Pemantau kualitas udara IQAir yang berbasis di Swiss menempatkan Singapura pada peringkat pertama daftar kota paling berpolusi di dunia pada Senin (12/10/2026). Asap dari kebakaran di Sumatera dan Kalimantan menyebar ke negara tetangga, sementara fenomena El Niño memperburuk kondisi kering yang memicu kebakaran.
Laporan AFP menyebutkan bahwa pemerintah Singapura mengaktifkan skema bantuan biaya kesehatan agar warga dapat memperoleh perawatan untuk penyakit yang berkaitan dengan paparan kabut asap.
Singapura Tanggung Sebagian Biaya Pengobatan
Kementerian Kesehatan Singapura memasukkan sejumlah penyakit ke dalam program subsidi tersebut. Cakupannya meliputi rinitis alergi, asma, bronkitis, konjungtivitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), infeksi saluran pernapasan atas, serta komplikasi yang berkaitan dengan kondisi tersebut.
Warga yang memenuhi persyaratan program membayar maksimal 10 dolar Singapura atau sekitar Rp139.915 untuk pengobatan yang tercakup dalam skema subsidi.
Pemerintah memberikan batas biaya lebih rendah bagi warga berusia 67 tahun ke atas. Kelompok tersebut hanya perlu membayar maksimal 5 dolar Singapura atau sekitar Rp69.969.
Singapura terakhir kali menjalankan skema subsidi kabut asap serupa pada 2015. Kala itu, asap kebakaran hutan di Indonesia menyelimuti sejumlah wilayah Asia Tenggara selama berminggu-minggu. Kondisi tersebut meningkatkan gangguan kesehatan, mengganggu kegiatan sekolah, dan memicu pembatalan penerbangan.
Malaysia Masih Menutup Sekolah di Sejumlah Wilayah
Di Malaysia, sebagian besar sekolah kembali menggelar kegiatan belajar pada Senin setelah kualitas udara sedikit membaik. Namun, pihak berwenang masih menutup sekolah di beberapa wilayah yang menghadapi tingkat polusi tidak sehat.
Wilayah terdampak mencakup bagian selatan negara bagian Johor, beberapa kawasan Kuala Lumpur, serta bagian tengah Selangor. Penutupan ini menjadi langkah perlindungan bagi siswa dan tenaga pengajar dari paparan udara tercemar.
Kabut asap juga mengganggu perjalanan udara lintas negara. Maskapai Malaysia, Firefly, membatalkan penerbangan antara Bandara Sultan Abdul Aziz Shah di dekat Kuala Lumpur dan Bandara Seletar di Singapura pada Sabtu hingga Senin sebagai langkah pencegahan.
Melalui pernyataan di Facebook, Firefly menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi kabut asap. Maskapai tersebut juga berjanji menyampaikan perubahan jadwal secara langsung kepada penumpang yang terdampak.
El Niño Memperburuk Risiko Kebakaran di Indonesia
Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan secara berulang selama musim kemarau. Tahun ini, fenomena El Niño memperbesar risiko kebakaran karena kondisi kering mendukung penyebaran api di sejumlah kawasan.
Selain faktor cuaca, para ahli menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Praktik tersebut dapat mengubah bentang alam dan meningkatkan kerentanan kawasan terhadap kebakaran berulang.
Dampak kebakaran tidak berhenti di wilayah Indonesia. Asap yang terbawa angin dapat melintasi perbatasan dan mengganggu kesehatan masyarakat, kegiatan pendidikan, serta transportasi di negara-negara tetangga.
Program subsidi pengobatan Singapura menjadi salah satu upaya untuk meringankan beban warga yang terdampak kabut asap. Namun, pencegahan kebakaran dan penanganan sumber asap di Indonesia tetap memegang peranan penting untuk menekan pencemaran udara lintas negara. (aw*)









