New York, APGtimes.com — Tesla dan SpaceX milik Elon Musk kehilangan kapitalisasi pasar gabungan sekitar 456 miliar dollar AS atau setara Rp 8.241 triliun.
Penurunan nilai kedua perusahaan itu terjadi setelah Partai Demokrat menguasai DPR dan Senat Amerika Serikat (AS) dalam pemilu sela 2026.
Perubahan peta politik tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap kemungkinan penyelidikan Kongres AS dan pengetatan regulasi bisnis Musk.
Tekanan terutama menyasar pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), pembangunan pusat data, serta rencana penggabungan Tesla dan SpaceX.
Pada perdagangan Kamis (5/11/2026) waktu setempat, saham SpaceX merosot sekitar 9 persen. Sementara itu, saham Tesla anjlok sekitar 11 persen.
Penurunan tersebut juga berlangsung di tengah aksi jual saham teknologi secara besar-besaran di Wall Street. Investor mulai memperhitungkan risiko politik dan regulasi yang dapat menghambat ekspansi perusahaan-perusahaan Musk.
Kekayaan Elon Musk Turun di Bawah 800 Miliar Dollar AS
Penurunan nilai Tesla dan SpaceX ikut menggerus kekayaan Elon Musk. Data Forbes menunjukkan kekayaan pengusaha tersebut kini berada di bawah 800 miliar dollar AS.
Padahal, kekayaan Musk sempat melampaui 1 triliun dollar AS setelah SpaceX menggelar penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada Juni 2026.
Dalam sepekan terakhir, kekayaan Musk menyusut sekitar 90 miliar dollar AS atau setara Rp 1.627,02 triliun. Meski mengalami penurunan besar, ia masih menempati posisi orang terkaya di dunia.
Musk sebelumnya menggelontorkan dana besar untuk mendukung kandidat dan kepentingan Partai Republik dalam pemilu sela AS. Menurut laporan Financial Times, kontribusinya melampaui 470 juta dollar AS atau sekitar Rp 8,49 triliun.
Namun, sebagian besar kandidat yang mendapat dukungan Musk justru kalah dari pesaing Partai Demokrat. Kemenangan Demokrat di DPR dan Senat pun membuat investor mencermati kemungkinan perubahan kebijakan terhadap bisnis Musk.
Kemenangan Demokrat di Texas Mengancam Ekspansi Perusahaan Musk
Texas menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian investor karena Tesla dan SpaceX menempatkan kantor pusatnya di negara bagian tersebut.
Dalam pemilu sela, kandidat Demokrat James Talarico berhasil memenangkan kursi senator. Sementara itu, Gina Hinojosa terpilih sebagai gubernur Texas.
Keduanya mengalahkan sekutu lama Musk, yakni Jaksa Agung Texas Ken Paxton dan Gubernur Greg Abbott.
Analis Deutsche Bank dalam catatan pada Rabu (4/11/2026) menilai perubahan politik di Texas berpotensi menambah hambatan bagi SpaceX. Mereka menyoroti sikap Hinojosa yang menjadikan pembangunan pusat data sebagai salah satu isu utama kampanyenya.
Hinojosa menyerukan moratorium atau penghentian sementara persetujuan pembangunan pusat data baru. Kebijakan itu akan berlaku sampai parlemen negara bagian mengesahkan perlindungan lebih kuat terkait penggunaan air, biaya listrik, kewenangan pemerintah daerah, dan pemberian insentif.
Selain itu, Hinojosa juga mengkritik pemberian keringanan pajak bagi pembangunan pusat data berskala besar.
Sikap tersebut berpotensi memengaruhi rencana ekspansi Tesla dan SpaceX di Texas. Kedua perusahaan tengah mengembangkan infrastruktur AI di negara bagian itu.
Salah satu proyeknya adalah Terafab, fasilitas berskala besar yang akan menggabungkan pusat data dan pabrik semikonduktor di Grimes County, Texas.
SpaceX juga berencana membangun fasilitas superkomputer di Starbase. Kawasan tersebut menjadi lokasi peluncuran roket sekaligus kota perusahaan milik SpaceX.
Informasi mengenai rencana pembangunan itu muncul melalui sejumlah lowongan pekerjaan yang dipublikasikan perusahaan.
Analis Deutsche Bank memperkirakan perubahan regulasi dapat menunda pengembangan kapasitas komputasi SpaceX di Texas. Perusahaan juga berpotensi mengeluarkan belanja modal lebih besar untuk memenuhi persyaratan baru pembangunan pusat data.
SpaceX Menghadapi Sorotan terkait Starlink di Ukraina
Selain persoalan pusat data, SpaceX juga menghadapi potensi pengawasan terkait layanan internet satelit Starlink di Ukraina.
Elon Musk dan SpaceX mendapat permintaan untuk mempertahankan dokumen mengenai pembatasan yang perusahaan berlakukan terhadap versi militer Starlink di negara tersebut.
Informasi itu muncul melalui keterangan seorang staf senator Partai Demokrat. Pembatasan layanan Starlink sebelumnya menghambat kemampuan Ukraina dalam mempertahankan diri dari serangan Rusia.
Persoalan tersebut berpotensi menambah tekanan politik terhadap SpaceX. Kongres AS dapat memberi perhatian lebih besar terhadap kebijakan perusahaan dalam mengoperasikan layanan satelitnya.
Rencana Merger Tesla dan SpaceX Ikut Menghadapi Risiko
Perubahan peta kekuasaan politik AS juga dapat memengaruhi rencana Elon Musk untuk menggabungkan Tesla dan SpaceX.
Musk sebelumnya telah mengemukakan gagasan merger kedua perusahaan tersebut. Namun, ia mengakui bahwa rencana itu tetap membutuhkan persetujuan pemegang saham.
Investor kini memperhitungkan kemungkinan bertambahnya pengawasan terhadap proses penggabungan perusahaan. Selain itu, pengetatan aturan pusat data dan infrastruktur AI dapat memengaruhi perhitungan bisnis kedua perusahaan.
Kombinasi tekanan pasar, perubahan politik, dan potensi hambatan regulasi membuat saham Tesla dan SpaceX mengalami penurunan tajam.
Hingga penutupan perdagangan Kamis (5/11/2026), kapitalisasi pasar gabungan keduanya menyusut sekitar 456 miliar dollar AS atau setara Rp 8.241 triliun. (de*)








