Kebijakan ini menjadi gelombang PHK terbesar Netflix sejak 2022. Informasi tersebut terungkap melalui memo internal yang dikirimkan dua CEO Netflix, Greg Peters dan Ted Sarandos, kepada para karyawan pada Rabu (14/10/2026) waktu Amerika Serikat (AS).
Netflix mengonfirmasi memo tersebut kepada media teknologi TechCrunch. Sebelumnya, Wall Street Journal (WSJ) melaporkan informasi mengenai pengurangan tenaga kerja tersebut.
Empat Divisi Terdampak PHK
Memo internal menyebutkan bahwa sebagian besar karyawan yang terdampak berasal dari divisi produk, teknologi, hukum, dan sumber daya manusia (SDM).
Namun, Netflix tidak merinci jumlah pekerja yang kehilangan pekerjaan dari masing-masing divisi. Perusahaan juga belum mengungkap negara mana saja yang terkena dampak kebijakan tersebut.
Peters dan Sarandos menjelaskan bahwa keputusan ini berkaitan dengan upaya perusahaan menentukan prioritas penggunaan tenaga kerja dan sumber daya. Mereka menilai langkah tersebut penting untuk menjaga pertumbuhan bisnis Netflix dalam jangka panjang.
Keduanya juga menegaskan bahwa perusahaan akan tetap menanamkan investasi pada bidang yang dinilai memberikan dampak besar terhadap bisnis.
Meski melakukan PHK, pimpinan Netflix menyatakan optimisme terhadap pencapaian target kinerja perusahaan sepanjang 2026.
PHK Terbesar Sejak 2022
Netflix terakhir kali melakukan pengurangan tenaga kerja dalam skala besar pada 2022. Saat itu, perusahaan memangkas sekitar 450 karyawan melalui dua gelombang PHK.
Langkah tersebut terjadi setelah Netflix kehilangan pelanggan untuk pertama kalinya dalam lebih dari satu dekade. Perubahan kondisi bisnis saat itu mendorong perusahaan menyesuaikan operasionalnya.
Kebijakan terbaru kembali menandai perubahan strategi pengelolaan tenaga kerja Netflix di tengah perkembangan industri hiburan digital.
Persaingan Platform Video Semakin Ketat
Netflix juga menghadapi persaingan yang semakin kuat untuk mempertahankan pelanggan. YouTube dan TikTok, misalnya, menawarkan beragam video gratis yang dibuat oleh para pengguna.
Model tersebut menjadi tantangan bagi Netflix yang mengandalkan layanan berlangganan sebagai salah satu sumber utama pendapatannya. Perusahaan perlu menjaga agar pelanggan tetap bersedia membayar untuk menikmati konten di platformnya.
Selain jumlah pelanggan, waktu yang dihabiskan pengguna untuk menonton konten atau engagement turut menjadi perhatian investor. Tingkat keterlibatan pengguna dapat memengaruhi kemampuan platform mempertahankan audiens dan menjaga prospek bisnis.
Karena itu, Netflix perlu terus menentukan prioritas investasi dan mengembangkan layanan agar tetap kompetitif. Meski demikian, perusahaan belum menyampaikan rincian lebih lanjut mengenai dampak PHK terbaru terhadap operasional maupun strategi bisnisnya. (ys*)









