Harga Minyak Dunia Turun, Mengapa Inflasi Belum Tentu Langsung Mereda? Ini Penjelasan Ekonom

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 7 November 2026 - 23:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebuah kapal tanker minyak mentah diarahkan ke dermaga di terminal minyak di pelabuhan Qingdao, di Provinsi Shandong, bagian timur China pada 7 Maret 2026.(AFP)

Sebuah kapal tanker minyak mentah diarahkan ke dermaga di terminal minyak di pelabuhan Qingdao, di Provinsi Shandong, bagian timur China pada 7 Maret 2026.(AFP)

Sabang, APGtimes.com — Penurunan harga minyak mentah dunia tidak selalu langsung menekan inflasi. Harga bahan bakar dan produk turunan minyak membutuhkan waktu untuk mengikuti perubahan harga bahan bakunya.

Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, menjelaskan dampak penurunan harga minyak terhadap inflasi konsumen berlangsung secara bertahap.

Menurutnya, minyak mentah merupakan produk hulu. Sementara itu, masyarakat menggunakan produk hilir yang harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu.

“Sayangya mungkin dampaknya akan lebih bertahap kepada inflasi di level konsumen. Kenapa? Karena minyak itu adalah barang mentah atau produk hulu, sedangkan yang kita konsumsi adalah produk hilir,” kata Irman dalam Focus Group Discussion Bank Indonesia di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026).

Harga Diesel Bisa Naik Lebih Tinggi

Irman mencontohkan diesel sebagai salah satu produk turunan minyak mentah. Perubahan harga diesel bahkan bisa melampaui kenaikan harga minyak mentah.

Ia menggambarkan kondisi di Amerika Serikat. Harga diesel di negara tersebut meningkat sekitar 200 persen. Sementara itu, harga minyak mentah hanya naik sekitar 80–90 persen.

Baca Juga :  Menkeu Siapkan Skema Baru untuk KCIC, Purbaya Pastikan Tak Gunakan APBN

Perbedaan tersebut terjadi karena harga produk turunan minyak juga bergantung pada biaya logistik dan kapasitas kilang.

Karena itu, penurunan harga minyak mentah tidak otomatis menurunkan harga diesel. Pasokan bahan baku harus kembali tersedia sebelum kilang mengolahnya menjadi bahan bakar.

Proses tersebut membutuhkan waktu hingga produk hilir mencapai konsumen.

“Sehingga ada waktu yang dibutuhkan untuk harga di produk hilir itu juga ikut turun. Makanya dengan dinamika seperti ini, kami melihat memang inflasi global itu akan turun tapi perlahan,” kata Irman.

Konflik AS dan Iran Memengaruhi Harga Minyak

Irman menjelaskan, perkembangan geopolitik turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir.

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar energi. Namun, peluang perundingan perdamaian antara kedua negara memicu koreksi harga minyak.

Selain itu, hasil pemilihan sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 turut membentuk ekspektasi pasar. Perkembangan politik tersebut berpotensi memengaruhi kelanjutan konflik.

Baca Juga :  Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp27.000, Cek Daftar Harga Terbaru 17 Juli 2026

Menurut Irman, meredanya ketegangan geopolitik dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak dunia.

OPEC+ Berpeluang Meningkatkan Produksi

Dari sisi pasokan, negara-negara anggota OPEC+ berkomitmen mempertahankan produksi minyak pada 2027. Tingkat produksi tersebut berada di atas proyeksi permintaan.

Jika konflik geopolitik mereda, kilang-kilang yang sebelumnya berhenti beroperasi berpeluang kembali berproduksi.

Kondisi itu dapat mendorong peningkatan pasokan minyak dunia. Bahkan, produksi berpotensi melampaui permintaan atau memicu kelebihan pasokan (oversupply).

“Kalau misalnya konflik geopolitik ini meningkat dan juga kilang yang ditutup karena konflik ini dibuka kembali, maka OPEC plus countries bisa mengejar dengan produksi sehingga nanti kondisi di market oil ini akan oversupply,” jelasnya.

Irman menambahkan, membaiknya pasokan juga berpeluang memulihkan persediaan minyak dunia. Sebelumnya, gangguan rantai pasok telah menekan stok minyak di pasar global.

Dengan demikian, penurunan harga minyak mentah dapat membantu meredakan tekanan inflasi. Namun, konsumen tidak serta-merta merasakan dampaknya karena harga produk turunan minyak mengikuti perubahan tersebut secara bertahap. (mda*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

OJK Hentikan 1.199 Pinjol Ilegal Sepanjang 2026, Pengaduan Masyarakat Tembus 36.546 Laporan
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik 7 November 2026, Buyback Justru Turun, Ini Daftarnya
Tesla dan SpaceX Rugi Rp 8.241 Triliun Usai Pemilu AS, Kekayaan Elon Musk Terjun Bebas
IHSG Melonjak 1,96 Persen, Saham Tambang Emas dan Telkom Pimpin Penguatan
Ekonomi Indonesia Diprediksi Tumbuh 5,26 Persen pada Kuartal III 2026, Konsumsi Melambat
Harga Emas Antam Turun Rp4.000 Hari Ini, Simak Daftar Lengkap Harga per Gram
Harga Emas Antam Hari Ini 3 November 2026 Naik Rp 10.000, Cek Daftar Lengkapnya
Harga Minyak Dunia Anjlok 7 Persen, Brent Turun ke 104,77 Dollar AS per Barrel
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 23:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, Mengapa Inflasi Belum Tentu Langsung Mereda? Ini Penjelasan Ekonom

Sabtu, 7 November 2026 - 22:09 WIB

OJK Hentikan 1.199 Pinjol Ilegal Sepanjang 2026, Pengaduan Masyarakat Tembus 36.546 Laporan

Sabtu, 7 November 2026 - 12:09 WIB

Harga Emas Antam di Pegadaian Naik 7 November 2026, Buyback Justru Turun, Ini Daftarnya

Jumat, 6 November 2026 - 11:09 WIB

Tesla dan SpaceX Rugi Rp 8.241 Triliun Usai Pemilu AS, Kekayaan Elon Musk Terjun Bebas

Kamis, 5 November 2026 - 16:09 WIB

IHSG Melonjak 1,96 Persen, Saham Tambang Emas dan Telkom Pimpin Penguatan

Berita Terbaru