Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menjelaskan bahwa Jepang mengakhiri operasi setelah pemerintah Indonesia menyatakan mampu melanjutkan penanganan karhutla secara mandiri.
“Penugasan sudah selesai, dan Indonesia juga dipandang bisa menyelesaikan sendiri, bukan Indonesia menolak bantuan mereka,” kata Berton kepada Kompas.com, Selasa (13/10/2026).
Ia menegaskan, keputusan tersebut tidak menunjukkan bahwa Indonesia telah sepenuhnya terbebas dari ancaman kebakaran hutan dan lahan. Sebaliknya, berakhirnya misi Jepang menandai selesainya tugas bantuan internasional yang berlangsung sesuai kebutuhan di lapangan.
Tiga Helikopter Jepang Lakukan Lebih dari 40 Operasi
Berton merujuk pernyataan resmi Kementerian Pertahanan Jepang pada 29 September 2026 yang mencatat operasi bantuan berlangsung pada 16–29 September 2026.
Selama periode tersebut, tiga helikopter angkut CH-47 Chinook milik Pasukan Bela Diri Jepang menjalankan lebih dari 40 operasi pemadaman udara di Kalimantan. Ketiga helikopter itu menjatuhkan sekitar 220 ton air untuk membantu mengendalikan kebakaran.
Pemerintah Indonesia menyampaikan apresiasi atas dukungan tersebut karena operasi udara membantu mencegah api meluas ke wilayah lain. Setelah menilai perkembangan penanganan di lapangan, Indonesia menyatakan dapat melanjutkan operasi dengan kemampuan sendiri.
“Jadi, kami melihat berakhirnya misi ini sebagai bagian dari kerja sama kemanusiaan Indonesia–Jepang yang telah dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan koordinasi kedua negara,” ujar Berton.
Kementerian Pertahanan Jepang kemudian mengeluarkan perintah penghentian misi bantuan bencana internasional pada 29 September 2026. Personel Jepang menyelesaikan operasi yang telah terjadwal sebelum mempersiapkan kepulangan ke negara asal.
Indonesia Lanjutkan Penanganan Karhutla
Setelah Jepang menyelesaikan tugasnya, pemerintah Indonesia tetap menjalankan berbagai langkah untuk mengatasi karhutla di sejumlah wilayah.
BNPB menyebut penanganan berlanjut melalui operasi satuan tugas darat, dukungan pemadaman dari udara, pemantauan titik panas, serta pencegahan kebakaran berulang.
Berton mengingatkan bahwa ancaman karhutla masih perlu mendapat perhatian, terutama di kawasan lahan gambut. Area tersebut dapat kembali terbakar apabila kondisi lingkungan mendukung munculnya api.
Karena itu, pemerintah tetap perlu menjaga kesiapsiagaan petugas meskipun operasi bantuan internasional telah berakhir. Pemantauan titik api dan upaya pencegahan juga harus berjalan beriringan dengan pemadaman di lokasi terdampak.
BNPB Apresiasi Dukungan Pemerintah Jepang
BNPB menyampaikan terima kasih kepada pemerintah Jepang dan seluruh personel yang terlibat dalam misi pemadaman di Kalimantan. Menurut Berton, operasi tersebut menjadi bagian penting dari kerja sama kemanusiaan kedua negara.
Pengalaman selama misi juga memberikan pelajaran bagi Indonesia dan Jepang untuk memperkuat koordinasi serta kapasitas penanganan bencana pada masa mendatang.
“Kerja sama ini juga menjadi pengalaman penting dalam memperkuat koordinasi dan kapasitas penanganan bencana kedua negara ke depan,” kata Berton.
Dengan demikian, berakhirnya misi Jepang tidak berarti Indonesia menghentikan upaya penanganan karhutla. Pemerintah tetap melanjutkan pemadaman, pemantauan, dan pencegahan untuk mengendalikan risiko kebakaran di Kalimantan maupun wilayah lain yang rawan karhutla. (de*)









