Malaysia Desak ASEAN Tekan Indonesia soal Kabut Asap, Syed Saddiq Usulkan Sanksi Finansial

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 15:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bangunan-bangunan di seberang jalan penghubung (causeway) di Negara Bagian Johor, Malaysia, tampak diselimuti kabut asap, sebagaimana terlihat dari Singapura pada Jumat (16/10/2026).(AFP/ROSLAN RAHMAN)

Bangunan-bangunan di seberang jalan penghubung (causeway) di Negara Bagian Johor, Malaysia, tampak diselimuti kabut asap, sebagaimana terlihat dari Singapura pada Jumat (16/10/2026).(AFP/ROSLAN RAHMAN)

Putrajaya, APGtimes.com – Sejumlah anggota parlemen Malaysia mendesak pemerintah mengambil langkah lebih tegas menyikapi kabut asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Mereka mengusulkan protes diplomatik bersama negara ASEAN serta tekanan finansial terhadap perusahaan yang terbukti terlibat dalam pembakaran lahan.

Desakan tersebut mencuat di tengah meningkatnya keluhan masyarakat Malaysia akibat kabut asap yang mengganggu jarak pandang. Kebakaran di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan kembali menjadi perhatian karena dampaknya dapat melintasi batas negara.

Anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan pendekatan diplomatik yang selama ini berjalan. Ia menilai negara-negara terdampak perlu menyampaikan sikap yang lebih kuat terhadap pihak yang bertanggung jawab.

Syed Saddiq Minta ASEAN Sampaikan Protes Bersama

Dalam pembahasan di parlemen pada pekan ini, Syed Saddiq mendorong Malaysia mengirimkan nota diplomatik untuk menyatakan keberatan atas persoalan kabut asap. Ia juga meminta negara ASEAN lain yang terdampak, termasuk Singapura, bergabung dalam langkah tersebut.

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia periode 2018–2020 itu mengusulkan respons regional yang lebih tegas. Menurut dia, negara-negara terdampak perlu menyatukan sikap agar desakan terhadap pihak yang bertanggung jawab memiliki dampak lebih besar.

Baca Juga :  Menhut Cabut Izin 5 Perusahaan Terkait Karhutla, Total Konsesi Capai 92.464 Hektare

Syed Saddiq bahkan menyampaikan gagasan agar pihak yang terlibat dalam pembakaran lahan menghadapi pengucilan di tingkat kawasan.

Usulkan Tekanan Finansial terhadap Perusahaan

Selain jalur diplomatik, Syed Saddiq mengusulkan Malaysia dan Singapura menggunakan pengaruh ekonomi untuk menghentikan pendanaan bagi perusahaan yang terlibat dalam praktik pembakaran lahan di Indonesia.

Ia mendorong kedua negara memutus akses finansial pihak-pihak tersebut sebagai bentuk tekanan. Usulan ini mengarah pada upaya membuat perusahaan menanggung konsekuensi ekonomi atas keterlibatan mereka dalam kebakaran lahan.

Meski demikian, penerapan langkah finansial memerlukan dasar hukum dan bukti yang memadai. Pemerintah juga perlu memastikan pihak yang terkena sanksi benar-benar memiliki keterkaitan dengan pelanggaran yang dimaksud.

Syerleena Soroti Dampak terhadap Warga Malaysia

Anggota parlemen Malaysia lainnya, Syerleena Abdul Rashid, turut menyuarakan kekhawatiran terhadap persoalan tersebut. Ia menegaskan bahwa hubungan bertetangga antara Malaysia dan Indonesia harus berjalan bersama tanggung jawab untuk mengurangi dampak lingkungan lintas batas.

Baca Juga :  Mojtaba Khamenei Tunjuk 6 Komandan Baru, Iran Siapkan Diri Hadapi Konflik Panjang

Syerleena mempertanyakan mengapa masyarakat Malaysia harus terus menghadapi dampak dari aktivitas yang berlangsung di luar wilayah negaranya.

Pernyataan itu mencerminkan meningkatnya tuntutan agar penanganan karhutla tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga mencakup pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku.

Kabut Asap Ganggu Aktivitas di Batu Caves

Keluhan juga datang dari masyarakat yang beraktivitas di kawasan wisata Batu Caves, Malaysia. Operator tur Diddy Hamidon mengatakan kabut asap menghalangi pemandangan di lokasi tersebut.

Ia berharap pemerintah Indonesia mengambil langkah nyata untuk mengatasi persoalan kebakaran lahan yang memicu kabut asap.

Dampak kabut asap lintas batas telah menjadi persoalan berulang di Asia Tenggara. Kondisi ini menuntut kerja sama negara-negara kawasan, terutama dalam pencegahan kebakaran, pemantauan kualitas udara, dan penindakan terhadap pelaku pembakaran lahan.

Desakan sejumlah anggota parlemen Malaysia menunjukkan bahwa isu tersebut kembali mendapat perhatian politik. Namun, penyelesaian jangka panjang tetap membutuhkan koordinasi regional dan tindakan nyata untuk menekan risiko kebakaran hutan serta lahan pada masa mendatang. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target
Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot
Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi
Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral
Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia
Macron Tegaskan Sikap Tegas Usai Demo Ricuh di Prancis, Pelaku Penjarahan Bakal Ditindak
Demo Ricuh di Perancis dan Italia, Kemlu Imbau WNI Waspadai Situasi Keamanan
Putin Setujui Usulan Perombakan Kabinet Rusia, Menteri Keuangan Diusulkan Jadi Wakil PM
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:09 WIB

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB