Iran Eksekusi Ali-Sina Mostafavi, Dituduh Terlibat Serangan Bersenjata untuk Israel

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 14 Oktober 2026 - 22:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baliho bergambar mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri) dan yang baru saja meninggal Ayatollah Ali Khamenei (kanan) dipasang di Teheran, Iran, 8 Juni 2026.(AFP/ATTA KENARE)

Baliho bergambar mantan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini (kiri) dan yang baru saja meninggal Ayatollah Ali Khamenei (kanan) dipasang di Teheran, Iran, 8 Juni 2026.(AFP/ATTA KENARE)

Teheran, APGtimes.com – Iran menjatuhkan hukuman mati terhadap Ali-Sina Mostafavi pada Rabu (14/10/2026). Pemerintah Iran menuduh pria tersebut terlibat dalam serangkaian serangan bersenjata yang diklaim bertujuan membantu Israel. Media pemerintah melaporkan, eksekusi berlangsung setelah pengadilan menyatakan Mostafavi bersalah atas tuduhan terorisme.

Pihak kehakiman Iran menyebut Mostafavi sebagai teroris bersenjata yang menjadi agen Amerika Serikat dan Israel selama perang. Namun, otoritas tidak mengungkapkan waktu penangkapan maupun menjelaskan secara terperinci proses persidangannya.

Iran Tuduh Mostafavi Terlibat Serangan di Kerman

Dalam pernyataan resminya, pihak kehakiman menuding Mostafavi terlibat dalam sejumlah serangan bersenjata di Kota Kerman, wilayah tenggara Iran. Serangkaian serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sejumlah warga sipil mengalami luka-luka.

Selain tuduhan terorisme, aparat Iran juga menjerat Mostafavi dengan dakwaan moharebeh. Istilah hukum tersebut merujuk pada tindakan memerangi Tuhan dalam sistem hukum Iran. Pelanggaran ini termasuk kategori serius yang dapat berujung pada hukuman mati.

Baca Juga :  Uni Eropa Selidiki Facebook dan Instagram soal Dugaan Dark Patterns

Otoritas Iran turut menuduh Mostafavi menjalin komunikasi dengan media yang mereka anggap bermusuhan dan berafiliasi dengan Israel. Mereka juga mengaitkannya dengan gerakan monarkis Iran di pengasingan yang dipimpin Reza Pahlavi.

Pahlavi merupakan putra Shah terakhir Iran yang kehilangan kekuasaan setelah Revolusi Islam pada 1979. Saat ini, ia tinggal di Amerika Serikat dan kerap menyerukan penggulingan pemerintahan Iran.

Meski demikian, informasi yang dipublikasikan otoritas Iran belum menguraikan bukti secara terperinci untuk mendukung seluruh tuduhan tersebut. Laporan yang tersedia juga tidak menjelaskan tahapan persidangan ataupun tanggapan dari pihak yang membela Mostafavi.

Eksekusi Berlangsung di Tengah Perang Iran

Pelaksanaan hukuman mati terhadap Mostafavi terjadi ketika Iran meningkatkan eksekusi di tengah konflik dengan Israel dan Amerika Serikat.

Baca Juga :  63 Orang Tewas dalam 24 Jam, Arab Saudi Gempur 130 Target Houthi di Yaman

Perang tersebut bermula pada akhir Februari 2026, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan itu memicu konflik yang meluas di Timur Tengah dan telah menewaskan ribuan orang, menurut laporan yang menjadi sumber berita ini.

Di tengah situasi tersebut, pemerintah Iran menindak orang-orang yang mereka tuduh terlibat dalam kegiatan yang mengancam keamanan negara atau membantu pihak lawan.

Kasus Mostafavi kembali menyoroti penggunaan hukuman mati di Iran selama masa konflik. Namun, tanpa informasi lebih lengkap mengenai proses peradilan dan bukti yang diajukan, sejumlah aspek hukum dalam kasus tersebut masih belum terungkap secara terbuka. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target
Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot
Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi
Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral
Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia
Macron Tegaskan Sikap Tegas Usai Demo Ricuh di Prancis, Pelaku Penjarahan Bakal Ditindak
Demo Ricuh di Perancis dan Italia, Kemlu Imbau WNI Waspadai Situasi Keamanan
Putin Setujui Usulan Perombakan Kabinet Rusia, Menteri Keuangan Diusulkan Jadi Wakil PM
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:09 WIB

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB