Jakarta, APGtimes.com — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyerap lebih dari satu juta tenaga kerja lokal melalui operasional puluhan ribu dapur di berbagai daerah. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat sebanyak 1,03 juta warga bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Juru Bicara BGN Tysa Novenny menjelaskan, angka tersebut berasal dari 26.723 dapur MBG yang telah terverifikasi. Selain merekrut warga sekitar, setiap dapur juga mengutamakan bahan pangan dari petani, peternak, dan pelaku UMKM setempat.
“Mereka dilayani lebih dari 26.000 dapur yang beroperasi. Dapur MBG mempekerjakan warga sekitar dan mengutamakan bahan dari petani, peternak, dan UMKM setempat,” ujar Tysa dalam siaran pers Bakom, Selasa (3/11/2026).
MBG Jangkau 58 Juta Penerima Manfaat
Tysa menjelaskan, program MBG kini menjangkau sekitar 58 juta penerima manfaat. Jumlah tersebut mencakup anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Sebagai perbandingan, pemerintah memulai program ini pada Januari 2025 dengan dukungan 190 dapur. Pada tahap awal, layanan MBG baru menjangkau sekitar 570.000 penerima manfaat.
“Makan Bergizi Gratis dimulai pada Januari 2025 dengan 190 dapur yang melayani 570.000 penerima manfaat. Kini, lebih dari 58 juta anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita menerima Makan Bergizi Gratis,” kata Tysa.
Menurutnya, makanan bergizi membantu pelajar memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Dengan asupan tersebut, mereka dapat mengikuti kegiatan belajar secara lebih fokus.
Libatkan Lebih dari 80 Ribu Pemasok Lokal
Selain membuka lapangan kerja, MBG turut menggerakkan usaha masyarakat melalui kemitraan dengan pemasok lokal. BGN mencatat sebanyak 80.315 pemasok dari berbagai daerah bergabung dalam rantai pasok program tersebut.
Dari total pemasok itu, sekitar 82,83 persen merupakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Kemitraan ini pun membuka peluang pendapatan bagi pedagang, kelompok tani, serta peternak daerah.
Lebih lanjut, pemasok lokal membantu dapur MBG memenuhi kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar. Karena itu, program ini tidak hanya menyediakan layanan pemenuhan gizi, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi masyarakat.
Realisasi Anggaran MBG Capai Rp 165 Triliun
Dari sisi pembiayaan, Tysa menyampaikan bahwa realisasi anggaran MBG pada 2026 mencapai Rp 165 triliun.
Selain itu, ia mengklaim efisiensi dan penerapan tata kelola anggaran yang ketat berhasil mengembalikan Rp 44 triliun ke kas negara. Angka tersebut menjadi bagian dari laporan BGN mengenai pelaksanaan program sepanjang 2026.
BGN Ingatkan Sekolah dan Orang Tua soal Keamanan Pangan
Di sisi lain, Tysa mengingatkan sekolah dan orang tua agar terus memperhatikan keamanan pangan selama pelaksanaan MBG. Keduanya perlu mengambil langkah antisipasi untuk mencegah serta menangani gangguan kesehatan setelah anak mengonsumsi makanan.
Jika anak menunjukkan gejala keracunan setelah menyantap menu MBG, keluarga harus segera membawanya ke puskesmas terdekat. Selanjutnya, orang tua perlu melaporkan kejadian tersebut kepada pihak sekolah agar petugas dapat segera mengambil tindakan.
Dengan demikian, BGN menekankan pentingnya respons cepat saat muncul dugaan keracunan. Langkah ini membantu melindungi penerima manfaat sekaligus mempercepat penanganan sesuai kebutuhan. (ts*)









