Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp 19.000, Ini Faktor yang Menekan Kurs

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai mengadakan rapat dengan OJK di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (14/7/2026).(KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai mengadakan rapat dengan OJK di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Selasa (14/7/2026).(KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI)

Jakarta, APGtimes.com — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai rupiah tidak akan menembus Rp 19.000 per dollar AS.

Ia tetap optimistis terhadap prospek mata uang Indonesia meskipun tekanan pasar global masih membayangi pergerakannya.

Airlangga menyebut kondisi makroekonomi Indonesia menjadi salah satu alasan pemerintah mempertahankan optimisme tersebut. Namun, pemerintah tetap mencermati perkembangan nilai tukar dan situasi ekonomi internasional.

Pada perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, rupiah ditutup melemah 28 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp 18.184 per dollar AS. Sehari sebelumnya, rupiah berada di level Rp 18.156 per dollar AS.

Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) tercatat sebesar Rp 18.183 per dollar AS pada Rabu.

Konflik Timur Tengah Menambah Tekanan Rupiah

Bank Indonesia menilai ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah masih memengaruhi pergerakan rupiah dan mata uang negara-negara kawasan.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik turut menjaga harga minyak dunia di atas 115 dollar AS per barel.

Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan risiko fiskal Indonesia. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga Amerika Serikat turut menambah tekanan terhadap pasar keuangan global.

Baca Juga :  IMF Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Angin Segar, Tapi Risiko Global Belum Hilang

Kondisi tersebut mendorong investor lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Akibatnya, permintaan terhadap dollar AS meningkat, sedangkan aliran modal ke negara berkembang menghadapi tekanan.

Sentimen Pasar Global Ikut Memengaruhi Rupiah

Memburuknya sentimen risk-off juga mendorong investor mengalihkan dana ke aset yang mereka anggap lebih aman. Situasi ini memperkuat dollar AS dan meningkatkan risiko arus keluar modal dari pasar negara berkembang atau emerging markets.

Pada saat yang sama, kenaikan imbal hasil obligasi turut menekan mata uang negara berkembang. Tekanan terhadap rupiah juga muncul dari kekhawatiran mengenai potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Dari dalam negeri, meningkatnya kebutuhan valuta asing menjelang akhir bulan ikut menambah permintaan dollar AS. Gabungan faktor tersebut membuat rupiah masih menghadapi tantangan.

Meski demikian, BI mencatat pergerakan rupiah secara umum masih sejalan dengan mata uang negara-negara lain di kawasan.

Cadangan Devisa Indonesia Capai 146,3 Miliar Dollar AS

Di tengah tekanan nilai tukar, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar 146,3 miliar dollar AS pada akhir September 2026.

Baca Juga :  Bank Dunia Yakin Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh 5 Persen Meski Dunia Dihantam Krisis Energi

Secara bulanan, rupiah melemah 1,15 persen. Angka tersebut menunjukkan tekanan terhadap mata uang nasional masih berlangsung di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Cadangan devisa menjadi salah satu penyangga stabilitas eksternal Indonesia. Namun, pergerakan rupiah juga dipengaruhi arus modal, kebutuhan valuta asing, serta perubahan kebijakan moneter negara-negara utama.

BI Siapkan Intervensi untuk Menjaga Stabilitas

Bank Indonesia akan terus melakukan langkah stabilisasi guna menjaga pergerakan rupiah sesuai fundamental ekonomi dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik.

Untuk mencapai tujuan tersebut, BI menggunakan sejumlah instrumen, termasuk transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan transaksi spot.

Selain itu, BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk mendukung stabilitas pasar keuangan. BI juga memperkuat komunikasi dan koordinasi dengan korporasi, pelaku pasar, serta pihak terkait lainnya.

Pemerintah dan BI terus memantau perkembangan ekonomi global maupun domestik. Di tengah berbagai tekanan tersebut, Airlangga tetap meyakini kondisi makroekonomi Indonesia dapat mendukung stabilitas rupiah dan mencegah pelemahan hingga menembus Rp 19.000 per dollar AS. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bank Mandiri Alihkan Saham Inhealth Rp 570 Miliar ke IFG Life, Apa Dampaknya?
IHSG Dibuka Melemah ke 5.249, Saham BRPT dan CPIN Tertekan
Shopee Buka Pasar Ekspor ke 5 Negara ASEAN, UMKM Indonesia Punya Peluang Baru
Harga Emas Antam Hari Ini 27 Oktober 2026 Naik Rp 10.000, Cek Daftar Lengkapnya
Rupiah Tertekan Tiga Faktor, Kebijakan The Fed hingga Defisit Transaksi Berjalan Jadi Sorotan
BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Bank Mandiri Alihkan Saham Inhealth Rp 570 Miliar ke IFG Life, Apa Dampaknya?

Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:09 WIB

Airlangga Optimistis Rupiah Tak Tembus Rp 19.000, Ini Faktor yang Menekan Kurs

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 5.249, Saham BRPT dan CPIN Tertekan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 23:59 WIB

Shopee Buka Pasar Ekspor ke 5 Negara ASEAN, UMKM Indonesia Punya Peluang Baru

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 27 Oktober 2026 Naik Rp 10.000, Cek Daftar Lengkapnya

Berita Terbaru

Ilustrasi logo Apple di depan Apple Store Beijing(KOMPAS.com/Bill Clinten)

Tekno & Sains

Apple Rilis MacBook Pro Layar Sentuh OLED, Harga Tembus Rp 87 Juta

Kamis, 29 Okt 2026 - 19:09 WIB