Trump Ancam Produk Indonesia dengan Tarif Baru, Saham Tekstil Jadi Korban Pertama

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bendera Amerika berkibar setengah tiang di atas Gedung Putih di Washington DC, Jumat, 16 April 2021. (AP PHOTO/SUSAN WALSH)

Bendera Amerika berkibar setengah tiang di atas Gedung Putih di Washington DC, Jumat, 16 April 2021. (AP PHOTO/SUSAN WALSH)

Jakarta, APGtimes.com – Rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan tarif impor baru terhadap sejumlah produk Indonesia kembali memicu kekhawatiran di pasar keuangan. Kebijakan tersebut berpotensi menekan kinerja ekspor nasional, terutama sektor manufaktur yang selama ini bergantung pada pasar Amerika Serikat.

Analis menilai emiten tekstil, alas kaki, furnitur, dan elektronik menjadi kelompok industri yang paling rentan menghadapi tekanan apabila kebijakan tarif baru benar-benar berlaku.

Investment Specialist KISI Sekuritas, Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan saham sektor tekstil seperti BELL dan PBRX dapat menjadi gambaran awal dampak perang dagang terhadap industri manufaktur Indonesia.

Menurutnya, pelaku industri perlu segera mencari pasar alternatif agar tidak terlalu bergantung pada permintaan dari Amerika Serikat.

Risiko Utilisasi Pabrik Menurun

Faris menjelaskan kenaikan tarif impor dapat mengurangi daya saing produk Indonesia di pasar Amerika Serikat.

Akibatnya, permintaan ekspor berpotensi turun dan memengaruhi tingkat utilisasi pabrik di dalam negeri.

Jika kapasitas produksi tidak terpakai secara optimal, maka margin keuntungan perusahaan juga bisa tergerus.

Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.873 per Dolar AS, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia

Selain itu, target pertumbuhan laba sejumlah emiten manufaktur berpotensi mengalami revisi apabila tekanan ekspor semakin besar.

Emiten dengan Pasar Alternatif Dinilai Lebih Aman

Di tengah ancaman perang dagang, Faris melihat peluang bagi perusahaan yang telah memiliki pasar ekspor selain Amerika Serikat.

Menurutnya, perusahaan dengan arus kas yang kuat akan lebih mudah bertahan menghadapi ketidakpastian perdagangan global.

Karena itu, investor perlu mencermati kondisi keuangan emiten sebelum mengambil keputusan investasi.

Perusahaan yang memiliki utang tinggi dinilai lebih rentan menghadapi tekanan apabila ekspor melambat.

Investor Asing Masih Melihat Peluang

Meski perang dagang kembali memanas, Faris menilai dampaknya terhadap arus modal asing ke pasar saham Indonesia tidak akan terlalu besar.

Ia menilai investor global saat ini juga melihat peluang dari valuasi saham Indonesia yang relatif murah.

Sejumlah sektor komoditas dan saham defensif bahkan dinilai menarik setelah mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir.

Baca Juga :  Perang Iran Memasuki Bulan Keenam, Trump Hadapi Dilema Besar Jelang Pemilu AS

Menurutnya, valuasi sejumlah saham Indonesia kini berada di level yang mendekati masa pandemi Covid-19 dan bahkan ada yang berada di bawah level krisis keuangan global 2008.

Sektor Komoditas dan Konsumsi Jadi Penopang

Faris menyarankan investor mencermati sektor komoditas sebagai instrumen lindung nilai selama ketidakpastian perdagangan global masih berlangsung.

Sementara itu, sektor konsumsi domestik berpotensi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Pasalnya, konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Di sisi lain, sektor perbankan juga tetap menarik selama nilai tukar rupiah stabil serta rasio kredit bermasalah dan margin bunga bersih berada dalam kondisi sehat.

Pemerintah Indonesia saat ini terus melakukan berbagai upaya diplomasi dagang untuk menjaga daya saing produk nasional di pasar Amerika Serikat. Namun, pelaku pasar tetap menunggu kepastian terkait implementasi tarif baru yang direncanakan pemerintah AS tersebut. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Luhut Tegaskan Indonesia Tak Akan Kolaps, Investor Diminta Jangan Ragu Tanam Modal
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 7 Oktober 2026, Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama
Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen
Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB
Dana Abadi Kebencanaan Rp8,3 Triliun Dikelola BPDLH, Hasilnya Biayai Asuransi Aset Negara
Harga Emas Antam Hari Ini 3 Oktober 2026 Turun, 1 Gram Jadi Rp2,574 Juta
PPh 21 2027 Berlanjut, Pekerja Bergaji di Bawah Rp10 Juta Jadi Sasaran
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 8 Oktober 2026 - 09:09 WIB

Luhut Tegaskan Indonesia Tak Akan Kolaps, Investor Diminta Jangan Ragu Tanam Modal

Rabu, 7 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Harga Emas Pegadaian Hari Ini 7 Oktober 2026, Antam Tembus Rp2,6 Juta per Gram

Selasa, 6 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.908, Analis Prediksi Penguatan Tak Akan Lama

Senin, 5 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Pemerintah Butuh Investasi hingga Rp2.258 Triliun untuk Kejar Ekonomi 6 Persen

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:09 WIB

Suahasil Nazara Tegaskan Batas Defisit APBN 3 Persen dan Utang 60 Persen PDB

Berita Terbaru