Jakarta, APGtimes.com — Pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan aksi jual investor asing menjadi perhatian pelaku pasar menjelang penutupan perdagangan pekan ini.
Pada Jumat (30/10/2026), IHSG masih menghadapi risiko koreksi setelah kehilangan 3,49 persen dan berakhir di level 5.098 pada perdagangan Kamis (29/10/2026).
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tekanan jual masih mendominasi pergerakan indeks. Ia melihat pola candlestick long black closing marubozu, yang mencerminkan kuatnya aksi jual di pasar saham.
Meski demikian, Nafan mengidentifikasi pola wave (b) yang mengindikasikan potensi penurunan IHSG masih relatif terbatas. Dengan kondisi tersebut, peluang pemulihan melalui technical rebound tetap terbuka.
Namun, sejumlah indikator teknikal masih menunjukkan sinyal negatif. Stochastics K_D dan Relative Strength Index (RSI) sama-sama menggambarkan tekanan terhadap indeks.
Nafan memperkirakan IHSG memiliki level support pada rentang 4.969–4.907. Sementara itu, area resistance berada di kisaran 5.246–5.326.
Aksi Jual Asing Tembus Rp 1,52 Triliun
Tekanan pasar terlihat dari aktivitas transaksi investor asing. Pada Kamis (29/10/2026), investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell sebesar Rp 1,52 triliun.
Secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (YTD), nilai penjualan bersih asing mencapai Rp 124,68 triliun. Pada periode yang sama, IHSG telah merosot 41,04 persen sepanjang 2026.
Nafan memperkirakan perdagangan Jumat masih berlangsung dalam suasana negatif dan volatil. Risiko penurunan lanjutan tetap besar, meskipun peluang penguatan teknikal masih tersedia.
“Sentimen IHSG pada Jumat, 30 Oktober 2026, cenderung negatif dan volatil, dengan risiko tekanan lanjutan masih cukup besar, meskipun peluang technical rebound tetap terbuka,” ujar Nafan dalam riset hariannya yang terbit Jumat pagi.
Suku Bunga AS dan Imbal Hasil Obligasi Jadi Perhatian
Sentimen global turut memengaruhi arah perdagangan saham Indonesia. Salah satu perhatian investor tertuju pada kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75–4,00 persen. Namun, data ekonomi AS yang relatif kuat serta inflasi di atas target 2 persen membatasi ruang pelonggaran moneter.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 2,32 persen menjadi 4,934 persen. Perubahan ini mengindikasikan pergeseran dana investor menuju aset yang lebih defensif.
Kombinasi perkembangan tersebut membuat pelaku pasar terus memperhitungkan risiko global. Selain itu, perubahan arah arus modal dapat memengaruhi minat investor terhadap saham di pasar domestik.
Evaluasi MSCI Membayangi Pasar Modal Indonesia
Dari dalam negeri, ketidakpastian klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih menjadi perhatian. Evaluasi tersebut berkaitan dengan sejumlah aspek, termasuk transparansi kepemilikan saham dan aksesibilitas pasar.
Perbaikan pada kedua aspek itu dapat mendukung pemulihan pasar saham domestik. Namun, selama hasil evaluasi belum jelas, investor cenderung mempertahankan strategi defensif.
Selain evaluasi MSCI, pelaku pasar juga mencermati rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.
BEI merencanakan penerapan kebijakan tersebut mulai 2 November 2026. Karena itu, perubahan aturan ini turut menjadi perhatian investor menjelang perdagangan awal November.
Dengan tekanan jual yang masih kuat, arus keluar dana asing, serta ketidakpastian global dan domestik, pergerakan IHSG berpotensi tetap berfluktuasi. Meski demikian, peluang pemulihan teknikal masih terbuka apabila tekanan jual mulai mereda. (de*)









