Stok Rudal AS Menipis Akibat Perang Iran, Rusia dan China Jadi Sorotan

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Skuadron Ke-77 yang bermarkas di Pangkalan Shaw, South Carolina, mengisi bahan bakar dalam misi NORAD Operation Noble Eagle di atas New York City, Amerika Serikat, 24 September 2003.(US AIR FORCE/AARON D ALLMON II via AFP)

Jet tempur F-16 Fighting Falcon dari Skuadron Ke-77 yang bermarkas di Pangkalan Shaw, South Carolina, mengisi bahan bakar dalam misi NORAD Operation Noble Eagle di atas New York City, Amerika Serikat, 24 September 2003.(US AIR FORCE/AARON D ALLMON II via AFP)

Washington, APGtimes.com – Perang Amerika Serikat melawan Iran mulai menimbulkan kekhawatiran baru terkait ketersediaan amunisi militer AS. Konflik yang berlangsung sekitar lima bulan telah menghabiskan banyak rudal presisi dan sistem pertahanan udara.

Reuters melaporkan pada 4 Agustus 2026 bahwa militer AS telah menggunakan hampir seluruh persediaan rudal jarak jauh tertentu, termasuk Army Tactical Missile Systems atau ATACMS dan Precision Strike Missile atau PrSM. Rudal tersebut memiliki nilai jutaan dollar AS untuk setiap unit.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan tentang kemampuan Washington menghadapi konflik lain jika perang berlangsung lebih lama. Rusia dan China menjadi perhatian utama karena keduanya memiliki kemampuan militer yang dapat menantang kepentingan AS.

Rudal Presisi AS Mulai Menipis

ATACMS dan PrSM memiliki peran penting dalam operasi serangan jarak jauh. Militer AS menggunakan senjata tersebut untuk menyerang target dari jarak aman.

Laporan Reuters menyebut AS telah menggunakan sebagian besar stok rudal tersebut selama operasi di Iran. Sumber yang mengetahui kondisi persediaan bahkan menyebut penggunaan ATACMS dan PrSM sudah mendekati seluruh stok yang tersedia untuk operasi tersebut.

Penggunaan dalam jumlah besar membuat Pentagon harus memindahkan persediaan dari lokasi lain untuk memenuhi kebutuhan pasukan di Timur Tengah. Langkah tersebut berpotensi mengurangi fleksibilitas militer AS di kawasan lain.

Baca Juga :  UEA Bantah Laporan Pencairan Dana Rp355 Triliun untuk Iran di Tengah Pembicaraan Damai

Stok Patriot dan THAAD Ikut Tertekan

Rudal serang bukan satu-satunya persenjataan yang menghadapi tekanan. Sistem pertahanan udara Patriot dan THAAD juga mengalami penggunaan besar selama perang.

Analisis terbaru yang dikutip Associated Press menyebut persediaan pencegat Patriot turun sekitar 65 persen sejak perang dimulai. Stok THAAD juga turun sekitar 38 persen. Kondisi tersebut membuat Pentagon mendorong perusahaan pertahanan untuk mempercepat produksi.

Pentagon bahkan meminta perusahaan pertahanan menyerahkan rencana percepatan produksi. Pemerintah AS ingin industri pertahanan meningkatkan kapasitas agar militer dapat kembali membangun persediaan strategis.

Pentagon Dorong Produksi Senjata

Deputy Defense Secretary Steve Feinberg meminta perusahaan pertahanan bergerak lebih cepat dalam meningkatkan produksi. Pentagon memberikan waktu 21 hari kepada perusahaan terkait untuk menyerahkan rencana peningkatan produksi.

Masalahnya, industri pertahanan AS tidak bisa langsung mengganti seluruh amunisi yang telah digunakan. Proses produksi membutuhkan waktu karena perusahaan menghadapi keterbatasan kapasitas, rantai pasok, serta kebutuhan tenaga dan fasilitas produksi.

Kajian CSIS sebelumnya juga menunjukkan persoalan waktu produksi. Beberapa jenis rudal membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan persediaan ke tingkat sebelum perang.

Gedung Putih Bantah AS Kehabisan Senjata

Pemerintah AS membantah anggapan bahwa militer menghadapi kondisi kehabisan senjata. Presiden Donald Trump dan pejabat pemerintah tetap menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kemampuan militer yang memadai untuk menjalankan operasi.

Baca Juga :  Israel Perluas Serangan Darat ke Lebanon, Dunia Internasional Ramai-Ramai Mengecam

Perdebatan tersebut muncul karena laporan mengenai penurunan stok tidak selalu menggambarkan seluruh persediaan militer AS. Pentagon masih memiliki sejumlah sistem senjata dan terus menerima produksi baru dari industri pertahanan.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah AS masih memiliki rudal. Tantangan utamanya terletak pada kemampuan Washington mempertahankan persediaan dalam perang berkepanjangan sambil tetap menghadapi ancaman di kawasan lain.

Rusia dan China Berpotensi Memanfaatkan Situasi

Penurunan stok amunisi dapat memengaruhi perhitungan strategis Rusia dan China. Kedua negara tentu memperhatikan kemampuan AS mempertahankan operasi militer di beberapa kawasan sekaligus.

Analis pertahanan menilai kondisi tersebut dapat menguji kemampuan Washington menjaga daya tangkal terhadap negara lain. Risiko tersebut semakin besar jika konflik Iran terus menyerap rudal presisi dan pencegat pertahanan udara dalam jumlah besar.

Namun, kondisi itu tidak otomatis berarti Rusia atau China akan mengambil tindakan militer. Pengaruhnya lebih terlihat pada perhitungan strategis dan kemampuan AS menjaga kesiapan menghadapi konflik baru.

Dengan perang Iran yang terus menekan persediaan amunisi, Pentagon kini menghadapi pekerjaan besar untuk mengisi kembali gudang senjata.

Washington harus menyeimbangkan kebutuhan operasi di Timur Tengah dengan kesiapan menghadapi potensi konflik di Eropa dan kawasan Indo-Pasifik. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu
Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja
Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang
Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?
Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, Hampir 1.500 Masih Hilang
Trump Klaim “Mission Accomplished” di Iran, Tapi Tujuan Perang AS Dipertanyakan
Iran Terancam Krisis, Harga BBM Bisa Naik hingga Rp 11.000 per Liter
4,3 Juta Mobil Listrik di China Direcall, Gagang Pintu Jadi Masalah
Berita ini 4 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 15:09 WIB

Banjir Bandang Nepal Tewaskan Ratusan Orang, Pemerintah Sebut Perubahan Iklim Jadi Pemicu

Selasa, 1 September 2026 - 19:09 WIB

Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja

Senin, 31 Agustus 2026 - 13:09 WIB

Profesor Malaysia Dipecat Usai Klaim Orang Melayu Kuno Bisa Terbang

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 14:09 WIB

Staf Trump Mulai Mundur Satu per Satu Jelang Pemilu Sela, Apa yang Terjadi?

Kamis, 27 Agustus 2026 - 17:09 WIB

Banjir Bandang Nepal-Tibet Tewaskan 165 Orang, Hampir 1.500 Masih Hilang

Berita Terbaru

Ilustrasi beli BBM bersubsidi pakai MyPertamina(Dok. Pertamina)

Otomotif

Pertamina Batalkan Rencana Wajib STNK Saat Beli BBM di SPBU

Jumat, 4 Sep 2026 - 18:09 WIB