Kenapa Harga Emas Bisa Naik Turun? Ini Prediksi Terbarunya

Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Bisa Turun ke Rp 2,75 Juta atau Naik Tembus Rp 2,9 Juta

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 4 Mei 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ilustrasi grafik

ilustrasi grafik

Jakarta, APGtimes.com — Harga emas berpotensi bergerak naik turun pada pekan depan seiring dinamika global yang masih tinggi. Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Minggu (3/5/2026) berada di level Rp 2.796.000 per gram, sementara harga emas dunia bertahan di atas US$ 4.600 per troy ons.

Data Trading Economics mencatat harga emas dunia sempat menyentuh US$ 4.690 per troy ons pada 28 April 2026. Pada hari yang sama, emas Logam Mulia juga menembus Rp 2.814.000 per gram sebagai level tertinggi mingguan.

Proyeksi Harga Emas Pekan Depan

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memprediksi harga emas dunia bisa melemah dalam jangka pendek. Ia memperkirakan harga emas bergerak di kisaran US$ 4.389 hingga US$ 4.520 per troy ons.

Baca Juga :  PHK di Berbagai Industri dalam 3 Bulan ke Depan, Ini Sektor Paling Rentan

Ia juga melihat harga emas Antam berpotensi turun ke rentang Rp 2.750.000 hingga Rp 2.786.000 per gram. Menurutnya, harga logam mulia berpeluang mendekati Rp 2.750.000 per gram dalam waktu dekat.

Sebaliknya, jika sentimen pasar menguat, harga emas dunia bisa naik ke kisaran US$ 4.702 hingga US$ 4.851 per troy ons. Dalam kondisi tersebut, harga emas Antam berpeluang menembus Rp 2.886.000 hingga Rp 2.900.000 per gram.

Faktor Penggerak Harga Emas

Ibrahim menegaskan lima faktor utama yang memengaruhi harga emas global. Pertama, kondisi geopolitik di Timur Tengah. Kedua, dinamika politik di Amerika Serikat. Ketiga, perang dagang global. Keempat, kebijakan bank sentral. Kelima, keseimbangan pasokan dan permintaan.

Baca Juga :  Kapal Maersk Keluar Selat Hormuz dengan Pengawalan AS, Ini Fakta Lengkapnya

Ketegangan di Timur Tengah mendorong investor memburu emas sebagai aset aman. Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel terus meningkatkan ketidakpastian pasar.

Dampak Suku Bunga dan Permintaan Global

Di sisi lain, kenaikan harga minyak bisa memicu bank sentral menaikkan suku bunga acuan. Kondisi ini mendorong investor beralih ke instrumen berbunga sehingga menekan harga emas.

Namun, harga emas yang terkoreksi juga menarik minat beli dari bank sentral dan investor global. Kondisi ini berpotensi menopang kenaikan harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. (nil*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu
Pedagang Pasar Aur Duri Jambi Mulai Ramai Gunakan QRIS BRI, Pembeli Makin Praktis
Rupiah dan IHSG Kompak Anjlok di Awal Perdagangan, Bursa Merah di Seluruh Sektor
IMF Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Angin Segar, Tapi Risiko Global Belum Hilang
Rupiah Menguat ke Rp17.873 per Dolar AS, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia
Harga Emas Jambi Hari Ini 29 Juni 2026, Antam Turun Rp15.000 per Gram
OJK Beberkan Kondisi Terbaru Perbankan Indonesia, Likuiditas Masih Kuat Meski Ekonomi Global Bergejolak
Harga Emas Jambi Hari Ini Bertahan, Antam Naik Jadi Rp2,66 Juta per Gram
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 20:09 WIB

Rupiah Tembus Rp17.952 per Dolar AS, Defisit Perdagangan Pertama dalam 6 Tahun Jadi Pemicu

Selasa, 30 Juni 2026 - 17:09 WIB

Pedagang Pasar Aur Duri Jambi Mulai Ramai Gunakan QRIS BRI, Pembeli Makin Praktis

Selasa, 30 Juni 2026 - 11:09 WIB

Rupiah dan IHSG Kompak Anjlok di Awal Perdagangan, Bursa Merah di Seluruh Sektor

Senin, 29 Juni 2026 - 14:09 WIB

IMF Sebut Gencatan Senjata Timur Tengah Jadi Angin Segar, Tapi Risiko Global Belum Hilang

Senin, 29 Juni 2026 - 13:09 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.873 per Dolar AS, Jadi Salah Satu Mata Uang Terkuat di Asia

Berita Terbaru