Ekonomi Digital Asia Tenggara 2026: E-Commerce Catat Nilai Transaksi Rp 4.105 Triliun

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta, APGtimes.com — Ekonomi digital Asia Tenggara berpotensi mencapai 368 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.685,47 triliun pada 2026. Perkembangan kecerdasan buatan (AI) menjadi salah satu motor utama yang mempercepat pertumbuhan tersebut.

Google, Temasek, dan Bain & Company mengungkapkan proyeksi itu dalam laporan e-Conomy SEA 2026 bertajuk Building the Intelligent Economy. Ketiga lembaga tersebut merilis laporan pada akhir Oktober 2026.

Laporan itu memproyeksikan ekonomi digital Asia Tenggara tumbuh 17 persen secara tahunan atau year-on-year (YoY) pada 2026. Perhitungan tersebut mengacu pada nilai transaksi bruto atau gross merchandise value (GMV).

Lebih jauh, Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai ekonomi digital kawasan ini mampu menembus 1 triliun dollar AS atau sekitar Rp 18.167,05 triliun pada 2035.

Adopsi AI Generatif Tembus 243 Juta Pengguna

Penggunaan AI generatif menjadi salah satu faktor yang memperkuat pertumbuhan ekonomi digital. Teknologi ini kini menjangkau sekitar 243 juta orang di enam negara Asia Tenggara.

Keenam negara tersebut meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Jumlah pengguna itu setara dengan 58 persen populasi pekerja di kawasan tersebut.

Menariknya, masyarakat mencapai tingkat adopsi tersebut dalam waktu kurang dari tiga tahun. Laporan itu bahkan mencatat perkembangan AI generatif berlangsung empat kali lebih cepat dibandingkan penyebaran internet seluler.

Kini, masyarakat tidak hanya memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan sehari-hari. Teknologi tersebut juga mulai mengubah kebiasaan berbelanja, merencanakan perjalanan, hingga mengakses layanan keuangan.

E-Commerce Masih Menjadi Kontributor Terbesar

Perdagangan elektronik atau e-commerce masih memimpin kontribusi terhadap ekonomi digital Asia Tenggara. Google, Temasek, dan Bain & Company memproyeksikan GMV sektor ini mencapai 226 miliar dollar AS atau sekitar Rp 4.105,75 triliun pada 2026.

Nilai tersebut tumbuh 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang sama, AI mulai mengubah cara konsumen mencari dan menentukan pilihan produk.

Baca Juga :  ChatGPT Kini Bisa Edit Foto di Photoshop, Begini Cara Kerjanya

Laporan itu mencatat 31 persen aktivitas pencarian produk kini melibatkan metode multimodal. Melalui metode ini, konsumen dapat memakai teks, gambar, maupun suara untuk menemukan barang yang mereka inginkan.

Selain itu, 69 persen konsumen memanfaatkan AI untuk membandingkan produk dengan spesifikasi kompleks. Perangkat elektronik menjadi salah satu contoh produk yang membutuhkan pertimbangan sebelum pembelian.

AI Dorong Pertumbuhan Perjalanan dan Media Online

Sektor perjalanan online juga menunjukkan perkembangan positif. Laporan e-Conomy SEA 2026 memproyeksikan GMV sektor ini mencapai 59 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.071,86 triliun pada 2026.

Proyeksi tersebut mencerminkan pertumbuhan 10 persen secara tahunan. Menariknya, masyarakat kini menempatkan AI generatif sebagai alat kedua yang paling banyak mereka gunakan untuk merencanakan perjalanan setelah mesin pencari.

Dengan bantuan teknologi tersebut, pengguna dapat membandingkan pilihan perjalanan dan menyusun rencana sesuai kebutuhan pribadi.

Sementara itu, sektor media online berpotensi menghasilkan pendapatan 44 miliar dollar AS atau sekitar Rp 799,35 triliun. Angka tersebut meningkat 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sektor ini mencakup periklanan digital, layanan streaming video, dan industri game. Karena itu, peningkatan konsumsi konten digital turut memperkuat pertumbuhan ekonomi kawasan.

Transportasi dan Layanan Keuangan Ikut Berkembang

Pada sektor transportasi dan pesan-antar makanan, laporan tersebut memproyeksikan GMV mencapai 40 miliar dollar AS atau sekitar Rp 726,68 triliun. Nilai itu tumbuh 15 persen secara tahunan.

Perusahaan memanfaatkan AI untuk menyusun rekomendasi, mengatur rute perjalanan, dan meningkatkan pengalaman pelanggan. Teknologi ini juga membantu penyedia layanan mengoptimalkan kegiatan operasional.

Adapun sektor layanan keuangan digital mencatat proyeksi nilai transaksi bruto atau gross transaction value (GTV) sebesar 1,65 triliun dollar AS. Nilainya setara dengan sekitar Rp 29.975,63 triliun dan tumbuh 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Snapdragon 8 Elite Gen 6 Resmi Meluncur, Qualcomm Hadirkan Varian Extreme dengan CPU 5 GHz

Dalam sektor keuangan, perusahaan mengandalkan AI untuk mendeteksi penipuan secara langsung, menilai kelayakan kredit, serta menyusun rekomendasi keuangan yang lebih personal.

Kepercayaan Masyarakat terhadap AI Meningkat

Laporan e-Conomy SEA 2026 juga menyoroti peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap AI. Sebanyak 62 persen pengguna di Asia Tenggara mengaku lebih percaya kepada teknologi tersebut dibandingkan tahun sebelumnya.

Pengalaman dalam menyelesaikan tugas dan membantu pengambilan keputusan turut mendorong kepercayaan tersebut.

Selain itu, 75 persen pengguna menyatakan bersedia menyerahkan tugas pencarian harga terbaik dan penyelesaian transaksi kepada agen AI.

Tren ini membuka peluang bagi perkembangan agentic commerce. Istilah tersebut menggambarkan aktivitas belanja yang melibatkan agen AI untuk menjalankan beberapa tahapan transaksi secara mandiri.

Meski begitu, masyarakat tetap menuntut perlindungan saat menggunakan teknologi tersebut. Laporan itu mencatat 44 persen responden menginginkan perlindungan privasi yang kuat.

Sementara itu, 30 persen responden mengharapkan opsi untuk membatalkan tindakan yang agen AI lakukan secara otomatis.

Kapasitas Pusat Data Perlu Ditingkatkan

Lonjakan penggunaan AI menuntut Asia Tenggara memperkuat infrastruktur digital. Google, Temasek, dan Bain & Company menyoroti kebutuhan pengembangan pusat data, efisiensi energi, serta tata kelola teknologi.

Menurut laporan tersebut, kawasan Asia Tenggara perlu meningkatkan kapasitas pusat data hingga sekitar tiga kali lipat dalam lima tahun ke depan. Langkah ini penting untuk memenuhi kebutuhan komputasi yang terus meningkat.

Selain membangun infrastruktur fisik, perusahaan perlu meningkatkan efisiensi model AI dan mengendalikan biaya operasional. Dengan demikian, pelaku industri dapat memperluas pemanfaatan teknologi tanpa menanggung beban biaya berlebihan.

Pada akhirnya, jumlah pengguna AI bukan satu-satunya faktor penentu pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara. Kesiapan infrastruktur, perlindungan konsumen, dan efisiensi teknologi juga memegang peranan penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi kawasan. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia Pecahkan Rekor Penggunaan Gemini, 9 Juta Gambar AI Dihasilkan Setiap Hari
Xiaomi Rilis Redmi M100 Pro, Mirip Redmi Note 14 Pro 5G tetapi Kamera Turun Jadi 50 MP
DeepSeek Luncurkan Super-Agent AI yang Bisa Mendeteksi Masalah Coding Tanpa Perintah
Samsung Galaxy W27 Resmi Meluncur, HP Lipat Mewah dengan Kamera 200 MP dan Komunikasi Satelit
Binance Dibobol, Rp114 Triliun Aset Kripto Terdampak dan Rp59,4 Triliun Belum Dibekukan
Apple Rilis MacBook Pro Layar Sentuh OLED, Harga Tembus Rp 87 Juta
Apple Hadirkan Asisten AI di Pages, Keynote, dan Numbers, Ini Kemampuannya
Apple Ubah MacBook Pro 14 Inci dengan Chip M6, Ini Peningkatan yang Perlu Diketahui
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 17:09 WIB

Ekonomi Digital Asia Tenggara 2026: E-Commerce Catat Nilai Transaksi Rp 4.105 Triliun

Senin, 2 November 2026 - 19:09 WIB

Xiaomi Rilis Redmi M100 Pro, Mirip Redmi Note 14 Pro 5G tetapi Kamera Turun Jadi 50 MP

Senin, 2 November 2026 - 15:09 WIB

DeepSeek Luncurkan Super-Agent AI yang Bisa Mendeteksi Masalah Coding Tanpa Perintah

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Samsung Galaxy W27 Resmi Meluncur, HP Lipat Mewah dengan Kamera 200 MP dan Komunikasi Satelit

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Binance Dibobol, Rp114 Triliun Aset Kripto Terdampak dan Rp59,4 Triliun Belum Dibekukan

Berita Terbaru

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memberikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026), usai dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.(YouTube.com/Sekretariat Presiden)

Nasional

Kapolri Suyudi Tekankan Peran Humas pada Setiap Anggota Polri

Selasa, 3 Nov 2026 - 18:09 WIB