Pihak kehakiman Iran menyebut Mostafavi sebagai teroris bersenjata yang menjadi agen Amerika Serikat dan Israel selama perang. Namun, otoritas tidak mengungkapkan waktu penangkapan maupun menjelaskan secara terperinci proses persidangannya.
Iran Tuduh Mostafavi Terlibat Serangan di Kerman
Dalam pernyataan resminya, pihak kehakiman menuding Mostafavi terlibat dalam sejumlah serangan bersenjata di Kota Kerman, wilayah tenggara Iran. Serangkaian serangan tersebut dilaporkan menyebabkan sejumlah warga sipil mengalami luka-luka.
Selain tuduhan terorisme, aparat Iran juga menjerat Mostafavi dengan dakwaan moharebeh. Istilah hukum tersebut merujuk pada tindakan memerangi Tuhan dalam sistem hukum Iran. Pelanggaran ini termasuk kategori serius yang dapat berujung pada hukuman mati.
Otoritas Iran turut menuduh Mostafavi menjalin komunikasi dengan media yang mereka anggap bermusuhan dan berafiliasi dengan Israel. Mereka juga mengaitkannya dengan gerakan monarkis Iran di pengasingan yang dipimpin Reza Pahlavi.
Pahlavi merupakan putra Shah terakhir Iran yang kehilangan kekuasaan setelah Revolusi Islam pada 1979. Saat ini, ia tinggal di Amerika Serikat dan kerap menyerukan penggulingan pemerintahan Iran.
Meski demikian, informasi yang dipublikasikan otoritas Iran belum menguraikan bukti secara terperinci untuk mendukung seluruh tuduhan tersebut. Laporan yang tersedia juga tidak menjelaskan tahapan persidangan ataupun tanggapan dari pihak yang membela Mostafavi.
Eksekusi Berlangsung di Tengah Perang Iran
Pelaksanaan hukuman mati terhadap Mostafavi terjadi ketika Iran meningkatkan eksekusi di tengah konflik dengan Israel dan Amerika Serikat.
Perang tersebut bermula pada akhir Februari 2026, ketika Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan gabungan terhadap Iran. Serangan itu memicu konflik yang meluas di Timur Tengah dan telah menewaskan ribuan orang, menurut laporan yang menjadi sumber berita ini.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah Iran menindak orang-orang yang mereka tuduh terlibat dalam kegiatan yang mengancam keamanan negara atau membantu pihak lawan.
Kasus Mostafavi kembali menyoroti penggunaan hukuman mati di Iran selama masa konflik. Namun, tanpa informasi lebih lengkap mengenai proses peradilan dan bukti yang diajukan, sejumlah aspek hukum dalam kasus tersebut masih belum terungkap secara terbuka. (de*)









