Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Kemenhub, Capt. Budi Mantoro, menjelaskan penyebab mahalnya harga barang di wilayah tersebut. Menurutnya, jarak pengiriman, akses transportasi, dan keterbatasan angkutan komersial menjadi kendala utama.
Karena itu, pemerintah memperkuat layanan pelayaran perintis. Layanan ini membantu masyarakat di daerah yang belum terjangkau angkutan komersial secara optimal.
“Keberadaan Pelayaran-Perintis menjadi bagian penting dalam memastikan akses transportasi laut tetap tersedia bagi masyarakat di wilayah yang belum dilayani secara optimal oleh angkutan komersial,” kata Budi di Jakarta, Selasa (13/10/2026).
Harga Beras di Papua Lebih Mahal
Data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia menunjukkan kesenjangan harga kebutuhan pokok. Harga sejumlah komoditas di Papua masih melampaui rata-rata nasional.
Pada 9 Oktober 2026, harga beras medium I di Papua mencapai Rp19.550 per kilogram. Sementara itu, rata-rata nasional berada di angka Rp16.650 per kilogram. Dengan demikian, selisih harganya mencapai Rp2.900 per kilogram atau sekitar 17,4 persen.
Perbedaan harga juga terlihat di dalam Papua. Pada 8 Oktober 2026, harga beras medium I di Kabupaten Jayawijaya mencapai Rp25.100 per kilogram. Sebaliknya, Kabupaten Merauke mencatat harga Rp16.000 per kilogram.
Kedua wilayah tersebut memiliki selisih harga Rp9.100 per kilogram. Artinya, harga beras di Jayawijaya sekitar 56,9 persen lebih tinggi daripada di Merauke.
Kondisi serupa terjadi pada minyak goreng kemasan bermerek. PIHPS mencatat harga komoditas ini di Papua mencapai Rp26.700 per kilogram pada 9 Oktober 2026. Adapun rata-rata nasionalnya sebesar Rp23.600 per kilogram.
Jadi, harga minyak goreng di Papua lebih tinggi Rp3.100 per kilogram atau sekitar 13,1 persen. Bahkan, harga di Kabupaten Jayawijaya mencapai Rp31.600 per kilogram berdasarkan data 8 Oktober 2026.
Perbedaan tersebut menunjukkan tantangan masyarakat dalam memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Oleh sebab itu, kelancaran distribusi menjadi faktor penting untuk mengurangi kesenjangan harga.
Tol Laut Layani 100 Pelabuhan
Kemenhub mendorong penguatan konektivitas penumpang dan logistik secara bersamaan. Langkah ini diharapkan menjaga pasokan barang sekaligus menekan disparitas harga antarwilayah.
Budi menegaskan bahwa distribusi yang efektif dapat mempermudah masyarakat memperoleh kebutuhan pokok.
“Penguatan konektivitas penumpang harus berjalan beriringan dengan penguatan konektivitas logistik. Dengan distribusi barang yang semakin efektif, kita berharap ketersediaan kebutuhan masyarakat dapat terjaga dan disparitas harga antarwilayah dapat ditekan,” ujar Budi.
Pada semester I-2026, angkutan barang perintis atau Tol Laut mencatat 557 pelayaran. Layanan tersebut menjangkau 100 pelabuhan di wilayah barat hingga timur Indonesia.
Melalui program ini, Kemenhub berupaya memperkuat jaringan logistik nasional. Dengan begitu, pemerintah berharap pengiriman barang semakin lancar dan pasokan kebutuhan pokok tetap terjaga. Selain itu, konektivitas laut diharapkan membantu menekan kesenjangan harga di wilayah 3TP. (de*)









