Selat Hormuz Sempat Ditutup, Pemerintah Iran Langsung Bantah Ancaman IRGC

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)

Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.(ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP)

Teheran, APGtimes.com – Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah Garda Revolusi Iran (IRGC) dan pemerintah Iran mengeluarkan pernyataan yang berbeda dalam waktu berdekatan. Perbedaan sikap tersebut memicu kebingungan di kalangan pelaku pelayaran internasional, investor, dan pasar energi global.

IRGC lebih dulu mengirim pesan radio kepada kapal-kapal yang berada di sekitar Selat Hormuz. Dalam pesan itu, mereka meminta seluruh kapal tidak memasuki kawasan tersebut karena Iran masih menutup jalur pelayaran strategis itu.

Langkah tersebut muncul setelah IRGC menilai Amerika Serikat belum memenuhi seluruh komitmen dalam nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 18 Juni 2026.

IRGC Keluarkan Ancaman Keras

IRGC menegaskan bahwa Iran akan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sampai Amerika Serikat memenuhi seluruh syarat yang tercantum dalam kesepakatan.

Menurut kelompok tersebut, Amerika Serikat harus mencabut blokade laut sepenuhnya, menarik pasukan dari kawasan Teluk Persia, serta memastikan Israel keluar dari Lebanon.

Selain menyampaikan tuntutan itu, IRGC juga memperingatkan seluruh kapal agar tidak mendekati Selat Hormuz.

Bahkan, mereka menegaskan bahwa kapal yang mengabaikan peringatan tersebut berisiko menghadapi tindakan militer.

Ancaman itu langsung menarik perhatian internasional karena Selat Hormuz menjadi jalur utama pengiriman minyak dan energi dunia.

Baca Juga :  Mahasiswa Indonesia Tembus Final Kompetisi Teknologi Pangan Dunia di Chicago, Inovasinya Jadi Sorotan

Pemerintah Iran Pastikan Kapal Tetap Melintas

Tidak lama setelah peringatan tersebut muncul, pemerintah Iran mengambil sikap yang berbeda.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan bahwa kapal komersial tetap dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman.

Ia menjelaskan bahwa angkatan bersenjata Iran telah menyiapkan langkah pengamanan untuk memastikan aktivitas pelayaran berjalan normal sesuai isi kesepakatan yang berlaku.

Pada saat yang sama, pihak berwenang Iran terus mengawasi lalu lintas kapal yang melintasi kawasan tersebut.

Berkat pengamanan tersebut, aktivitas pelayaran komersial tetap berlangsung tanpa hambatan.

Pengamat Soroti Celah dalam Kesepakatan

Presiden organisasi intelijen sumber terbuka OSINT613, Simcha Brodsky, menilai perbedaan pernyataan tersebut muncul karena masing-masing pihak memiliki penafsiran berbeda terhadap isi kesepakatan.

Menurut analis tersebut, Amerika Serikat memang menjalankan pencabutan blokade secara bertahap sesuai mekanisme yang telah disepakati.

Meski demikian, IRGC memandang proses tersebut belum selesai sehingga syarat pembukaan Selat Hormuz belum terpenuhi sepenuhnya.

Di sisi lain, pemerintah Iran memilih menjalankan kesepakatan dan mengizinkan kapal komersial kembali melintas.

Akibat perbedaan penafsiran tersebut, publik internasional menerima dua pesan berbeda dari otoritas yang sama dalam waktu hampir bersamaan.

Baca Juga :  Ketegangan Timur Tengah Memanas, AS Diduga Siapkan Israel untuk Perang Lagi

Perbedaan Sikap di Internal Iran Kembali Terlihat

Sejumlah pengamat sebenarnya telah memprediksi munculnya perbedaan pandangan di internal Iran sejak proses negosiasi berlangsung.

Sebagian kelompok di IRGC sejak awal menolak kesepakatan dengan Amerika Serikat karena mereka menginginkan Israel lebih dulu meninggalkan Lebanon.

Pandangan tersebut membuat proses negosiasi berjalan alot selama beberapa bulan terakhir.

Kini, polemik mengenai status Selat Hormuz kembali memperlihatkan perbedaan sikap di dalam tubuh Iran.

AS Diminta Tetap Waspada

Penasihat Senior Foundation for Defense of Democracies, Richard Goldberg, meminta Amerika Serikat tetap waspada terhadap perkembangan terbaru ini.

Menurut Goldberg, Iran kemungkinan masih akan melakukan berbagai manuver selama masa implementasi kesepakatan berlangsung.

Karena itu, Washington perlu merespons secara tegas setiap langkah yang berpotensi mengganggu pelaksanaan kesepakatan.

Ia juga mengingatkan bahwa Amerika Serikat harus menjaga keseimbangan antara kesabaran diplomatik dan ketegasan dalam menghadapi tekanan politik.

Dengan peran Selat Hormuz sebagai jalur perdagangan energi paling penting di dunia, setiap perkembangan terbaru berpotensi memengaruhi pasar minyak, perdagangan global, dan stabilitas kawasan Timur Tengah dalam beberapa pekan mendatang. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Iran Bersiap Perang Lebih Besar, Selat Hormuz Makin Tegang dan Jalur Kapal Terancam
China Temukan Jalur Baru ke Eropa, Cuma 18 Hari Lewat Laut Es Arktik
Festival Indonesia di Chiba Ricuh, KBRI Tokyo Pastikan Tak Ada WNI Ditahan
108 Sekolah di Sarawak Ditutup, Kabut Asap Makin Parah dan 3.853 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan
Gudang WHO di Ukraina Hancur Dihantam Serangan, Pasokan Medis Rp 8,9 Miliar Musnah
Kapal Bawa 3 WNI Diserang Drone di Yaman, 1 Dikabarkan Meninggal
Thailand Perketat Senjata Api Usai Penembakan Sekolah, Izin Pembelian Ditangguhkan
Mojtaba Khamenei Tunjuk 6 Komandan Baru, Iran Siapkan Diri Hadapi Konflik Panjang
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:30 WIB

Iran Bersiap Perang Lebih Besar, Selat Hormuz Makin Tegang dan Jalur Kapal Terancam

Senin, 17 Agustus 2026 - 15:09 WIB

China Temukan Jalur Baru ke Eropa, Cuma 18 Hari Lewat Laut Es Arktik

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 12:09 WIB

Festival Indonesia di Chiba Ricuh, KBRI Tokyo Pastikan Tak Ada WNI Ditahan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 13:09 WIB

108 Sekolah di Sarawak Ditutup, Kabut Asap Makin Parah dan 3.853 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan

Rabu, 12 Agustus 2026 - 12:09 WIB

Gudang WHO di Ukraina Hancur Dihantam Serangan, Pasokan Medis Rp 8,9 Miliar Musnah

Berita Terbaru

Gempa bumi Magnitudo (M) 7,7 yang mengguncang kawasan Mbay-Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) subuh.(Kontributor Kompas.com Labuan Bajo/Vera Bahali)

Nasional

Gempa M 7,7 Guncang Flores, 7 Korban Dievakuasi ke Labuan Bajo

Selasa, 18 Agu 2026 - 18:09 WIB

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi jenis Pertamax membuat stok BBM subsidi di sejumlah SPBU wilayah Kota Tangerang ludes lebih cepat dari biasanya.(Kompas.com/Disya Shaliha)

Ekonomi & Bisnis

Cek Harga BBM Pertamina Hari Ini 18 Agustus 2026 di Semua Wilayah

Selasa, 18 Agu 2026 - 16:09 WIB