Jakarta, APGtimes.com – Starbucks akan menutup 250 gerai di Amerika Serikat (AS) dan Kanada pada pekan ini. Perusahaan memilih gerai yang dinilai tidak mampu memberikan kinerja operasional dan keuangan sesuai target.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemulihan bisnis yang dijalankan CEO Starbucks Brian Niccol. Perusahaan juga menata kembali gerai yang masih beroperasi untuk meningkatkan pengalaman pelanggan.
Chief Operating Officer Starbucks Mike Grams menyampaikan rencana penutupan itu melalui surat kepada karyawan pada Kamis (24/9/2026).
Penutupan 250 gerai tersebut akan mengurangi sekitar 1 persen dari total gerai Starbucks di Amerika Utara.
Starbucks Evaluasi Jaringan Gerai
Starbucks melakukan evaluasi terhadap seluruh jaringan tokonya di Amerika Utara. Hasil evaluasi menunjukkan sejumlah lokasi tidak memiliki prospek untuk mencapai kinerja keuangan yang diharapkan.
Perusahaan juga mempertimbangkan kemampuan setiap gerai dalam memberikan pengalaman yang sesuai bagi pelanggan dan karyawan.
Pada kuartal terakhir, Starbucks mengoperasikan 18.371 gerai di Amerika Utara. Jumlah tersebut menurun dari 18.734 gerai pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penutupan terbaru ini terjadi hampir setahun setelah Starbucks melakukan pengurangan jaringan gerai sekitar 1 persen dalam rangka restrukturisasi.
Gerai yang Bertahan Akan Direnovasi
Starbucks tidak hanya mengurangi jumlah gerai. Perusahaan juga mempercepat renovasi pada lokasi yang tetap beroperasi di AS dan Kanada.
Melalui program tersebut, Starbucks akan mengembalikan sejumlah kursi dan menciptakan suasana kafe yang lebih nyaman bagi pelanggan.
Perusahaan menargetkan sedikitnya 1.500 gerai mendapatkan pembaruan atau “uplifts” hingga akhir tahun fiskal 2026.
Program renovasi tersebut akan berlanjut pada tahun fiskal 2027. Starbucks juga menyiapkan pusat teknologi di India yang rencananya mulai beroperasi tahun depan.
Penjualan Gerai Starbucks Mulai Tumbuh
Di tengah penataan jaringan gerai, kinerja penjualan Starbucks menunjukkan perkembangan positif.
Pada kuartal III, penjualan gerai yang sama atau same-store sales tumbuh 7,9 persen. Capaian tersebut melampaui perkiraan Wall Street sebesar 5,7 persen berdasarkan data Bloomberg.
Pertumbuhan itu juga lebih tinggi dibandingkan kuartal II yang mencapai 6,2 persen.
Sebaliknya, pada kuartal III tahun sebelumnya, same-store sales Starbucks justru mengalami penurunan 2 persen.
Analis William Blair Sharon Zackfia menilai pengurangan gerai dapat memberikan dampak positif secara moderat terhadap pertumbuhan penjualan gerai yang sama.
Meski penjualan mulai membaik, kinerja saham Starbucks masih tertinggal dari indeks S&P 500 dalam setahun terakhir. Saham Starbucks naik sekitar 10 persen, sedangkan S&P 500 mencatat kenaikan 15 persen.
Dengan penutupan 250 gerai dan percepatan renovasi, Starbucks kini fokus menata kembali jaringan tokonya sekaligus memperbaiki pengalaman pelanggan di lokasi yang tetap beroperasi. (de*)









