Singapura, APGtimes.com — Kualitas udara Singapura membaik pada Selasa (27/10/2026). Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) menilai risiko kabut asap di negara tersebut masih rendah karena angin dan hujan membantu memperbaiki kondisi atmosfer.
Data pemantauan pada pukul 09.00 waktu setempat menunjukkan konsentrasi partikel halus PM2.5 per jam berada pada kisaran 19–26. Wilayah barat mencatat angka tertinggi.
Sementara itu, indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) selama 24 jam berada pada kisaran 62–71. Angka tersebut menempatkan kualitas udara Singapura dalam kategori baik hingga sedang.
NEA menjelaskan bahwa angin dari arah timur laut atau tenggara serta hujan di Singapura dan kawasan sekitarnya membantu mengurangi risiko kabut asap.
“Dalam kondisi seperti ini, kemungkinan kabut asap memengaruhi Singapura adalah rendah,” kata NEA dalam keterangannya.
Hujan Membantu Memperbaiki Kualitas Udara
NEA memperkirakan arah angin akan berubah-ubah pada Rabu dan Kamis. Hujan juga berpeluang turun di Singapura dan wilayah sekitarnya.
Kondisi tersebut dapat menekan aktivitas titik panas yang berpotensi memicu kabut asap. Curah hujan juga membantu memperbaiki kondisi lingkungan setelah sejumlah wilayah Asia Tenggara mengalami pencemaran udara.
Kualitas udara di seluruh wilayah Singapura masuk kategori baik hingga sedang sejak Minggu (25/10/2026) pukul 23.00 waktu setempat.
Untuk Selasa, NEA memprakirakan PSI 24 jam berada pada kisaran 60–90. Dengan kondisi tersebut, masyarakat secara umum masih dapat beraktivitas di luar ruangan seperti biasa.
NEA Imbau Warga Memantau PM2.5
NEA meminta masyarakat memeriksa prakiraan PSI 24 jam sebelum merencanakan kegiatan luar ruangan. Warga juga perlu memantau data PM2.5 terbaru untuk mengetahui kondisi udara dalam waktu dekat.
Jika konsentrasi PM2.5 per jam mencapai tingkat tinggi, orang sehat sebaiknya mengurangi aktivitas luar ruangan yang berat selama satu jam berikutnya.
NEA juga mengimbau kelompok rentan agar lebih berhati-hati. Kelompok ini mencakup anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit jantung atau paru-paru kronis.
Mereka sebaiknya menghindari aktivitas luar ruangan yang berat ketika konsentrasi PM2.5 meningkat. Langkah tersebut dapat membantu mengurangi paparan partikel halus yang berisiko mengganggu kesehatan.
Sejumlah Wilayah Malaysia Masih Mengalami Kabut Asap
Kondisi udara Malaysia juga menunjukkan perbaikan setelah kabut asap mengganggu sejumlah wilayah selama beberapa pekan.
Data pemantauan pada Senin (26/10/2026) pukul 09.00 mencatat 29 stasiun pemantau di Malaysia memiliki kualitas udara kategori baik. Sebanyak 32 stasiun lainnya menunjukkan kategori sedang.
Namun, beberapa wilayah di Sarawak masih menghadapi pencemaran udara pada tingkat tidak sehat. Samarahan mencatat indeks 160, sedangkan Kuching mencapai 159.
Sarikei mencatat indeks 157 dan Sibu 154. Sementara itu, Sri Aman mencapai 139 dan Mukah berada pada angka 109.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa perbaikan kualitas udara belum merata di seluruh Malaysia. Warga di kawasan terdampak perlu terus memantau indeks kualitas udara dan mengurangi aktivitas luar ruangan jika kondisi memburuk.
Langit Kuala Lumpur Mulai Cerah
Perubahan kondisi langit di Kuala Lumpur juga mendapat tanggapan positif dari masyarakat. Sejumlah pengguna media sosial menyampaikan kelegaan setelah langit terlihat lebih cerah.
Perbaikan di Singapura dan sebagian wilayah Malaysia memberikan indikasi bahwa kondisi atmosfer mulai membaik di beberapa bagian Asia Tenggara. Namun, perubahan arah angin dan pola hujan masih dapat memengaruhi pergerakan asap dalam beberapa hari mendatang.
Karena itu, masyarakat tetap perlu mengik uti informasi kualitas udara dari otoritas setempat, terutama di daerah yang sebelumnya mengalami kabut asap. (aw*)









