IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi IHSG(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Ilustrasi IHSG(ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTA)

Jakarta, APGtimes.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan besar pada perdagangan Senin (19/10/2026). Setelah anjlok tajam pada akhir pekan lalu, indeks saham Indonesia kembali merosot lebih dari 5 persen pada awal perdagangan akibat aksi jual yang meluas di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Berdasarkan data BEI, IHSG berada di level 4.912,05 pada pukul 09.38 WIB. Angka tersebut turun 273,06 poin atau 5,27 persen dari penutupan sebelumnya di level 5.185,11.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG berada di level 4.961,88. Indeks sempat naik hingga 4.974,66, tetapi tekanan jual kemudian menyeretnya ke level terendah sementara 4.907,37.

Mayoritas Saham Mengalami Penurunan

Tekanan jual meluas ke hampir seluruh saham yang diperdagangkan di pasar domestik. Sebanyak 774 saham melemah, sedangkan hanya 33 saham menguat dan 156 saham tidak mengalami perubahan harga.

Kapitalisasi pasar tercatat sekitar Rp8.705 triliun. Sementara itu, volume perdagangan mencapai 11,67 miliar saham dengan nilai transaksi Rp6,506 triliun. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 463.400 kali.

Dominasi saham yang melemah menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya menyasar emiten tertentu, tetapi juga meluas ke berbagai kelompok saham.

Baca Juga :  Rupiah Bangkit ke Bawah Rp18.100 per Dollar AS, IHSG Menguat di Awal Perdagangan

Indeks Saham Unggulan Ikut Melemah

Koreksi IHSG turut menyeret sejumlah indeks saham lainnya. Indeks LQ45 yang mencakup 45 saham dengan likuiditas tinggi turun 5,85 persen ke level 478,82.

Indeks Kompas100 melemah 5,84 persen menjadi 619,48. Jakarta Islamic Index (JII) turun 5,66 persen ke level 284,40, sedangkan Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) terkoreksi 5,22 persen menjadi 170,05.

Indeks IDX30 juga merosot 5,79 persen ke level 267,24. Sementara itu, indeks JII70 turun 5,60 persen menjadi 111,64.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk BBCA, BBRI, BYAN, dan TLKM, turut membebani pergerakan IHSG. Pelemahan saham-saham tersebut memperbesar tekanan terhadap indeks utama pasar modal Indonesia.

Perubahan Klasifikasi MSCI Picu Kekhawatiran

Gejolak pasar saham Indonesia semakin tajam setelah IHSG anjlok 11,6 persen pada Jumat (16/10/2026). Penurunan tersebut menjadi salah satu koreksi harian terdalam dalam hampir 30 tahun terakhir.

Tekanan itu muncul setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.

Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi posisi Indonesia dalam peta investasi global. Selama ini, investor internasional menggunakan indeks pasar berkembang sebagai salah satu acuan untuk menentukan alokasi dana investasi.

Baca Juga :  IHSG Melemah, Purbaya Minta Investor Tak Panik dan Tetap Optimistis

Jika MSCI mengubah status Indonesia, investor yang mengikuti indeks pasar berkembang berpotensi menyesuaikan portofolio mereka. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran mengenai arus dana asing dan likuiditas pasar saham domestik.

Indonesia merupakan negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara. Jika berpindah ke kategori standalone market, Indonesia akan masuk ke kelompok pasar dengan klasifikasi berbeda dari negara berkembang dalam indeks MSCI.

Investor Perlu Mencermati Risiko Pasar

Pelemahan IHSG pada awal pekan menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih menghadapi tekanan besar. Ketidakpastian mengenai klasifikasi MSCI, aksi jual yang meluas, dan pelemahan saham berkapitalisasi besar menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati investor.

Dalam kondisi pasar yang bergejolak, investor perlu memperhatikan fundamental perusahaan, valuasi saham, dan kemampuan emiten menghadapi tekanan ekonomi. Investor juga sebaiknya menyesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.

Perkembangan keputusan MSCI dan respons pelaku pasar akan menjadi perhatian dalam perdagangan selanjutnya. Sementara itu, koreksi tajam pada Senin menambah tantangan bagi pasar modal Indonesia untuk memulihkan kepercayaan investor. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
Harga Minyak Dunia Tembus 110 Dollar AS per Barel, Brent Naik 3,7 Persen
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB