Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Foto: Muhammad Adimaja/ANTARA FOTO

Jakarta, APGtimes.com — Nilai tukar rupiah kembali menembus Rp 18.000 per dollar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (22/10/2026). Kondisi ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75 persen.

Data Bloomberg mencatat rupiah dibuka pada Rp 18.038 per dollar AS. Posisi ini melemah 16 poin atau 0,09 persen dari penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp 18.022 per dollar AS.

Rupiah Tertekan setelah BI Pertahankan Suku Bunga

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah terhadap dollar AS. Ia menilai keputusan BI mempertahankan suku bunga berada di luar perkiraan pasar.

“Rupiah diperkirakan masih berpotensi melemah terhadap dollar AS setelah BI di luar perkiraan tidak menaikkan tingkat suku bunga kemarin,” kata Lukman kepada Kompas.com, Kamis (22/10/2026).

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp18.134 per Dollar AS, IHSG Naik 0,88 Persen

Menurut Lukman, sentimen pasar saham dan arus modal asing akan memengaruhi pergerakan rupiah dalam waktu dekat. Perbaikan sentimen di pasar saham dapat menarik kembali investor asing ke pasar keuangan Indonesia.

Aliran modal asing tersebut berpotensi menopang nilai tukar rupiah dan meredakan tekanan terhadap mata uang domestik.

Dollar AS dan Harga Minyak Jadi Indikator Penting

Lukman juga menyoroti pergerakan indeks dollar AS (DXY), imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST), serta harga minyak mentah dunia.

Ketiga indikator tersebut dapat memengaruhi arah pasar keuangan dan pergerakan nilai tukar. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan ekonomi global untuk memperkirakan arah rupiah selanjutnya.

Kenaikan Suku Bunga Bukan Solusi Otomatis

Meski rupiah kembali melemah, Lukman menilai BI tidak perlu langsung menaikkan suku bunga. Bank sentral perlu menilai penyebab pelemahan dan dampaknya terhadap stabilitas nilai tukar serta ekspektasi inflasi.

Baca Juga :  Harga Emas Pegadaian Hari Ini 28 September 2026, Antam 1 Gram Rp2,653 Juta

“Belum tentu, kenaikan suku bunga bisa menjadi opsi, tetapi bukan respons otomatis setiap kali rupiah melemah,” ujar Lukman.

Ia menjelaskan, jika sentimen terkait MSCI lebih banyak memicu pelemahan rupiah, kenaikan suku bunga berisiko menimbulkan biaya ekonomi besar tanpa memberi dampak signifikan terhadap nilai tukar.

Suku Bunga Tinggi Berisiko Menekan Ekonomi

Lukman mengingatkan bahwa kenaikan suku bunga dapat meningkatkan biaya pinjaman. Kondisi ini juga berpotensi memperlambat pertumbuhan kredit dan menekan konsumsi serta investasi.

Oleh karena itu, BI perlu mengidentifikasi sumber tekanan terhadap rupiah sebelum mengambil langkah moneter. Bank sentral juga harus menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi nasional. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Harga Minyak Dunia Tembus 110 Dollar AS per Barel, Brent Naik 3,7 Persen
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB