General Manager Bandara SSK II Pekanbaru, Achmad, mengatakan jarak pandang sempat turun drastis pada pukul 07.30 WIB. Saat itu, jarak pandang hanya berkisar 100 hingga 550 meter.
Dampak kabut asap tersebut turut menunda dua penerbangan tujuan Jakarta, yakni Super Air Jet nomor IP329 dan Citilink nomor QG937.
Meski demikian, kondisi berangsur membaik menjelang siang. Berdasarkan pemantauan pada pukul 10.30 WIB, jarak pandang meningkat hingga mendekati 3.000 meter.
Achmad menegaskan pihak bandara terus memantau perubahan cuaca dan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), maskapai penerbangan, serta pihak terkait lainnya.
Menurutnya, pengelola bandara tetap mengutamakan keselamatan dan keamanan penerbangan dalam menghadapi gangguan akibat kabut asap.
Kualitas Udara Riau Masuk Kategori Tidak Sehat
Kabut asap yang menyelimuti Riau berkaitan dengan tingginya jumlah titik panas di wilayah selatan Sumatera. Asap dari wilayah tersebut menyebar ke sejumlah daerah, termasuk Riau.
Pengukuran Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) pada Selasa pagi menunjukkan konsentrasi partikulat di Riau berada dalam kategori tidak sehat.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Gita Dewi S., mengimbau masyarakat untuk membatasi kegiatan di luar ruangan, terutama ketika asap semakin pekat. Ia juga menyarankan warga menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar rumah.
Langkah tersebut penting untuk mengurangi paparan polutan yang berisiko mengganggu kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Ribuan Titik Panas Terdeteksi di Sumatera
BMKG Stasiun Pekanbaru mencatat lonjakan jumlah titik panas di Pulau Sumatera. Hingga Selasa (13/10/2026) pukul 07.00 WIB, petugas mendeteksi 3.663 titik panas, meningkat dibandingkan catatan pada sore sebelumnya yang mencapai 2.440 titik.
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan sebaran titik panas terbanyak. Sementara itu, sejumlah provinsi lain juga mencatat jumlah titik panas yang cukup tinggi.
BMKG mencatat 471 titik panas di Lampung, 326 titik di Jambi, dan 287 titik di Kepulauan Bangka Belitung. Adapun Bengkulu mencatat 15 titik panas.
Di Riau, jumlah titik panas terpantau sebanyak empat titik. Sebarannya meliputi dua titik di Kabupaten Indragiri Hilir serta masing-masing satu titik di Pelalawan dan Siak.
Walaupun jumlah titik panas di Riau relatif sedikit dibandingkan sejumlah provinsi lain, asap lintas wilayah tetap berpotensi menurunkan kualitas udara.
Kondisi ini juga menjadi perhatian bagi sektor transportasi udara. Pengelola bandara dan maskapai perlu terus memantau jarak pandang serta kondisi cuaca sebelum menjalankan penerbangan demi menjaga keselamatan penumpang dan awak pesawat. (de*)









