Kemenkes Catat 277.075 Kasus ISPA akibat Karhutla, 62.400 Menyerang Balita

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 15 Oktober 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti kota Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (8/10/2026).(KOMPAS.COM/AJI YK PUTRA)

Kondisi kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti kota Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (8/10/2026).(KOMPAS.COM/AJI YK PUTRA)

Jakarta, APGtimes.com – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 63 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau sekitar 22,5 persen menyerang anak berusia 0–5 tahun.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, menyampaikan data tersebut berdasarkan catatan kumulatif hingga 12 Oktober 2026.

“Data Kemenkes per 12 Oktober 2026 mencatat 277.075 kasus ISPA secara kumulatif di 63 kabupaten atau kota pada tujuh provinsi terdampak, termasuk 62.400 kasus atau 22,5 persen pada anak usia 0–5 tahun,” ujar Aji dalam keterangan yang diterima Kompas.com, Kamis (15/10/2026).

Kemenkes terus memantau perkembangan kasus tersebut untuk mendeteksi potensi lonjakan pasien dan memperkuat penanganan kesehatan di wilayah terdampak.

Asap Karhutla Ancam Kesehatan Pernapasan

Aji menjelaskan, asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 serta berbagai zat berbahaya yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Paparan asap berisiko memicu ISPA, batuk, dan sesak napas, sekaligus memperburuk kondisi penderita asma.

Baca Juga :  Banjir Bandang Solok Rendam Perkantoran, Pemkab Siapkan Wacana Relokasi

Bayi, balita, ibu hamil, lanjut usia, serta orang dengan penyakit paru kronis termasuk kelompok yang paling rentan terhadap paparan partikel tersebut.

Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan gejala gangguan pernapasan, terutama pada anak-anak. Aji meminta orang tua segera membawa anak ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, bernapas lebih cepat dari biasanya, atau kesulitan menyusu dan minum.

“Jika anak mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum, segera bawa ke fasilitas kesehatan,” kata Aji.

Kemenkes juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan nebulizer secara mandiri tanpa indikasi yang jelas. Penggunaan alat tersebut harus mengikuti petunjuk dan rekomendasi tenaga medis.

Kemenkes Imbau Warga Gunakan Masker

Selain mewaspadai gejala penyakit, masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Langkah ini dapat membantu mengurangi paparan partikel halus dari asap kebakaran.

Jika harus beraktivitas di luar rumah, masyarakat disarankan memakai respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat pada wajah. Jenis masker tersebut dapat membantu menyaring partikel halus di udara.

Apabila tidak memiliki masker N95 atau KN95, masyarakat dapat menggunakan masker medis atau mengenakan masker secara berlapis sebagai alternatif. Namun, perlindungan masker alternatif tersebut tidak selalu setara dengan respirator yang terpasang dengan baik.

Baca Juga :  ICW Catat 56 Kasus Korupsi Kehutanan, Kerugian Negara Rp4,8 Triliun

Kemenkes mengimbau warga tetap mengikuti informasi kualitas udara dan arahan petugas kesehatan selama kabut asap masih mengancam wilayah tempat tinggal mereka.

Ribuan Tenaga Kesehatan Dikerahkan

Di tengah meningkatnya kasus ISPA, pemerintah juga mengerahkan tenaga kesehatan dan menyalurkan perlengkapan pelindung bagi masyarakat terdampak.

Berdasarkan laporan hingga 12 Oktober 2026, sebanyak 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan telah dimobilisasi untuk mendukung penanganan dampak karhutla.

Pemerintah pusat dan daerah juga mendistribusikan lebih dari 2,8 juta masker dari berbagai sumber logistik. Dukungan tersebut diharapkan membantu masyarakat mengurangi paparan asap sekaligus memperkuat layanan kesehatan di daerah terdampak.

Kemenkes terus memantau perkembangan kasus ISPA dan mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan. Kewaspadaan terutama perlu ditingkatkan bagi anak-anak dan kelompok rentan lainnya selama kebakaran hutan dan lahan masih berdampak pada kualitas udara. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Indonesia, Qatar, Turki, dan Pakistan Teken Project Badr, Bidik Industri Pertahanan
Pemerintah Kucurkan Rp 1,235 Triliun untuk Atasi Karhutla di 7 Provinsi
Ferry Juliantono Tawarkan Kopdes Merah Putih Salurkan Gaji ASN, Ini Respons MenPAN-RB
Bahlil Pertimbangkan Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga, Utamakan Kebutuhan RI
BGN Kembalikan Rp 160,37 Miliar ke Kas Negara, 75 SPPG Punya VA Ganda
KPK Tolak Usulan Luhut Hapus Unsur Kerugian Negara dalam Kasus Korupsi
Prabowo Ancam Cabut Izin Perusahaan Pembakar Hutan, 32 Konsesi Kena Sanksi
Ahli UGM Ungkap Tanggung Jawab Pimpinan atas Penugasan Staf Khusus
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Indonesia, Qatar, Turki, dan Pakistan Teken Project Badr, Bidik Industri Pertahanan

Kamis, 22 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Pemerintah Kucurkan Rp 1,235 Triliun untuk Atasi Karhutla di 7 Provinsi

Kamis, 22 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Ferry Juliantono Tawarkan Kopdes Merah Putih Salurkan Gaji ASN, Ini Respons MenPAN-RB

Kamis, 22 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Bahlil Pertimbangkan Setop Ekspor Gas ke Negara Tetangga, Utamakan Kebutuhan RI

Kamis, 22 Oktober 2026 - 10:09 WIB

BGN Kembalikan Rp 160,37 Miliar ke Kas Negara, 75 SPPG Punya VA Ganda

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB