Jakarta, APGtimes.com – Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan belum menerima laporan WNI yang terlibat atau terdampak demonstrasi ricuh di Perancis dan Italia. Pemerintah tetap meminta warga Indonesia di kedua negara meningkatkan kewaspadaan selama situasi keamanan belum stabil.
Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Heni Hamidah, menjelaskan bahwa KBRI Paris dan KBRI Roma terus memantau perkembangan situasi serta menjalin komunikasi dengan warga Indonesia.
“Hingga saat ini, KBRI Paris dan KBRI Roma belum menerima laporan mengenai adanya WNI yang terlibat maupun terdampak akibat demonstrasi tersebut,” ujar Heni, Senin (19/10/2026).
KBRI Paris dan Roma Imbau WNI Berhati-hati
KBRI Paris dan KBRI Roma telah mengingatkan WNI di wilayah kerja masing-masing agar berhati-hati dalam beraktivitas. Kedua perwakilan diplomatik itu meminta warga memantau informasi resmi dari otoritas setempat.
Selain itu, WNI perlu menjauhi lokasi demonstrasi dan kerumunan massa. Langkah tersebut dapat mengurangi risiko ketika aksi massa berkembang menjadi kerusuhan.
Heni juga meminta warga Indonesia menyesuaikan rencana perjalanan dengan kondisi keamanan terkini. Demonstrasi berpotensi mengganggu transportasi umum dan menghambat mobilitas masyarakat.
WNI harus mengikuti arahan petugas keamanan setempat. Sementara itu, KBRI Paris dan KBRI Roma akan terus memantau perkembangan situasi serta menjaga komunikasi dengan masyarakat Indonesia.
Nomor Darurat WNI di Perancis dan Italia
Kementerian Luar Negeri meminta WNI menyimpan nomor hotline perwakilan Indonesia untuk mengantisipasi keadaan darurat.
Berikut nomor kontak yang dapat digunakan:
-
KBRI Paris, Perancis: +33-6-2112-2109
-
KBRI Roma, Italia: +39-338-954-2333
WNI dapat menghubungi nomor tersebut jika menghadapi keadaan darurat atau membutuhkan bantuan selama berada di kedua negara.
Demonstrasi Perancis Libatkan Ratusan Ribu Orang
Laporan The Telegraph menyebut sekitar 550.000 orang mengikuti demonstrasi di Perancis. Dari jumlah tersebut, sekitar 110.000 orang turun ke jalan di Paris.
Aksi massa melibatkan gerakan rompi kuning, serikat pekerja, dan kelompok mahasiswa. Gelombang protes bermula dari aksi pelajar yang berlangsung selama tiga pekan.
Para pelajar memprotes kekurangan tenaga pengajar dan memburuknya kondisi sekolah menengah di kawasan pinggiran Paris. Situasi kemudian memanas setelah sejumlah pihak membakar beberapa sekolah.
Seruan di media sosial mendorong demonstran di berbagai wilayah menghidupkan kembali gerakan rompi kuning. Gerakan yang muncul pada 2018 itu sebelumnya memprotes kenaikan biaya hidup.
Dalam perkembangannya, aksi tersebut menarik dukungan dari berbagai kelompok pekerja. Perawat, guru, petani, pengemudi taksi, serta aktivis lingkungan turut bergabung dalam gelombang protes.
Sebanyak 1.200 Orang Ditangkap dalam Kerusuhan
Laporan AFP mencatat sedikitnya 1.200 orang ditangkap selama rangkaian demonstrasi di Perancis. Aksi tersebut juga menyebabkan sekitar 150 anggota kepolisian mengalami luka-luka.
Gelombang protes kemudian meluas ke Italia dan memicu demonstrasi serupa. Perkembangan ini mendorong KBRI Paris dan KBRI Roma meningkatkan pemantauan terhadap kondisi WNI.
Kementerian Luar Negeri mengingatkan warga Indonesia agar menjauhi titik kerusuhan, mengikuti informasi resmi, dan mematuhi arahan petugas keamanan.
Pemerintah juga meminta WNI segera menghubungi perwakilan Indonesia melalui hotline yang tersedia jika membutuhkan bantuan darurat. (de*)









