Saham BBCA Anjlok 14,81 Persen ke Rp5.175, BCA Buka Suara soal Gejolak Pasar

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 16:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi saham, IHSG. (canva.com)

Ilustrasi saham, IHSG. (canva.com)

Jakarta, APGtimes.com – Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami tekanan tajam pada perdagangan Jumat, 16 Oktober 2026. Harga saham bank swasta terbesar di Indonesia itu merosot 14,81 persen di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Pada akhir perdagangan, saham BBCA berada di level Rp5.175 per lembar. Harga tersebut turun Rp900 dibandingkan penutupan sebelumnya. Saat pembukaan pasar, saham perseroan masih diperdagangkan di level Rp5.825 per lembar.

Penurunan tersebut terjadi ketika pasar modal Indonesia menghadapi tekanan menyusul evaluasi MSCI terhadap status pasar saham nasional. Usulan perubahan klasifikasi itu memicu perhatian pelaku pasar, terutama terkait transparansi, tata kelola, dan kemudahan investor dalam mengakses informasi pasar.

Menanggapi kondisi tersebut, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, menyampaikan bahwa perseroan terus mengikuti perkembangan pasar modal.

Baca Juga :  Gaji Cuma Rp3 Juta? Ini 4 Investasi yang Bisa Bikin Keuangan Tetap Tumbuh

BCA, kata Hera, menghormati seluruh proses dan dinamika yang berlangsung di pasar saham. Perseroan juga tetap mengutamakan kekuatan fundamental bisnis serta menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menghadapi perubahan kondisi pasar.

Selain itu, BCA menegaskan komitmennya terhadap penerapan tata kelola perusahaan yang baik. Perseroan berupaya menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus menciptakan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan.

MSCI Soroti Transparansi Pasar Saham Indonesia

Tekanan di pasar saham domestik muncul setelah MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market atau pasar berkembang menjadi Standalone Market.

MSCI menilai transparansi dan tata kelola pasar saham Indonesia belum menunjukkan perbaikan yang memadai sejak Februari 2026. Persoalan tersebut kembali menjadi perhatian dalam evaluasi klasifikasi pasar yang berlangsung pada Juni 2026.

Baca Juga :  Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen

Dalam penilaiannya, MSCI menyoroti sejumlah kendala yang dapat memengaruhi kelayakan investasi di Indonesia. Isu tersebut mencakup struktur kepemilikan saham yang dinilai kurang transparan serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi.

MSCI juga mencatat langkah reformasi yang telah diumumkan otoritas pasar modal Indonesia. Namun, masukan dari investor institusi menunjukkan bahwa reformasi tersebut perlu berjalan secara konsisten agar menghasilkan perubahan nyata dan berkelanjutan.

Perkembangan ini menjadi perhatian investor karena klasifikasi pasar dapat memengaruhi cara investor global menilai dan mengakses pasar saham suatu negara.

Di tengah ketidakpastian tersebut, BCA menyatakan akan tetap menjalankan bisnis dengan berpegang pada fundamental perusahaan dan prinsip kehati-hatian. Perseroan juga menekankan pentingnya tata kelola yang baik untuk menjaga kepercayaan pemangku kepentingan dan mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB