IMF Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Angin Segar, Tapi Risiko Global Belum Hilang

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026 - 14:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Baliho di bangunan Lapangan Valiasr, Teheran, Iran, menggambarkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Selat Hormuz, ketika difoto pada 2 Mei 2026. (AFP)

Baliho di bangunan Lapangan Valiasr, Teheran, Iran, menggambarkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Selat Hormuz, ketika difoto pada 2 Mei 2026. (AFP)

Jakarta, APGtimes.com – Dana Moneter Internasional (IMF) menilai gencatan senjata di Timur Tengah dan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi kabar positif bagi perekonomian global. Namun, lembaga tersebut mengingatkan proses normalisasi belum akan berlangsung dalam waktu singkat karena sejumlah risiko masih membayangi.

Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran sejak 28 Februari 2026 sempat mengguncang ekonomi dunia. Perang tersebut menghambat aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak global.

Gangguan tersebut mendorong kenaikan harga minyak, gas alam, pupuk, hingga biaya pengiriman internasional.

IMF Nilai Kondisi Mulai Membaik

Direktur Departemen Komunikasi IMF, Julie Kozack, mengatakan penghentian konflik dan pembukaan kembali Selat Hormuz menjadi perkembangan yang mendukung stabilitas ekonomi global.

Meski demikian, IMF tetap mencermati berbagai risiko yang masih berpotensi menghambat proses pemulihan ekonomi dunia.

Baca Juga :  Kenapa Harga Emas Bisa Naik Turun? Ini Prediksi Terbarunya

Selain itu, IMF terus mengevaluasi dampak konflik terhadap harga komoditas, inflasi global, serta kondisi pasar keuangan internasional.

Harga Minyak dan Pupuk Mulai Turun

IMF mencatat harga minyak dunia mulai turun dari level tertingginya selama perang berlangsung.

Meski demikian, harga minyak masih berada sekitar 10 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik pecah.

Selain minyak, harga gas alam, logam dasar, urea, dan sejumlah komoditas pupuk juga mulai menurun.

Penurunan tersebut menunjukkan tekanan terhadap pasar komoditas mulai berkurang meskipun proses pemulihan belum sepenuhnya selesai.

Pemulihan Belum Berlangsung Cepat

Julie Kozack menjelaskan arus perdagangan internasional masih membutuhkan waktu untuk kembali normal.

Kapal-kapal yang sempat tertahan di sekitar Selat Hormuz masih harus menyelesaikan perjalanan, membongkar muatan, hingga mendistribusikan barang ke berbagai negara.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu

Karena itu, IMF menilai proses normalisasi rantai pasok global belum akan selesai dalam waktu dekat.

Negara Pengimpor Energi Masih Rentan

IMF juga mengingatkan negara-negara pengimpor energi tetap menghadapi risiko paling besar apabila konflik kembali meningkat.

Menurut Julie Kozack, negara yang memiliki ruang fiskal terbatas dan cadangan energi minim akan merasakan dampak paling berat jika harga energi kembali melonjak.

Di sisi lain, IMF menilai kondisi keuangan global masih relatif stabil. Banyak negara masih memperoleh akses pendanaan internasional dengan biaya yang tetap kompetitif.

Selain itu, IMF meminta bank-bank sentral di berbagai negara terus mewaspadai potensi kenaikan inflasi apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu
Pedagang Pasar Aur Duri Jambi Mulai Ramai Gunakan QRIS BRI, Pembeli Makin Praktis
Rupiah dan IHSG Kompak Anjlok di Awal Perdagangan, Bursa Merah di Seluruh Sektor
Rupiah Menguat ke Rp17.873 per Dolar AS, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia
Harga Emas Jambi Hari Ini 29 Juni 2026, Antam Turun Rp15.000 per Gram
OJK Beberkan Kondisi Terbaru Perbankan Indonesia, Likuiditas Masih Kuat Meski Ekonomi Global Bergejolak
Harga Emas Jambi Hari Ini Bertahan, Antam Naik Jadi Rp2,66 Juta per Gram
Rupiah Menguat ke Rp17.922 per Dollar AS, Pasar Sambut Positif Efisiensi Anggaran MBG
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:09 WIB

Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:09 WIB

Pedagang Pasar Aur Duri Jambi Mulai Ramai Gunakan QRIS BRI, Pembeli Makin Praktis

Selasa, 30 Juni 2026 - 11:09 WIB

Rupiah dan IHSG Kompak Anjlok di Awal Perdagangan, Bursa Merah di Seluruh Sektor

Senin, 29 Juni 2026 - 14:09 WIB

IMF Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Angin Segar, Tapi Risiko Global Belum Hilang

Senin, 29 Juni 2026 - 13:09 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.873 per Dolar AS, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia

Berita Terbaru