Malaysia Pulangkan 1.476 Warga Myanmar, PBB Soroti Risiko Keamanan di Negara Asal

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 30 September 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bus mengangkut warga negara Myanmar yang direpatriasi dari Malaysia, saat menuju pangkalan Angkatan Laut Lumut di pinggiran Kuala Lumpur, Selasa (29/9/2026).(AFP/ARIF KARTONO)

Bus mengangkut warga negara Myanmar yang direpatriasi dari Malaysia, saat menuju pangkalan Angkatan Laut Lumut di pinggiran Kuala Lumpur, Selasa (29/9/2026).(AFP/ARIF KARTONO)

Kuala Lumpur, APGtimes.com – Malaysia mulai memulangkan 1.476 warga negara Myanmar pada Selasa (29/9/2026). Pemerintah Malaysia menyebut program tersebut sebagai repatriasi sukarela dan menargetkan hingga 5.000 warga Myanmar dalam beberapa tahap.

Namun, langkah tersebut memicu perhatian dari UNHCR dan organisasi hak asasi manusia. UNHCR menyatakan kondisi Myanmar saat ini belum memungkinkan pemulangan yang aman, bermartabat, dan berkelanjutan karena konflik bersenjata serta kekerasan masih berlangsung.

1.476 warga Myanmar mulai dipulangkan

Pemerintah Malaysia mengirim kelompok pertama dari program repatriasi melalui kawasan Manjung, Perak. Puluhan bus membawa para warga Myanmar menuju area dekat Pangkalan Angkatan Laut Lumut dengan pengawalan aparat.

Menurut laporan Reuters, kelompok pertama terdiri atas 1.370 laki-laki, 79 perempuan, 20 anak laki-laki, dan tujuh anak perempuan. Pemerintah Malaysia mengatakan pihak Myanmar menyerahkan daftar orang yang akan mengikuti program tersebut.

Setelah proses administrasi selesai, tiga kapal milik Angkatan Laut Myanmar berangkat dari Pangkalan Angkatan Laut Lumut. Armada tersebut mencakup kapal pendukung, kapal rumah sakit Than Lwin, serta kapal pendarat amfibi Moattama.

Baca Juga :  FIFA Mau Jual Saham Piala Dunia? UEFA Langsung Bereaksi Keras

Pemerintah Malaysia sebut ada beban finansial

Kementerian Dalam Negeri Malaysia menyatakan program repatriasi bertujuan menyelesaikan persoalan pencari suaka yang telah berlangsung lama.

Pemerintah Malaysia juga menyebut keberadaan pencari suaka menimbulkan beban keuangan, persoalan sosial, serta kekhawatiran keamanan. Malaysia sendiri tidak meratifikasi Konvensi Pengungsi 1951 dan tidak memberikan status pengungsi secara resmi.

Di sisi lain, pemerintah Malaysia menyatakan proses tersebut tetap mengedepankan pendekatan yang tertib, bertanggung jawab, dan manusiawi.

UNHCR soroti kondisi Myanmar

UNHCR menegaskan bahwa lembaganya tidak terlibat dalam proses repatriasi Malaysia. Pada 29 September, UNHCR kembali menyampaikan kekhawatiran mengenai rencana pemulangan tersebut.

Menurut UNHCR, konflik bersenjata dan pelanggaran hak asasi manusia masih terjadi di berbagai wilayah Myanmar. Karena itu, kondisi saat ini belum mendukung kepulangan yang aman dan berkelanjutan.

Lembaga investigasi independen PBB untuk Myanmar juga menyampaikan penilaian serupa. Mereka menyebut situasi di Negara Bagian Rakhine masih sangat berbahaya akibat konflik, serangan udara, penembakan artileri, penahanan sewenang-wenang, penyiksaan, serta kekerasan lainnya.

Baca Juga :  Polda Jatim Bongkar Penyelundupan 53 Gading Gajah, Dititipkan di Koper Jemaah Umrah

Rencana repatriasi mencapai 5.000 orang

Malaysia sebelumnya menyampaikan rencana memulangkan sekitar 5.000 warga Myanmar secara bertahap. Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim juga menyatakan Myanmar bersedia menerima kembali warga yang berada di Malaysia.

Program tersebut muncul ketika sentimen anti-migran di Malaysia meningkat. Pemerintah Malaysia dalam beberapa tahun terakhir memperketat kebijakan terhadap migran dan pencari suaka.

Sementara itu, sejumlah organisasi masyarakat sipil sebelumnya meminta Malaysia menghentikan rencana pemulangan warga Rohingya karena mereka berisiko menghadapi kekerasan dan perekrutan paksa setelah kembali ke Myanmar.

Situasi keamanan Myanmar juga kembali mendapat sorotan pada pekan yang sama. PBB menyatakan serangan udara di Kyauktaw, Negara Bagian Rakhine, menewaskan puluhan orang dan menegaskan bahwa kondisi di wilayah tersebut belum aman bagi kepulangan pengungsi maupun warga yang terlantar. (aw*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Arab Saudi Gempur Houthi, Operasi Rebut Mokha Mengancam Jalur Strategis Bab El-Mandeb
Tabung Bakteri Pes Pecah di Rusia, Pekerja Laboratorium Meninggal
G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Minyak, Pasokan Solar Jadi Prioritas
Rusia Ancam Gunakan Senjata Nuklir jika NATO Blokade Kaliningrad
Biaya Izin Tinggal Permanen Jepang Naik 20 Kali Lipat Jadi Rp22,7 Juta
Kim Jong Un Disebut Berbobot 140 Kg, Intelijen Korsel Ungkap Kondisi Kesehatannya
FBI Kebobolan Data, ShinyHunters Klaim Curi Informasi Sensitif Ribuan Pegawai
Enam Warga Singapura Didakwa Usai Aksi Dukung Penghapusan Hukuman Mati
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 6 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Tabung Bakteri Pes Pecah di Rusia, Pekerja Laboratorium Meninggal

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 18:09 WIB

G7 Sepakat Lepas 100 Juta Barel Minyak, Pasokan Solar Jadi Prioritas

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Rusia Ancam Gunakan Senjata Nuklir jika NATO Blokade Kaliningrad

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:09 WIB

Biaya Izin Tinggal Permanen Jepang Naik 20 Kali Lipat Jadi Rp22,7 Juta

Kamis, 1 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Kim Jong Un Disebut Berbobot 140 Kg, Intelijen Korsel Ungkap Kondisi Kesehatannya

Berita Terbaru