Rupiah Tertekan Tiga Faktor, Kebijakan The Fed hingga Defisit Transaksi Berjalan Jadi Sorotan

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Jakarta, APGtimes.com — Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dari gejolak pasar global dan meningkatnya risiko ekonomi dalam negeri. Kombinasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), arus modal asing, serta memburuknya prospek transaksi berjalan membuat pergerakan mata uang Indonesia semakin rentan.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa ekspektasi suku bunga AS yang tinggi menjadi salah satu faktor utama yang membatasi penguatan rupiah. Imbal hasil obligasi pemerintah AS yang menarik turut mendorong investor mempertahankan aset berbasis dolar AS.

Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya menjadi 3,75–4,00 persen pada September 2026. Pasar juga memperhitungkan kemungkinan kenaikan lanjutan menjelang akhir tahun.

Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik dolar AS di mata investor. Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi ruang penguatan yang lebih terbatas.

Dolar Melemah, Rupiah Masih Tertekan

Josua mengingatkan bahwa pelemahan rupiah tidak sepenuhnya berasal dari penguatan dolar AS. Pada perdagangan Asia, indeks dolar AS sempat mengalami penurunan.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.922 per Dollar AS, Pasar Sambut Positif Efisiensi Anggaran MBG

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor lain turut memengaruhi pergerakan rupiah. Salah satunya adalah tekanan dari pasar keuangan domestik, terutama ketika investor asing menjual saham di Indonesia.

Aksi jual tersebut dapat meningkatkan permintaan valuta asing dan memengaruhi pergerakan nilai tukar. Persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri juga ikut menentukan arah aliran modal.

Selain itu, meningkatnya konflik di Timur Tengah menambah ketidakpastian pasar global. Eskalasi geopolitik mendorong kenaikan premi risiko energi dan membuat investor cenderung mengurangi kepemilikan aset berisiko.

Situasi tersebut menempatkan rupiah di bawah tekanan dari dua arah, yakni kondisi pendanaan global yang ketat dan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap pasar domestik.

Defisit Transaksi Berjalan Jadi Perhatian

Josua juga menyoroti perubahan proyeksi defisit transaksi berjalan Indonesia yang dirilis Bank Indonesia (BI). Untuk 2026, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan mencapai 1,6–2,4 persen dari produk domestik bruto (PDB).

Angka tersebut lebih lebar dibandingkan proyeksi sebelumnya, yakni 0,5–1,3 persen dari PDB.

Pelebaran defisit menunjukkan meningkatnya kebutuhan pembiayaan eksternal. Kondisi ini menjadi tantangan ketika pasar keuangan global menawarkan biaya pendanaan yang relatif tinggi.

Baca Juga :  Harga Emas Dunia Stabil Setelah Anjlok 3 Persen, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

Jika kebutuhan pembiayaan meningkat di tengah terbatasnya aliran modal masuk, tekanan terhadap nilai tukar dapat bertambah. Karena itu, perkembangan transaksi berjalan menjadi salah satu indikator penting untuk memantau ketahanan eksternal Indonesia.

Kombinasi Faktor Global dan Domestik

Menurut Josua, tekanan terhadap rupiah tidak dapat dijelaskan hanya melalui pergerakan dolar AS. Arus modal asing, risiko geopolitik, serta kondisi fundamental ekonomi Indonesia juga memainkan peran penting.

Kebijakan suku bunga AS memengaruhi keputusan investasi global. Sementara itu, perkembangan pasar saham dan neraca transaksi berjalan turut membentuk persepsi investor terhadap prospek rupiah.

Ke depan, pelaku pasar perlu mencermati arah kebijakan The Fed, perkembangan konflik Timur Tengah, pergerakan investasi asing, serta realisasi transaksi berjalan Indonesia.

Perkembangan sejumlah indikator tersebut akan membantu menggambarkan besarnya tekanan terhadap rupiah dan kemampuan perekonomian nasional menghadapi perubahan kondisi keuangan global. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bank Mandiri Alihkan Saham Inhealth Rp 570 Miliar ke IFG Life, Apa Dampaknya?
Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp 19.000, Ini Faktor yang Menekan Kurs
IHSG Dibuka Melemah ke 5.249, Saham BRPT dan CPIN Tertekan
Shopee Buka Pasar Ekspor ke 5 Negara ASEAN, UMKM Indonesia Punya Peluang Baru
Harga Emas Antam Hari Ini 27 Oktober 2026 Naik Rp 10.000, Cek Daftar Lengkapnya
BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Bank Mandiri Alihkan Saham Inhealth Rp 570 Miliar ke IFG Life, Apa Dampaknya?

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp 19.000, Ini Faktor yang Menekan Kurs

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 5.249, Saham BRPT dan CPIN Tertekan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Shopee Buka Pasar Ekspor ke 5 Negara ASEAN, UMKM Indonesia Punya Peluang Baru

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 27 Oktober 2026 Naik Rp 10.000, Cek Daftar Lengkapnya

Berita Terbaru

Ilustrasi logo Apple di depan Apple Store Beijing(KOMPAS.com/Bill Clinten)

Tekno & Sains

Apple Rilis MacBook Pro Layar Sentuh OLED, Harga Tembus Rp 87 Juta

Kamis, 29 Okt 2026 - 19:09 WIB