindungan ekstra saat kualitas udara memburuk.
Kenali Tanda Bahaya pada Anak
Kemenkes meminta orangtua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, bernapas lebih cepat dari biasanya, atau kesulitan menyusu dan minum.
Orangtua juga perlu menggunakan nebulizer sesuai indikasi dan petunjuk tenaga medis. Jangan menggunakan alat tersebut secara mandiri tanpa arahan tenaga kesehatan.
Selain menjaga kesehatan fisik, masyarakat perlu memperhatikan kondisi psikologis selama karhutla. Dukungan keluarga dan konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat membantu ketika stres atau kecemasan mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. (de*)









