Sekretaris ARSSI Provinsi Aceh, Teuku Munawar Khalil, menyampaikan kondisi tersebut pada Jumat (16/10/2026). Ia mengatakan, lonjakan kunjungan membuat rumah sakit kesulitan menerima pasien baru.
“Bukan hanya ruang rawat inap yang penuh, tapi ruang IGD, UGD, juga penuh,” kata Teuku Munawar.
Menurut data ARSSI, banyak pasien anak datang dengan gejala demam dan nyeri sendi. Teuku juga mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan banyak pasien mengalami tifus atau demam tifoid.
Ia menduga kebiasaan mengonsumsi jajanan yang kurang sehat dan perubahan cuaca ikut memengaruhi kondisi kesehatan masyarakat. Saat ini, Aceh memasuki masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Rumah Sakit Kesulitan Menerima Pasien Baru
Kepadatan pasien membuat rumah sakit harus mencari fasilitas rujukan ketika tempat tidur sudah penuh. Namun, upaya tersebut menghadapi kendala karena banyak rumah sakit lain juga mengalami kelebihan kapasitas.
Teuku mengatakan, petugas biasanya mencari rumah sakit yang masih memiliki tempat tidur kosong. Akan tetapi, keterbatasan ruang di berbagai daerah membuat proses rujukan semakin sulit.
Akibatnya, rumah sakit harus mengatur pelayanan IGD dan ruang rawat inap secara cermat. Petugas juga perlu memprioritaskan pasien berdasarkan tingkat kegawatan dan kebutuhan medis.
RSU Cut Meutia Tampung Pasien dari Rumah Sakit Swasta
Kepala Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Umum Cut Meutia di Kabupaten Aceh Utara, Harry Laksamana, turut melaporkan lonjakan pasien. Ia mengatakan, keluhan demam, pilek, batuk, dan sesak napas mendominasi kunjungan ke rumah sakit tersebut.
Selain menangani keluhan tersebut, RSU Cut Meutia menerima pasien rujukan dengan penyakit lain, seperti stroke, diabetes, kanker, dan penyakit jantung.
Harry menyebut 30 tempat tidur di IGD dan 325 tempat tidur di ruang rawat inap kini penuh. Kondisi itu membuat pihak rumah sakit harus mencari fasilitas lain ketika pasien baru membutuhkan perawatan.
Warga Diminta Memanfaatkan Layanan Puskesmas
Untuk mengurangi kepadatan rumah sakit, Harry mengimbau masyarakat mendatangi Puskesmas sebagai fasilitas kesehatan tingkat pertama. Menurutnya, dokter umum di Puskesmas mampu menangani berbagai keluhan, termasuk demam, batuk, dan flu.
“Penyakit batuk, flu, dan demam itu bisa ditangani di Puskesmas, apalagi Puskesmas juga memiliki dokter umum yang andal,” ujar Harry.
Ia juga meminta pihak terkait meningkatkan edukasi kesehatan agar masyarakat memahami layanan medis sesuai kebutuhan. Dengan memilih fasilitas kesehatan secara tepat, warga dapat membantu rumah sakit memusatkan pelayanan pada pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Harry menjelaskan, RSU Cut Meutia pun harus mencari rumah sakit lain ketika seluruh tempat tidurnya penuh. Karena itu, ia kembali mengimbau masyarakat menggunakan layanan Puskesmas untuk keluhan yang tidak memerlukan perawatan rumah sakit.
Lonjakan pasien ini menambah tantangan bagi layanan kesehatan di Aceh. Masyarakat perlu menjaga kebersihan makanan dan menerapkan pola hidup sehat. Jika mengalami sesak napas atau gejala berat lainnya, warga sebaiknya segera mencari pertolongan medis. (ys*)









