Rupiah Melemah Tajam, Menkeu Pastikan RI Tak Akan Ulangi Krisis 1998

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 16 Mei 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada awak media di Kejagung, Jakarta pada Rabu (13/5/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa kepada awak media di Kejagung, Jakarta pada Rabu (13/5/2026).(KOMPAS.com/DEBRINATA RIZKY)

Jakarta, APGtimes.com — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meminta masyarakat tidak panik setelah nilai tukar rupiah sempat menyentuh level Rp 17.500 per dollar AS. Pemerintah menilai kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih jauh lebih kuat dibanding krisis moneter 1998.

Purbaya menegaskan fondasi ekonomi nasional masih cukup kuat. Pemerintah juga optimistis dapat menjaga stabilitas rupiah dalam waktu dekat.

“Enggak perlu panik karena fondasi ekonomi bagus. Kita tahu betul kelemahannya di mana dan bisa kita betulin. Kita enggak akan sejelek seperti 98 lagi,” ujar Purbaya di Kompleks Kejaksaan Agung, Jakarta Selatan, Jumat (16/5/2026).

Pemerintah dan BI Jaga Stabilitas Rupiah

Purbaya menjelaskan stabilitas nilai tukar rupiah menjadi tanggung jawab Bank Indonesia sebagai bank sentral.

Baca Juga :  Pengguna QRIS di Jambi Tembus 20 Ribu, BRI Gencar Dorong Transaksi Digital

Meski begitu, pemerintah tetap menyiapkan langkah tambahan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan domestik.

Pemerintah kini fokus menjaga stabilitas pasar obligasi atau bond market agar arus modal asing tidak terus keluar dari Indonesia.

“Itu kan tugas bank sentral. Cuma kita sedang ambil langkah-langkah untuk membantu memperkuat juga dari sisi bond market,” kata Purbaya.

Ia menilai stabilitas pasar surat berharga negara sangat penting untuk menjaga kepercayaan investor di tengah tekanan ekonomi global.

Stabilitas Obligasi Jadi Kunci

Purbaya menjelaskan investor cenderung menahan aset ketika pasar obligasi stabil. Kondisi itu dapat mengurangi tekanan capital outflow dari pasar domestik.

Sebaliknya, harga obligasi yang kembali menguat bisa memberi peluang capital gain bagi investor. Kondisi itu juga dapat meningkatkan minat investasi di Indonesia.

Baca Juga :  Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

“Kalau bond market stabil, orang itu enggak jual. Mereka enggak takut dengan capital loss. Yang keluar juga akan berkurang,” ujar dia.

Pemerintah optimistis kondisi pasar keuangan domestik akan membaik seiring langkah stabilisasi bersama Bank Indonesia.

Rupiah Sempat Tertekan

Nilai tukar rupiah sempat menembus Rp 17.500 per dollar AS akibat tekanan ekonomi global dan keluarnya arus modal asing dari pasar berkembang.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran publik terhadap ekonomi nasional. Namun, pemerintah memastikan situasi saat ini masih terkendali dan berbeda jauh dibanding krisis ekonomi 1998. (dr*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kredit KB Bank Tembus Rp45,68 Triliun, Pendapatan Bunga Bersih Melonjak 28,94 Persen
Pemerintah Beri Insentif Pajak Rp576,4 Triliun pada 2026, UMKM hingga Industri Jadi Penerima
Saham Intel Anjlok 28,58 Persen, Nilai Investasi Pemerintah AS Susut Rp217,8 Triliun
Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 15,2 Persen, Konflik Iran dan Serangan di Hormuz Jadi Pemicu
Cicilan UMKM Korban Bencana Terancam Macet, DPR Desak OJK Beri Keringanan Kredit
Binance Bekukan Aset Rp54,45 Triliun Usai Insiden Keamanan, Tether dan Circle Ikut Bergerak
IHSG Anjlok 3,49 Persen, Investor Asing Ramai-Ramai Lepas Saham Rp 1,52 Triliun
Binance Diretas, Aset Kripto Rp100 Triliun Hilang dan Bitcoin Ikut Anjlok
Berita ini 8 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 23:09 WIB

Kredit KB Bank Tembus Rp45,68 Triliun, Pendapatan Bunga Bersih Melonjak 28,94 Persen

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Pemerintah Beri Insentif Pajak Rp576,4 Triliun pada 2026, UMKM hingga Industri Jadi Penerima

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:09 WIB

Saham Intel Anjlok 28,58 Persen, Nilai Investasi Pemerintah AS Susut Rp217,8 Triliun

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak hingga 15,2 Persen, Konflik Iran dan Serangan di Hormuz Jadi Pemicu

Jumat, 30 Oktober 2026 - 22:09 WIB

Cicilan UMKM Korban Bencana Terancam Macet, DPR Desak OJK Beri Keringanan Kredit

Berita Terbaru