Jakarta, APGtimes.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self-Regulatory Organization (SRO) pasar modal menggelar dialog dengan analis, ekonom, dan influencer keuangan atau finfluencer pada Minggu, 18 Oktober 2026. Pertemuan ini membahas kondisi pasar modal Indonesia setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam.
OJK Serap Masukan Analis dan Finfluencer
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa dialog tersebut bertujuan menghimpun pandangan dari berbagai kalangan. Melalui pertemuan ini, OJK ingin memahami persoalan pasar sekaligus mencari langkah perbaikan yang tepat.
Selain itu, masukan dari analis, ekonom, dan finfluencer diharapkan membantu regulator menyusun kebijakan yang lebih responsif. Dengan demikian, upaya pemulihan kepercayaan investor dapat berjalan lebih terarah.
IHSG Anjlok 14,91 Persen dalam Sepekan
Tekanan terhadap pasar saham meningkat setelah MSCI membuka kemungkinan mengubah klasifikasi Indonesia dari kategori Emerging Market menjadi Standalone Market. Wacana tersebut memicu perhatian investor karena perubahan status dapat memengaruhi persepsi terhadap pasar modal Indonesia.
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan atau trading halt. Kebijakan itu berlaku pada pukul 08.58 WIB setelah IHSG merosot 8 persen.
Akibatnya, kondisi pasar menjadi sorotan pelaku industri keuangan. Oleh sebab itu, regulator menilai pembenahan tata kelola dan transparansi perlu terus berjalan untuk menjaga kepercayaan investor.
OJK Perkuat Reformasi dan Penegakan Aturan
OJK menegaskan komitmennya untuk memperkuat reformasi pasar modal serta menegakkan aturan secara konsisten. Langkah ini bertujuan meningkatkan integritas pasar sekaligus melindungi kepentingan investor.
Sebelumnya, pada 16 Oktober 2026, OJK mengumumkan sanksi administratif dengan total nilai Rp2,1 triliun. OJK menjelaskan bahwa sanksi tersebut berasal dari hasil pemeriksaan yang telah berlangsung sebelumnya. Jadi, pengumuman itu bukan semata-mata respons terhadap gejolak pasar dalam beberapa hari terakhir.
BEI Fokus pada Transparansi Kepemilikan Saham
Direktur BEI, Iding Pardi, menyoroti sejumlah aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pembenahan pasar modal. Fokus tersebut mencakup transparansi kepemilikan saham, klasifikasi investor, dan konsentrasi kepemilikan.
Melalui perbaikan pada aspek tersebut, BEI berharap investor memperoleh informasi yang lebih jelas mengenai struktur kepemilikan saham. Selain itu, keterbukaan informasi dapat mendukung perdagangan yang lebih sehat dan kredibel.
OJK dan SRO pun terus menghimpun masukan dari pelaku pasar untuk menentukan langkah pembenahan. Dengan memperkuat transparansi, tata kelola, dan penegakan aturan, regulator berharap pasar modal Indonesia dapat menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan terhadap IHSG. (ys*)









