100 Hari Perang AS-Iran, Harga Minyak Melonjak dan Inflasi Global Meningkat

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 8 Juni 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tentara Iran menembakkan rudal dalam latihan militer di Pantai Makran, Teluk Oman, dekat Selat Hormuz pada 31 Desember 2022. (KANTOR MILITER IRAN via AFP)

Tentara Iran menembakkan rudal dalam latihan militer di Pantai Makran, Teluk Oman, dekat Selat Hormuz pada 31 Desember 2022. (KANTOR MILITER IRAN via AFP)

Washington, APGtimes.com — Perang antara Amerika Serikat dan Iran telah memasuki hari ke-100 pada Minggu (7/6/2026). Hingga kini, kedua negara belum mencapai kesepakatan damai yang permanen meski berbagai upaya diplomasi terus berlangsung.

Konflik berkepanjangan tersebut memicu gejolak di berbagai pasar keuangan global. Harga energi melonjak, inflasi meningkat, dan pasar obligasi menghadapi tekanan di banyak negara.

Negosiasi antara Washington dan Teheran juga masih menemui jalan buntu. Kedua pihak terus mengirim sinyal yang berbeda terkait proses perdamaian dan sesekali kembali melancarkan aksi militer.

Meski demikian, gencatan senjata sementara masih bertahan untuk memberi ruang bagi jalur diplomasi.

Wall Street Justru Mencetak Rekor

Di tengah ketidakpastian global, pasar saham Amerika Serikat justru menunjukkan ketahanan yang kuat.

Setelah perang meletus, banyak bursa saham dunia mengalami tekanan. Namun, indeks S&P 500 berhasil mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.

Investor tampaknya lebih fokus pada perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dibanding dampak perang terhadap ekonomi global.

Kepala Investasi Netwealth, Iain Barnes, menilai pasar saat ini lebih tertarik pada peluang pertumbuhan yang berasal dari sektor AI.

Menurutnya, perusahaan teknologi di Amerika Serikat dan Asia menjadi pihak yang paling diuntungkan dari lonjakan investasi infrastruktur AI.

Sementara itu, saham-saham di Eropa bergerak lebih lambat karena kenaikan biaya energi memberikan tekanan yang lebih besar terhadap perekonomian kawasan tersebut.

Baca Juga :  Israel Perluas Serangan Darat ke Lebanon, Dunia Internasional Ramai-Ramai Mengecam

Sektor AI Jadi Penopang Pasar

Kepala Investasi BRI Wealth Management, Toni Meadows, mengatakan kebutuhan besar terhadap kapasitas komputasi telah mendorong kenaikan nilai perusahaan semikonduktor.

Kondisi tersebut ikut mendukung pertumbuhan ekonomi negara-negara produsen chip seperti Korea Selatan dan Taiwan.

Meski demikian, Meadows mengingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan tetap dapat mengganggu pertumbuhan ekonomi global jika tidak segera berakhir.

Menurutnya, investor saat ini masih percaya bahwa AS maupun Iran tidak memiliki kepentingan untuk memperpanjang perang dalam jangka panjang.

Imbal Hasil Obligasi Terus Naik

Selain pasar saham, perang juga memengaruhi pasar obligasi global.

Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat mengalami kenaikan karena investor mulai memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi.

Bulan lalu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak sebelum krisis keuangan global.

Fenomena serupa juga muncul di sejumlah negara maju lainnya, termasuk Inggris.

Kepala Investasi Premier Miton Investors, Neil Birrell, menilai pasar obligasi melihat ancaman nyata berupa inflasi tinggi, pertumbuhan ekonomi yang melambat, dan gangguan rantai pasok global.

Ia memperkirakan imbal hasil obligasi akan tetap tinggi selama konflik belum menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Baca Juga :  Trump Batalkan Serangan Baru ke Iran Usai Dibujuk Negara Teluk, Negosiasi Berlangsung

Harga Minyak Masih Tinggi

Perang AS-Iran turut memengaruhi pasar energi dunia.

Penutupan Selat Hormuz selama konflik berlangsung mengganggu distribusi minyak dari Timur Tengah ke berbagai negara.

Akibatnya, harga minyak sempat melonjak tajam meski belakangan mulai mengalami koreksi.

Saat ini, harga minyak mentah Brent masih berada sekitar 36 persen lebih tinggi dibandingkan sebelum perang dimulai.

Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat masih naik hampir 50 persen dibandingkan level sebelum konflik.

Gangguan pasokan energi memaksa banyak negara pengimpor minyak mencari sumber alternatif untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Inflasi Mulai Meningkat

Dampak perang kini mulai terlihat pada kondisi ekonomi riil di berbagai negara.

Kenaikan harga energi mendorong inflasi di sejumlah ekonomi besar dunia.

Di Amerika Serikat, inflasi tahunan mencapai 3,8 persen pada April 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam hampir tiga tahun terakhir.

Kenaikan harga minyak, gas, bahan bakar jet, dan bensin menjadi faktor utama yang mendorong inflasi.

Beberapa negara bahkan mulai mengambil langkah intervensi untuk mengendalikan kenaikan harga dan menjaga stabilitas ekonomi domestik.

Meski pasar masih berharap perdamaian dapat tercapai dalam waktu dekat, banyak analis menilai dampak perang terhadap ekonomi global akan terus terasa selama konflik belum benar-benar berakhir. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak
Israel Kembali Serang Lebanon Hanya Beberapa Jam Usai Kesepakatan Gencatan Senjata
JPMorgan: Permintaan Minyak Dunia Turun 9 Persen, Konsumen Mulai Beralih ke Energi Alternatif
Israel Perluas Serangan Darat ke Lebanon, Dunia Internasional Ramai-Ramai Mengecam
Arab Saudi Resmi Buka Umrah 1448 H, Visa Mulai Terbit dan Jemaah Sudah Bisa Masuk Makkah
PBB Masukkan Israel dan Rusia ke Daftar Hitam Pelaku Kekerasan Seksual di Zona Konflik
Pakar Siber Bongkar Sistem Pengawasan China, Aktivitas Warga Bisa Dilacak 24 Jam
Meta Pangkas 8.000 Pegawai: Zuckerberg Kini Bertaruh Hidup pada AI
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:09 WIB

Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak

Senin, 8 Juni 2026 - 12:09 WIB

100 Hari Perang AS-Iran, Harga Minyak Melonjak dan Inflasi Global Meningkat

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:09 WIB

Israel Kembali Serang Lebanon Hanya Beberapa Jam Usai Kesepakatan Gencatan Senjata

Senin, 1 Juni 2026 - 20:09 WIB

JPMorgan: Permintaan Minyak Dunia Turun 9 Persen, Konsumen Mulai Beralih ke Energi Alternatif

Senin, 1 Juni 2026 - 12:09 WIB

Israel Perluas Serangan Darat ke Lebanon, Dunia Internasional Ramai-Ramai Mengecam

Berita Terbaru

Trofi Piala Dunia yang akan diperebutkan kembali dalam Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko. Piala Dunia 2026 akan menggunakan format baru karena diikuti 48 negara yang dibagi dalam 12 grup di mana dua tim teratas setiap grup plus delapan peringkat ketiga terbaik maju ke babak 32 besar.(TANGKAPAN LAYAR TWITTER FIFA)

Internasional

Iran Tuding AS Cabut Tiket Piala Dunia 2026, FIFA Didesak Bertindak

Selasa, 9 Jun 2026 - 18:09 WIB