IHSG Anjlok, Didik Rachbini Soroti Krisis Kepercayaan Investor di Pasar Modal RI

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi IHSG(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Ilustrasi IHSG(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Jakarta, APGtimes.com – Tekanan di pasar saham Indonesia mencerminkan persoalan yang lebih luas daripada sekadar aktivitas perdagangan. Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menilai keraguan investor terhadap integritas pasar modal turut memperburuk kondisi tersebut.

Didik menegaskan bahwa pasar saham Indonesia membutuhkan langkah nyata untuk memulihkan kepercayaan investor. Menurutnya, transparansi, tata kelola yang kuat, dan penegakan aturan harus menjadi prioritas agar pasar modal nasional kembali menarik bagi investor global.

Ia menyampaikan pandangan tersebut dalam keterangan yang diterima pada Jumat (16/10/2026). Didik menilai pemulihan kepercayaan menjadi kunci bagi Indonesia untuk membangun pasar modal modern yang mampu bersaing di tingkat internasional.

Integritas Pasar Menjadi Sorotan Investor

Didik menilai penerbitan regulasi saja tidak cukup untuk memperbaiki kondisi pasar modal. Otoritas terkait perlu memastikan setiap aturan berjalan efektif dan menghasilkan perubahan nyata dalam praktik perdagangan.

Ia juga menyoroti keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham dan konsentrasi kepemilikan pada pihak tertentu. Selain itu, dugaan praktik perdagangan yang berpotensi mengganggu kewajaran pasar perlu mendapat pemeriksaan serius.

Baca Juga :  Harga Emas Pegadaian Hari Ini 28 September 2026, Antam 1 Gram Rp2,653 Juta

Menurut Didik, investor membutuhkan informasi yang jelas serta kepastian bahwa seluruh pelaku pasar mengikuti aturan yang sama. Karena itu, pemerintah dan otoritas pasar modal perlu menangani berbagai persoalan tersebut secara transparan.

OJK, BEI, dan KSEI Perlu Memperkuat Pengawasan

Didik mendorong Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) memperkuat koordinasi dalam mengawasi pasar saham.

Ketiga lembaga tersebut perlu meningkatkan keterbukaan data kepemilikan saham, memetakan konsentrasi kepemilikan yang ekstrem, serta menelusuri indikasi transaksi terkoordinasi.

Didik juga meminta otoritas terkait memeriksa setiap dugaan pelanggaran melalui proses yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Langkah ini penting untuk menjaga kewajaran perdagangan sekaligus memberikan perlindungan yang memadai kepada investor.

Ia menegaskan bahwa persoalan pasar saham Indonesia tidak hanya berkaitan dengan rendahnya porsi saham yang beredar di publik atau free float, maupun aksi jual. Menurutnya, kondisi tersebut juga menunjukkan keraguan investor internasional terhadap integritas pasar dan kinerja otoritas yang mengawasinya.

Baca Juga :  Dolar AS Sentuh Rp17.656, Usaha Tahu Kecil Mulai Kena Dampaknya

Tekanan Pasar Bisa Meningkatkan Biaya Modal

Didik mengingatkan bahwa kegagalan memulihkan kepercayaan investor dapat membawa dampak hingga ke sektor usaha. Ketika investor institusional mengurangi investasi di pasar saham Indonesia, perusahaan berpotensi menghadapi biaya modal yang lebih tinggi.

Kenaikan biaya modal dapat membatasi kemampuan perusahaan untuk mengembangkan usaha, memperluas produksi, dan mencari pendanaan bagi kegiatan bisnisnya. Akibatnya, pasar modal juga berisiko kehilangan peran penting dalam mendukung pembiayaan industri nasional.

Karena itu, Didik menilai otoritas perlu segera memperkuat transparansi, memperbaiki tata kelola, dan menjalankan pengawasan secara konsisten. Langkah tersebut dapat membantu membangun kembali keyakinan investor sekaligus menjaga daya saing pasar saham Indonesia.

Pemulihan kepercayaan tidak cukup mengandalkan kebijakan tertulis. OJK, BEI, dan KSEI perlu menunjukkan hasil nyata melalui pengawasan yang efektif, keterbukaan informasi, serta penanganan dugaan pelanggaran secara profesional. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB