Petani Transmigran Papua Barat Kini Bisa Keringkan 2 Ton Gabah dalam Belasan Jam

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tim Ekspedisi Patriot ITS menghadirkan mesin pengering gabah 2 ton berdaya PLTS di Oransbari, Manokwari Selatan. Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau pemanfaatan mesin tersebut bersama warga pada Jumat (30/10/2026). (DOK. Humas Kementrans)

Tim Ekspedisi Patriot ITS menghadirkan mesin pengering gabah 2 ton berdaya PLTS di Oransbari, Manokwari Selatan. Menteri Transmigrasi (Mentrans) M Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau pemanfaatan mesin tersebut bersama warga pada Jumat (30/10/2026). (DOK. Humas Kementrans)

Manokwari Selatan, APGtimes.com — Petani transmigran di Distrik Oransbari, Kawasan Transmigrasi Momiwaren, Papua Barat, kini memiliki cara lebih cepat untuk mengeringkan gabah.

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan mesin pengering berkapasitas 2 ton yang mampu menyelesaikan proses dalam belasan jam.

Sebelumnya, petani membutuhkan waktu tiga hingga tujuh hari untuk mengeringkan gabah melalui penjemuran. Mereka juga harus menunggu cuaca cerah agar hasil panen benar-benar kering.

Kehadiran mesin tersebut membantu petani mengurangi ketergantungan pada penjemuran manual. Selain menghemat waktu, teknologi ini juga mengurangi kebiasaan menjemur gabah di badan jalan yang dapat mengganggu lalu lintas.

Mesin pengering itu memanfaatkan dukungan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Sistem tersebut membantu operasional alat di kawasan yang masih menghadapi keterbatasan pasokan listrik.

Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau langsung pemanfaatan teknologi tersebut bersama warga pada Jumat (30/10/2026). Ia ingin memastikan inovasi yang dibawa ke kawasan transmigrasi memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Saya ingin menyemangati dan melihat langsung karya-karya nyata yang diberikan oleh para anggota tim Ekspedisi Patriot dalam gerakan Transmigrasi Patriot,” ujar Iftitah dalam keterangan tertulis pada Jumat (31/10/2026).

Baca Juga :  BGN Hentikan Operasional 91 SPPG, Temuan Dana Capai Rp18,19 Miliar

Teknologi Pascapanen Buka Peluang Pendapatan

Iftitah menjelaskan, pemerintah kini mengarahkan program transmigrasi untuk membangun kawasan ekonomi, bukan sekadar memindahkan penduduk. Karena itu, setiap inovasi harus mampu menjawab kebutuhan warga dan mendorong peningkatan kesejahteraan.

Menurutnya, mesin pengering gabah menjadi salah satu langkah untuk memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat. Namun, peluang peningkatan pendapatan juga muncul melalui pengolahan hasil panen setelah proses pengeringan.

Petani dapat memilah beras berdasarkan kualitas. Beras utuh dengan mutu premium memiliki harga jual sekitar Rp15.000 hingga Rp17.000 per kilogram.

Harga tersebut lebih tinggi dibandingkan penjualan sebelumnya yang berada di kisaran Rp12.000 per kilogram. Dengan demikian, proses pemilahan memberi peluang bagi petani untuk memperoleh nilai tambah dari hasil panen.

Menir Diolah Menjadi Tepung Beras

Pengolahan pascapanen juga membuka peluang pemanfaatan beras menir. Sebelumnya, petani menjual hasil sampingan tersebut sebagai pakan ternak dengan harga Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram.

Kini, masyarakat dapat mengolah menir menjadi tepung beras. Produk olahan itu memiliki harga jual sekitar Rp18.000 per kilogram sebelum memperhitungkan biaya pengolahan.

Baca Juga :  DPR Minta KBRI dan KJRI Perkuat Perlindungan WNI di Arab Saudi

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) setempat mengelola kegiatan produksi tepung beras. Pengelola kemudian mengarahkan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Sejumlah pelaku usaha, termasuk produsen peyek dan kue, dapat memanfaatkan tepung tersebut sebagai bahan baku. Usaha pengolahan ini juga telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB).

Pemerintah Dorong Kemandirian Ekonomi Transmigran

Pemanfaatan mesin pengering dan pengolahan hasil panen menunjukkan peluang pengembangan ekonomi di kawasan transmigrasi. Masyarakat kini memiliki pilihan untuk mengolah hasil pertanian menjadi produk dengan nilai jual lebih tinggi.

Selain itu, keterlibatan BUMDes membuka ruang bagi tumbuhnya kegiatan usaha lokal. Rantai ekonomi tidak berhenti pada penjualan gabah, tetapi berlanjut hingga produksi bahan pangan olahan.

Iftitah berharap inovasi TEP ITS dapat membuat masyarakat transmigrasi semakin mandiri. Ia juga ingin teknologi tersebut membantu meningkatkan pendapatan petani sekaligus menciptakan lebih banyak kesempatan kerja di kawasan transmigrasi. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru
Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan
Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran
RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali
Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa
Sudaryono Ubah Aturan MBG, Biaya Operasional Rp5.000 per Porsi Kini Dibatasi
Bambang Haryo Minta Kemenhut dan Perhutani Dievaluasi, Penanganan Karhutla Jangan Hanya Sasar 32 Perusahaan
Prabowo Siapkan Bonus Atlet Asian Games dan Asian Para Games 2026, Erick Thohir Berharap Naik
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Prabowo Minta Patroli Karhutla Diperketat, Sugiono Soroti Munculnya Titik Api Baru

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Bulog Cari Pasokan Beras Alternatif, 8-10 Penggilingan Kecil Dilibatkan

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:09 WIB

Kapolri Siapkan Program Poliran, Penganggur hingga Mantan Pengguna Narkotika Jadi Sasaran

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:09 WIB

RUU Perampasan Aset Disorot, DPR Ingin Korban Investasi Bodong Terima Uang Kembali

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:09 WIB

Prabowo Siapkan Ambulans Udara, TNI AU Kerahkan 5 Helikopter dan 3 Pesawat Casa

Berita Terbaru