Jakarta, APGtimes.com — Google mulai menguji satelit pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa melalui proyek bernama Suncatcher. Satelit tersebut kini aktif menjalankan pengujian dan mampu berkomunikasi dengan Bumi.
Dalam uji coba awal, Suncatcher tidak hanya menjalankan komputasi AI. Satelit itu juga berhasil menghasilkan puisi dari orbit menggunakan model Gemma 4 buatan Google DeepMind.
Para insinyur Google meminta Gemma 4 membuat puisi tentang keberadaannya di luar angkasa. Model AI tersebut kemudian menghasilkan bait yang menggambarkan Bumi, aliran data, dan energi dari cahaya bintang.
“Blue marble below. Data streams in silent grace. Starlight feeds my core (Bola biru di bawah sana. Aliran data dalam keheningan yang anggun. Cahaya bintang memberi energi padaku),” demikian puisi yang dihasilkan Gemma 4.
Google meluncurkan Suncatcher pada awal November 2026 menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Peluncuran tersebut membawa lebih dari 100 wahana antariksa lainnya.
Suncatcher Dibekali Empat Chip AI Google
Suncatcher membawa empat unit Tensor Processing Unit (TPU), yaitu chip khusus buatan Google untuk menjalankan komputasi AI.
Google merancang satelit tersebut agar mampu menghasilkan listrik hingga 1 kilowatt (kW). Namun, keterbatasan pasokan daya membuat satelit belum bisa mengoperasikan seluruh chip TPU secara bersamaan.
Saat ini, satu unit TPU hanya dapat bekerja sekitar 20 menit dalam satu sesi. Karena itu, Google masih menguji kemampuan komputasi sekaligus efisiensi energi satelit.
Selain menulis puisi, Gemma 4 juga menerima tugas membuat puisi limerick bertema luar angkasa. Google turut meminta model tersebut melaporkan kondisi orbit di sekitar satelit.
Juru bicara Google menyatakan bahwa Suncatcher beroperasi sesuai rencana.
Google Uji Ketahanan Chip TPU terhadap Radiasi
Pengoperasian Suncatcher juga menjadi kesempatan bagi Google untuk menguji ketahanan chip TPU di lingkungan luar angkasa.
Google ingin mengetahui kemampuan perangkat keras dan prosesor mereka saat menghadapi suhu ekstrem serta paparan radiasi. Kedua faktor tersebut dapat memengaruhi kinerja komputer dan keandalan data.
Salah satu risiko radiasi adalah fenomena bit flip. Kondisi ini terjadi ketika radiasi mengubah nilai bit yang tersimpan dalam memori komputer.
Perubahan tersebut berpotensi merusak data tanpa langsung terdeteksi sistem pemantauan standar. Oleh sebab itu, perangkat komputasi membutuhkan perlindungan khusus agar tetap bekerja secara akurat.
Sebelumnya, Google menguji ketahanan TPU menggunakan akselerator partikel di Bumi. Hasil pengujian menunjukkan bahwa radiasi kemungkinan hanya memberikan dampak relatif kecil terhadap beban kerja inferensi AI.
Namun, radiasi berpotensi menimbulkan persoalan lebih serius ketika chip menjalankan pelatihan model AI. Melalui Suncatcher, Google ingin mengamati dampak radiasi secara langsung dalam kondisi luar angkasa.
Jika pengujian berjalan baik, Google berencana meluncurkan dua satelit tambahan pada 2027. Kedua wahana itu akan membawa chip TPU yang lebih canggih dan memiliki kapasitas pembangkitan listrik lebih besar.
Google juga akan menguji teknologi komunikasi optik antarsatelit dalam tahap berikutnya.
Google Bidik Pusat Data AI di Orbit
Proyek Suncatcher menjadi bagian dari rencana jangka panjang Google untuk membangun infrastruktur komputasi AI di luar angkasa.
Google ingin membentuk jaringan satelit yang terbang berdekatan dan saling terhubung melalui komunikasi berkecepatan tinggi. Dengan sistem tersebut, sejumlah satelit dapat bekerja sebagai satu pusat komputasi terdistribusi.
Artinya, satu satelit tidak harus menangani seluruh beban kerja AI. Sebaliknya, jaringan dapat membagi tugas komputasi ke beberapa wahana antariksa sekaligus.
Google memperkirakan infrastruktur pusat data luar angkasa baru memiliki nilai ekonomis pada dekade 2030-an. Perusahaan masih perlu mengatasi berbagai tantangan, terutama kapasitas energi, komunikasi, dan ketahanan perangkat.
Google dan SpaceX Punya Kepentingan Bersama
Pengembangan pusat data di orbit juga berkaitan dengan kemampuan SpaceX mengangkut infrastruktur berukuran besar ke luar angkasa.
Alphabet, perusahaan induk Google, diketahui memiliki investasi signifikan di SpaceX. Selain itu, kedua perusahaan mengandalkan Starship, roket berkapasitas angkut besar milik SpaceX, untuk mendukung rencana pembangunan pusat data di orbit.
Jika teknologi tersebut berhasil, jaringan satelit Suncatcher berpotensi membuka pendekatan baru dalam penyediaan daya komputasi AI.
Meski demikian, Google masih harus membuktikan bahwa sistem tersebut mampu bekerja secara stabil dan ekonomis dalam jangka panjang. (aw*)









