Sabang, APGtimes.com — Penurunan harga minyak mentah dunia tidak selalu langsung menekan inflasi. Harga bahan bakar dan produk turunan minyak membutuhkan waktu untuk mengikuti perubahan harga bahan bakunya.
Lead Economist Bank Danamon, Irman Faiz, menjelaskan dampak penurunan harga minyak terhadap inflasi konsumen berlangsung secara bertahap.
Menurutnya, minyak mentah merupakan produk hulu. Sementara itu, masyarakat menggunakan produk hilir yang harus melalui proses pengolahan terlebih dahulu.
“Sayangya mungkin dampaknya akan lebih bertahap kepada inflasi di level konsumen. Kenapa? Karena minyak itu adalah barang mentah atau produk hulu, sedangkan yang kita konsumsi adalah produk hilir,” kata Irman dalam Focus Group Discussion Bank Indonesia di Sabang, Aceh, Kamis (5/11/2026).
Harga Diesel Bisa Naik Lebih Tinggi
Irman mencontohkan diesel sebagai salah satu produk turunan minyak mentah. Perubahan harga diesel bahkan bisa melampaui kenaikan harga minyak mentah.
Ia menggambarkan kondisi di Amerika Serikat. Harga diesel di negara tersebut meningkat sekitar 200 persen. Sementara itu, harga minyak mentah hanya naik sekitar 80–90 persen.
Perbedaan tersebut terjadi karena harga produk turunan minyak juga bergantung pada biaya logistik dan kapasitas kilang.
Karena itu, penurunan harga minyak mentah tidak otomatis menurunkan harga diesel. Pasokan bahan baku harus kembali tersedia sebelum kilang mengolahnya menjadi bahan bakar.
Proses tersebut membutuhkan waktu hingga produk hilir mencapai konsumen.
“Sehingga ada waktu yang dibutuhkan untuk harga di produk hilir itu juga ikut turun. Makanya dengan dinamika seperti ini, kami melihat memang inflasi global itu akan turun tapi perlahan,” kata Irman.
Konflik AS dan Iran Memengaruhi Harga Minyak
Irman menjelaskan, perkembangan geopolitik turut memengaruhi pergerakan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar energi. Namun, peluang perundingan perdamaian antara kedua negara memicu koreksi harga minyak.
Selain itu, hasil pemilihan sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 turut membentuk ekspektasi pasar. Perkembangan politik tersebut berpotensi memengaruhi kelanjutan konflik.
Menurut Irman, meredanya ketegangan geopolitik dapat mengurangi risiko gangguan pasokan minyak dunia.
OPEC+ Berpeluang Meningkatkan Produksi
Dari sisi pasokan, negara-negara anggota OPEC+ berkomitmen mempertahankan produksi minyak pada 2027. Tingkat produksi tersebut berada di atas proyeksi permintaan.
Jika konflik geopolitik mereda, kilang-kilang yang sebelumnya berhenti beroperasi berpeluang kembali berproduksi.
Kondisi itu dapat mendorong peningkatan pasokan minyak dunia. Bahkan, produksi berpotensi melampaui permintaan atau memicu kelebihan pasokan (oversupply).
“Kalau misalnya konflik geopolitik ini meningkat dan juga kilang yang ditutup karena konflik ini dibuka kembali, maka OPEC plus countries bisa mengejar dengan produksi sehingga nanti kondisi di market oil ini akan oversupply,” jelasnya.
Irman menambahkan, membaiknya pasokan juga berpeluang memulihkan persediaan minyak dunia. Sebelumnya, gangguan rantai pasok telah menekan stok minyak di pasar global.
Dengan demikian, penurunan harga minyak mentah dapat membantu meredakan tekanan inflasi. Namun, konsumen tidak serta-merta merasakan dampaknya karena harga produk turunan minyak mengikuti perubahan tersebut secara bertahap. (mda*)








