Solok, APGtimes.com – Hujan deras mengguyur Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin (21/9/2026) malam. Curah hujan mencapai 94 milimeter (mm) per hari dan memicu banjir bandang di sejumlah wilayah.
BMKG menyebut hujan dengan intensitas tersebut masuk kategori lebat. Curah hujan 94 mm juga hampir dua kali lipat dari ambang 50 mm per hari yang menjadi batas kategori hujan lebat menurut BMKG.
Banjir bandang atau galodo terjadi setelah hujan turun terus-menerus. Luapan air kemudian membawa material lumpur dan puing hingga berdampak pada warga serta sejumlah fasilitas di Kabupaten Solok.
Satu Korban Ditemukan Meninggal
Kantor SAR Padang mencatat 10 warga terdampak dalam bencana tersebut. Dari jumlah itu, satu orang meninggal dunia, satu warga masih dalam pencarian, satu mengalami luka berat, dan tujuh lainnya mengalami luka ringan.
Korban meninggal dunia bernama Daffa Arahman (21), warga Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang. Tim SAR menemukan Daffa di aliran sungai kawasan Jawi-jawi Guguak, Kecamatan Gunung Talang.
Petugas menemukan jenazah Daffa sekitar 4,5 kilometer dari lokasi awal kejadian. Sementara itu, tim gabungan masih mencari Agusra (59) yang hingga pembaruan data tersebut belum ditemukan.
Satu Korban Mengalami Luka Berat
Muhamad Nurzern (56) menjadi korban yang mengalami luka berat. Ia mendapat penanganan awal di RSUD Arosuka sebelum menjalani rujukan ke RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Nurzern mengalami multiple trauma dan patah tulang terbuka akibat bencana tersebut.
Adapun tujuh warga mengalami luka ringan. Mereka terdiri atas Muslihat (54), Anggiat Sirait (66), Yurnalis (45), Affan (26), Sukarji (49), Sinol (32), dan Ulil Amri (34).
Data lapangan juga menunjukkan banjir bandang berdampak pada kawasan Arosuka dan sejumlah fasilitas pemerintahan. BPBD sebelumnya mencatat 11 kantor pemerintah terdampak serta kerusakan pada kendaraan warga.
BMKG Ungkap Pemicu Banjir Bandang
Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramadhani menjelaskan hujan lebat menjadi pemicu utama banjir bandang di Solok.
Menurut Andri, hujan mencapai 94 mm per hari dan turun secara terus-menerus hingga meningkatkan debit air. Kondisi tersebut kemudian memicu luapan yang berubah menjadi banjir bandang sekitar Senin malam.
BMKG juga telah mengeluarkan peringatan dini sebelum bencana terjadi. Peringatan tersebut mencakup prakiraan tujuh hari, tiga hari, hingga peringatan cuaca ekstrem dalam skala waktu yang lebih pendek.
Selain hujan deras, kondisi wilayah juga dapat memengaruhi pembentukan banjir bandang. Pakar kebencanaan Daryono menjelaskan bahwa kejenuhan tanah, kondisi lereng, longsoran, serta material lepas di wilayah hulu dapat memperbesar aliran air menuju daerah yang lebih rendah.
Puan Dorong Penguatan Mitigasi
Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan memperkuat mitigasi bencana hidrometeorologi.
Puan menilai pemerintah perlu meningkatkan antisipasi terhadap potensi banjir dan bencana serupa di berbagai daerah. Ia juga mendorong koordinasi yang lebih kuat antara lembaga pemerintah, termasuk BNPB, serta unsur terkait lainnya.
Menurut Puan, kondisi curah hujan yang tinggi dan efektivitas bendungan di berbagai daerah perlu menjadi perhatian. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi dan gotong royong dalam menghadapi potensi bencana berikutnya.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Solok telah menetapkan status tanggap bencana untuk mempercepat evakuasi, pembersihan material, pendataan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan warga terdampak. (aw*)








