Uni Eropa Selidiki Facebook dan Instagram soal Dugaan Dark Patterns

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:16 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dublin, APGtime.com — Otoritas pengawas media Irlandia menyelidiki dugaan praktik manipulatif Meta Platforms melalui algoritma di Facebook dan Instagram.

Penyelidik menyoroti penggunaan “Dark Patterns” atau pola desain manipulatif yang mempersulit pengguna mengatur algoritma media sosial.

Otoritas Irlandia juga memeriksa dugaan pelanggaran Pasal 27 Digital Services Act (DSA), aturan Uni Eropa yang melindungi pengguna internet dari praktik digital tidak adil.

Uni Eropa Soroti Algoritma Meta

Aturan DSA mewajibkan platform digital memberi kesempatan kepada pengguna untuk memahami dan mengubah pengaturan algoritma.

Namun, penyelidik menduga Meta sengaja menyembunyikan opsi perpindahan dari feed personalisasi ke feed kronologis.

Penyelidik juga menduga sistem Meta otomatis mengubah kembali pengaturan algoritma setelah pengguna menutup aplikasi.

Baca Juga :  Jepang Naikkan Biaya Visa 5 Kali Lipat, Turis Indonesia Perlu Siapkan Dana Lebih

Kondisi itu memaksa banyak pengguna terus mengatur ulang preferensi mereka.

Uni Eropa dapat menjatuhkan denda hingga 6 persen dari total pendapatan tahunan global Meta jika penyelidik membuktikan pelanggaran tersebut.

Nilai denda itu diperkirakan mencapai 20 miliar euro atau sekitar Rp 370 triliun.

Dark Patterns Dinilai Merugikan Pengguna

Dark Patterns merupakan desain antarmuka digital yang sengaja mengarahkan pengguna mengambil keputusan tertentu.

Perusahaan digital biasanya memanfaatkan rasa takut, kenyamanan, atau tekanan psikologis untuk memengaruhi pengguna.

Melalui cara tersebut, perusahaan mendorong pengguna memberikan data pribadi, membeli produk, atau menyetujui iklan personalisasi.

Beberapa perusahaan digital membuat tombol persetujuan lebih mencolok dibanding tombol penolakan.

Baca Juga :  Meta Pangkas 8.000 Pegawai: Zuckerberg Kini Bertaruh Hidup pada AI

Selain itu, sejumlah aplikasi menyembunyikan pilihan “tidak” di submenu agar pengguna kesulitan menolak.

Banyak toko daring juga memasang hitung mundur palsu atau pesan “stok tersisa satu” untuk mendorong pembelian cepat.

Organisasi Konsumen Minta Pengguna Waspada

Uni Eropa telah melarang praktik manipulatif melalui aturan DSA.

Namun, banyak perusahaan digital masih menjalankan praktik Dark Patterns karena aturan hukum belum memiliki definisi yang benar-benar seragam.

Karena itu, berbagai organisasi perlindungan konsumen terus mengedukasi masyarakat agar lebih berhati-hati saat memakai layanan digital.

Pusat Konsumen Jerman juga meminta pengguna internet tidak terburu-buru menekan tombol persetujuan dan selalu memeriksa pengaturan privasi sebelum menggunakan layanan digital. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bank Dunia Resmi Kurangi Pinjaman ke China, Target Nol pada 2031
Polda Jatim Bongkar Penyelundupan 53 Gading Gajah, Dititipkan di Koper Jemaah Umrah
Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan Damai, Ketegangan Timur Tengah Memanas Lagi
Jepang Naikkan Biaya Visa 5 Kali Lipat, Turis Indonesia Perlu Siapkan Dana Lebih
Selat Hormuz Sempat Ditutup, Pemerintah Iran Langsung Bantah Ancaman IRGC
AS dan Iran Resmi Damai, Selat Hormuz Dibuka dan Nuklir Diawasi
AS dan Iran Sepakat Damai, Warga Teheran Justru Masih Waswas
Dunia Sambut Damai AS-Iran, PBB hingga Eropa Beri Dukungan Penuh
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 09:09 WIB

Bank Dunia Resmi Kurangi Pinjaman ke China, Target Nol pada 2031

Selasa, 30 Juni 2026 - 14:09 WIB

Polda Jatim Bongkar Penyelundupan 53 Gading Gajah, Dititipkan di Koper Jemaah Umrah

Sabtu, 27 Juni 2026 - 18:09 WIB

Iran Tuduh AS Langgar Kesepakatan Damai, Ketegangan Timur Tengah Memanas Lagi

Kamis, 25 Juni 2026 - 19:09 WIB

Jepang Naikkan Biaya Visa 5 Kali Lipat, Turis Indonesia Perlu Siapkan Dana Lebih

Sabtu, 20 Juni 2026 - 10:09 WIB

Selat Hormuz Sempat Ditutup, Pemerintah Iran Langsung Bantah Ancaman IRGC

Berita Terbaru