New York, APGtimes.com — Binance membekukan aset senilai 3 miliar dollar AS atau sekitar Rp54,45 triliun setelah insiden keamanan yang diduga menimbulkan kerugian hingga 6,3 miliar dollar AS atau Rp114,345 triliun.
Insiden ini menjadi sorotan industri kripto karena sejumlah pihak menyebutnya sebagai salah satu peristiwa keamanan terbesar dalam sejarah pasar aset digital. Untuk membatasi dampaknya, Binance langsung menghentikan layanan deposit dan penarikan dana.
Juru bicara Binance menyatakan tim keamanan perusahaan terus bekerja menangani insiden tersebut.
“Binance telah mengonfirmasi adanya insiden keamanan dan tim kami bekerja sepanjang waktu untuk menyelesaikannya,” kata juru bicara Binance seperti dikutip dari FOX Business, Kamis (29/10/2026) waktu setempat.
Binance Hentikan Layanan Deposit dan Penarikan
Sebagai langkah pencegahan, Binance menutup sementara layanan penyetoran dan penarikan dana. Tim keamanan kini memeriksa sistem, memperkuat infrastruktur dompet digital, serta menelusuri aset yang berkaitan dengan insiden tersebut.
Perusahaan juga meminta dukungan mitra penegak hukum dan pelaku industri kripto untuk membantu proses pemeriksaan. Binance menegaskan bahwa dana pengguna tetap aman selama timnya menangani persoalan ini.
“Dana pengguna tetap aman. Sebagai langkah pencegahan, seluruh penyetoran dan penarikan dana dihentikan sementara ketika tim keamanan kami melakukan pemeriksaan, mengamankan infrastruktur dompet, dan melacak aset yang terdampak, dengan dukungan penuh dari mitra penegak hukum dan industri,” jelas juru bicara perusahaan.
Binance juga menyatakan kesediaannya menanggung seluruh kerugian finansial akibat insiden tersebut. Dengan demikian, pengguna tidak perlu menanggung dampak kerugian yang muncul dari peristiwa ini.
“Pengguna tidak akan menanggung dampak finansial dari insiden ini. Binance akan menanggung seluruh kerugian,” ujarnya.
Laptop Insinyur DevOps Diduga Menjadi Titik Awal
Binance memaparkan dugaan awal penyebab insiden melalui unggahan di platform X. Hasil pemeriksaan sementara mengarah pada kemungkinan penyusupan laptop milik seorang insinyur DevOps.
Menurut dugaan perusahaan, penyerang memanfaatkan laptop tersebut untuk masuk ke sebuah kontainer layanan. Akses itu kemudian memungkinkan pelaku mengajukan transaksi penarikan tanpa izin.
Meski demikian, Binance belum menemukan bukti bahwa penyerang menguasai kunci privat dompet kripto. Tim keamanan masih menelusuri cara pelaku memperoleh akses serta dampaknya terhadap sistem perusahaan.
Changpeng Zhao Duga Ada Serangan Siber
Pendiri sekaligus pemegang saham mayoritas Binance, Changpeng Zhao, turut menanggapi insiden tersebut melalui akun X. Ia menduga serangan siber menjadi penyebab gangguan keamanan pada bursa kripto itu.
“Dana pengguna aman! Ini memang terlihat seperti peretasan terhadap Binance,” tulis Zhao.
Zhao memang tidak lagi mengelola operasional Binance. Namun, ia tetap memberikan apresiasi kepada penerbit stablecoin Tether dan Circle karena kedua perusahaan bergerak cepat membekukan aset yang diduga berkaitan dengan insiden tersebut.
Saat Zhao menyampaikan pernyataannya, Tether telah membekukan aset sekitar 971 juta dollar AS. Sementara itu, Circle mengambil langkah serupa terhadap aset senilai sekitar 823 juta dollar AS.
Kedua langkah tersebut membantu membatasi pergerakan aset yang diduga terkait dengan insiden Binance. Di sisi lain, tim keamanan perusahaan masih menyelidiki kronologi kejadian dan menghitung seluruh dampaknya. (aw*)









