Timor Leste Jadi Pusat Scam Baru? Kemenlu RI Temukan Jejak Eks Pekerja Kamboja

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 1 September 2026 - 19:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi bendera Timor Leste.(SHUTTERSTOCK)

Ilustrasi bendera Timor Leste.(SHUTTERSTOCK)

Dili, APGtimes.com – Jaringan penipuan siber lintas negara diduga mulai mengalihkan operasinya dari Kamboja ke Timor Leste. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemenlu RI) menemukan indikasi tersebut setelah mencermati riwayat perjalanan sejumlah mantan pekerja online scam.

Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu RI Santo Darmosumarto mengatakan, sejumlah mantan pekerja scam Kamboja kini berada di Timor Leste. Catatan perjalanan pada paspor mereka menunjukkan bahwa sebagian dari mereka sebelumnya berada di Kamboja.

“Eks pekerja scam Kamboja itu banyak yang sekarang tertangkap di Timor Leste. Dari paspornya kelihatan mereka sebelumnya berada di Kamboja,” ujar Santo saat dihubungi, Minggu (30/8/2026).

Menurut Santo, pola tersebut menunjukkan karakter jaringan scam yang bergerak secara internasional. Jaringan itu merekrut orang dari berbagai negara untuk menjalankan penipuan dengan target korban dari negara asal masing-masing.

Jaringan Scam Mulai Bergerak ke Timor Leste

Santo menjelaskan, jaringan scam memiliki struktur lintas negara. Para pengelola utama dapat mengatur operasi dari satu negara, sementara para pekerja menjalankan aktivitas penipuan di negara lain.

Baca Juga :  Indonesia Usulkan 5 Langkah Bela Palestina, Perlindungan Masjid Al Aqsa Jadi Sorotan

Pekerja dari Pakistan, India, Jepang, Korea Selatan, hingga Brasil juga terlibat dalam jaringan serupa. Mereka menjalankan penipuan dengan menyasar warga dari berbagai negara.

“Bos-bos besarnya itu jaringan internasional. Pekerjaannya kan juga ada yang orang Pakistan, orang India, bahkan orang Jepang, orang Korea, orang Brasil,” kata Santo.

Karena itu, penindakan di satu negara dapat mendorong jaringan mencari lokasi baru. Kondisi tersebut membuat negara-negara di kawasan perlu memperkuat kerja sama untuk mencegah perpindahan pusat operasi scam.

Polisi Timor Leste Tangkap 314 Orang

Polisi Timor Leste sebelumnya menggerebek sejumlah lokasi yang mereka duga menjadi pusat operasi penipuan siber di Dili. Dalam operasi selama lima hari pada Juli 2026, polisi menangkap 253 orang.

Baca Juga :  Kemenkes Ungkap Dampak Kabut Asap Karhutla, Bisa Picu Stres hingga Gangguan Pernapasan

Polisi kemudian melakukan operasi lain pada akhir Juni. Jika digabungkan, aparat menangkap 314 orang dalam rangkaian operasi yang berlangsung selama tiga pekan.

Dalam penggerebekan itu, polisi menemukan komputer, ribuan kartu SIM, serta perangkat Starlink yang diduga mendukung aktivitas penipuan siber.

Sebagian besar tersangka masuk ke Timor Leste menggunakan visa turis. Polisi juga menemukan beberapa orang yang tidak membawa paspor.

Para tersangka terutama berasal dari China dan Indonesia. Polisi juga menemukan sejumlah warga Kamboja di lokasi tersebut.

Aparat Timor Leste kemudian memproses para tersangka atas dugaan pencucian uang, asosiasi kriminal, dan perjudian daring ilegal.

Temuan tersebut membuat Kemenlu RI terus memantau pergerakan jaringan online scam di kawasan Asia Tenggara. Pemerintah juga perlu memperkuat koordinasi dengan negara lain agar jaringan penipuan tidak mudah memindahkan pusat operasinya ke lokasi baru. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target
Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot
Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi
Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral
Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia
Macron Tegaskan Sikap Tegas Usai Demo Ricuh di Prancis, Pelaku Penjarahan Bakal Ditindak
Demo Ricuh di Perancis dan Italia, Kemlu Imbau WNI Waspadai Situasi Keamanan
Putin Setujui Usulan Perombakan Kabinet Rusia, Menteri Keuangan Diusulkan Jadi Wakil PM
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 16:09 WIB

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Meta Terancam Denda Rp 450 Triliun, Kasus Cambridge Analytica Kembali Disorot

Rabu, 21 Oktober 2026 - 18:09 WIB

Pemilu Israel 2026 Memanas, Partai Arab Berpeluang Jadi Penentu Koalisi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Kim Jong Un Muncul di Pyongyang Setelah Rumor Kematian dan Koma Viral

Selasa, 20 Oktober 2026 - 19:09 WIB

Malaysia Desak Undang-Undang Khusus untuk Atasi Kabut Asap dari Indonesia

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB