Netty Prasetiyani Minta Pembalut Bebas PPN, Ini Alasan di Balik Usulannya

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 3 November 2026 - 09:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan marketplace pengadaan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tidak menciptakan monopoli baru.(Febrianto Adi Saputro)

Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan marketplace pengadaan bahan baku Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tidak menciptakan monopoli baru.(Febrianto Adi Saputro)

Jakarta, APGtimes.com — Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani meminta pemerintah mengkaji pembebasan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk pembalut dan produk sanitasi menstruasi lainnya.

Menurut Netty, produk menstruasi bukan barang mewah. Sebaliknya, produk tersebut merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan kesehatan reproduksi perempuan.

“Produk sanitasi menstruasi seperti pembalut bukan barang mewah, melainkan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan kesehatan reproduksi. Karena itu, sudah selayaknya pemerintah mengkaji kemungkinan pemberian fasilitas pembebasan PPN,” kata Netty dalam keterangannya, Selasa (3/11/2026).

Beban Pengeluaran Perempuan Berpenghasilan Rendah

Netty menjelaskan, kebutuhan menstruasi merupakan bagian dari pemenuhan hak kesehatan reproduksi perempuan. Karena itu, pemerintah perlu melihat persoalan ini lebih luas daripada sekadar konsumsi barang sehari-hari.

Selain itu, perempuan dari keluarga berpenghasilan rendah harus mengalokasikan dana untuk membeli produk menstruasi. Beban tersebut dapat menyulitkan mereka memenuhi kebutuhan sanitasi secara layak.

Baca Juga :  Agung Widyantoro Resmi Jadi Ketua Komisi X DPR, Gantikan Hetifah

“Jangan sampai keterbatasan ekonomi membuat perempuan kesulitan memperoleh produk menstruasi yang layak dan higienis,” ujar dia.

Netty menilai pemerintah perlu memperhitungkan kemampuan ekonomi masyarakat ketika mengevaluasi kebijakan pajak produk menstruasi.

Netty Minta Tiga Kementerian Berkoordinasi

Selanjutnya, Netty mendorong Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Kementerian Kesehatan, serta Kementerian Keuangan untuk membahas usulan tersebut.

Menurut politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, pemerintah tidak cukup melihat persoalan ini dari sisi penerimaan negara. Pemerintah juga perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap kesehatan reproduksi dan perlindungan perempuan.

“Kita membutuhkan pembahasan lintas sektor agar kebijakan yang dihasilkan tidak parsial. Aspek kesehatan, pelindungan perempuan, kemampuan ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan fiskal negara harus dipertimbangkan secara bersamaan,” tegas Netty.

Baca Juga :  Guru PPPK 3T Diminta Jadi Prioritas PNS, NTT Dapat Perhatian Khusus

Dengan koordinasi tersebut, pemerintah dapat menyusun kajian yang mempertimbangkan kepentingan kesehatan, sosial, dan fiskal secara bersamaan.

Organisasi Perempuan Perlu Dilibatkan

Lebih lanjut, Netty berharap pemerintah melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam kajian pembebasan PPN produk menstruasi.

Pihak yang perlu mendapat ruang dalam pembahasan antara lain organisasi perempuan, tenaga kesehatan, pelaku industri, dan kelompok masyarakat. Masukan mereka dapat membantu pemerintah memahami kebutuhan serta hambatan yang perempuan hadapi.

Netty menegaskan, akses terhadap produk menstruasi yang aman dan terjangkau merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat dan berkeadilan.

“Memastikan perempuan memiliki akses terhadap produk menstruasi yang aman dan terjangkau merupakan bagian dari upaya membangun masyarakat yang sehat dan berkeadilan. Kita ingin tidak ada perempuan yang harus mengorbankan kebutuhan kesehatan reproduksinya hanya karena keterbatasan ekonomi,” ucap Netty. (ys*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kemenag Siapkan Skema Baru untuk Tingkatkan Kesejahteraan Guru Non-ASN
Kapolri Suyudi Tekankan Peran Humas pada Setiap Anggota Polri
Sidang Febrie Adriansyah, Tan Kian Ungkap Fakta Baru soal Penyerahan Rp 55 Miliar
676 Ribu Kendaraan Angkutan Barang Melanggar Aturan, Kemenhub Siapkan Zero ODOL 2027
Polisi Ungkap Modus Perekrutan Tentara Bayaran Rusia, 58 WNI Jadi Korban
PPN Pembalut 11 Persen Jadi Sorotan, Menteri PPPA Harap Ada Kebijakan Menggembirakan
Ferry Boboho Ungkap Pernah Bahas Kasus Harvey Moeis dengan Febrie Adriansyah
Indonesia Gelar Latihan Militer Gabungan Tiga Bidang, Libatkan Negara ASEAN dan Mitra
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 19:09 WIB

Kemenag Siapkan Skema Baru untuk Tingkatkan Kesejahteraan Guru Non-ASN

Selasa, 3 November 2026 - 18:09 WIB

Kapolri Suyudi Tekankan Peran Humas pada Setiap Anggota Polri

Selasa, 3 November 2026 - 16:09 WIB

Sidang Febrie Adriansyah, Tan Kian Ungkap Fakta Baru soal Penyerahan Rp 55 Miliar

Selasa, 3 November 2026 - 11:09 WIB

676 Ribu Kendaraan Angkutan Barang Melanggar Aturan, Kemenhub Siapkan Zero ODOL 2027

Selasa, 3 November 2026 - 10:09 WIB

Polisi Ungkap Modus Perekrutan Tentara Bayaran Rusia, 58 WNI Jadi Korban

Berita Terbaru

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto memberikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026), usai dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto.(YouTube.com/Sekretariat Presiden)

Nasional

Kapolri Suyudi Tekankan Peran Humas pada Setiap Anggota Polri

Selasa, 3 Nov 2026 - 18:09 WIB