Jakarta, APGtimes.com — Nilai tukar rupiah kembali menembus Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026). Kondisi ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.
Data Bloomberg mencatat rupiah dibuka pada Rp 18.038 per dollar AS. Posisi ini melemah 16 poin atau 0,09 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp 18.022 per dollar AS.
Rupiah Tertekan setelah BI Pertahankan Suku Bunga
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah terhadap dollar AS. Ia menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga berada di luar perkiraan pasar.
“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dollar AS setelah BI di luar perkiraan tidak menaikkan tingkat suku bunga kemarin,” kata Lukman kepada Kompas.com, Kamis (22/10/2026).
Menurut Lukman, sentimen pasar saham dan arus modal asing akan memengaruhi pergerakan rupiah dalam waktu dekat. Perbaikan sentimen di pasar saham dapat menarik kembali investor asing ke pasar keuangan Indonesia.
Aliran modal asing tersebut berpotensi menopang nilai tukar rupiah dan meredakan tekanan terhadap mata uang domestik.
Dollar AS dan Harga Minyak Jadi Indikator Penting
Lukman juga menyoroti pergerakan indeks dollar AS (DXY), imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST), serta harga minyak mentah dunia.
Ketiga indikator tersebut dapat memengaruhi arah pasar keuangan dan pergerakan nilai tukar. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan ekonomi global untuk memperkirakan arah rupiah selanjutnya.
Kenaikan Suku Bunga Bukan Solusi Otomatis
Meski rupiah kembali melemah, Lukman menilai BI tidak perlu langsung menaikkan suku bunga. Bank sentral perlu menilai penyebab pelemahan dan dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar serta ekspektasi inflasi.
“Belum tentu, kenaikan suku bunga bisa menjadi opsi, tetapi bukan respons otomatis setiap kali rupiah melemah,” ujar Lukman.
Ia menjelaskan, jika sentimen terkait MSCI lebih banyak memicu pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga berisiko menimbulkan biaya ekonomi besar tanpa memberi dampak signifikan terhadap nilai tukar.
Suku Bunga Tinggi Berisiko Menekan Ekonomi
Lukman mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya pinjaman. Kondisi ini juga berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit dan menekan konsumsi serta investasi.
Oleh karena itu, BI perlu mengidentifikasi sumber tekanan terhadap rupiah sebelum mengambil langkah moneter. Bank sentral juga harus menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi nasional. (de*)









