Rupiah Menguat ke Rp17.898 per Dolar AS, Ini Faktor Pendorongnya

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 12 Oktober 2026 - 12:09 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pegawai menyortir uang rupiah di cash center atau pusat kas BNI di Jakarta, Selasa (4/2/2025). Bisnis/Himawan L Nugraha

Pegawai menyortir uang rupiah di cash center atau pusat kas BNI di Jakarta, Selasa (4/2/2025). Bisnis/Himawan L Nugraha

Jakarta, APGtimes.com – Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Senin (12/10/2026) dengan penguatan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, rupiah berada di level Rp17.898 per dolar AS pada pukul 09.51 WIB. Posisi ini menguat 1 poin atau 0,01 persen dibandingkan penutupan Jumat (9/10/2026) yang tercatat sebesar Rp17.899 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS atau US Dollar Index (DXY) melemah 0,12 persen ke posisi 102,130 pada pukul 09.00 WIB. Pelemahan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuka peluang bagi mata uang Indonesia untuk melanjutkan penguatan.

Pergerakan rupiah pekan ini diperkirakan masih dipengaruhi kondisi pasar internasional. Penurunan harga minyak mentah dunia, melemahnya dolar AS, serta turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS menjadi sejumlah faktor yang mendukung mata uang domestik.

Sentimen Global Beri Ruang bagi Rupiah

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai perkembangan pasar global memberikan peluang bagi rupiah untuk bergerak lebih kuat. Penurunan harga minyak mentah dan pelemahan dolar AS menjadi faktor pendukung pergerakan mata uang Indonesia.

Selain itu, permintaan yang kuat dalam lelang obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun turut menekan imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut memberikan sentimen positif bagi rupiah setelah mata uang domestik menutup perdagangan Jumat di level Rp17.899 per dolar AS.

Baca Juga :  Penjualan Eceran Agustus 2026 Tumbuh 1,3 Persen, Ini Prediksi BI untuk September

Dari dalam negeri, pertumbuhan penjualan ritel Indonesia yang mencapai posisi tertinggi dalam lima bulan terakhir juga mendukung optimisme pasar. Kinerja tersebut menambah sentimen positif di tengah dinamika ekonomi global.

Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati pergerakan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi internasional. Kedua indikator itu dapat memengaruhi keputusan investor serta arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari mendatang.

Data Inflasi AS Jadi Penentu Pergerakan Pasar

Investor juga menantikan publikasi data inflasi Amerika Serikat, yakni Consumer Price Index (CPI) atau inflasi konsumen dan Producer Price Index (PPI) atau inflasi produsen.

Kedua indikator tersebut dapat memengaruhi perkiraan pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed. Jika tekanan inflasi AS lebih tinggi daripada perkiraan, investor berpotensi memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Sebaliknya, inflasi yang lebih terkendali dapat meningkatkan harapan terhadap pelonggaran kebijakan moneter. Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi memengaruhi kekuatan dolar AS sekaligus arus modal menuju negara berkembang, termasuk Indonesia.

Karena itu, hasil data inflasi AS akan menjadi perhatian penting bagi pelaku pasar. Respons investor terhadap data tersebut dapat menentukan arah pergerakan dolar dan rupiah sepanjang pekan ini.

Baca Juga :  Harga Emas Dunia Stabil Setelah Anjlok 3 Persen, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

Minim Data Domestik, Rupiah Bergantung pada Sentimen Eksternal

Tidak ada rilis data ekonomi utama Indonesia yang menjadi perhatian pasar pada pekan ini. Akibatnya, pergerakan rupiah berpotensi lebih sensitif terhadap perubahan kondisi ekonomi global.

Pelaku pasar akan mencermati perkembangan harga minyak mentah, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Jika sentimen global tetap mendukung, rupiah berpeluang mempertahankan penguatannya.

Namun, perubahan kondisi pasar internasional juga dapat membatasi ruang penguatan mata uang domestik. Kenaikan kembali imbal hasil obligasi AS atau perubahan ekspektasi suku bunga dapat memengaruhi minat investor terhadap aset di negara berkembang.

Rupiah Diperkirakan Bergerak pada Kisaran Rp17.850–Rp17.950

Lukman Leong memperkirakan rupiah bergerak pada rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS dalam perdagangan Senin (12/10/2026).

Kisaran tersebut menunjukkan peluang rupiah untuk bergerak menguat di tengah pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak mentah. Meski begitu, pelaku pasar tetap perlu memperhatikan perkembangan imbal hasil obligasi serta data inflasi Amerika Serikat.

Dengan minimnya katalis dari dalam negeri, sentimen global diperkirakan memegang peranan penting dalam menentukan arah rupiah. Investor akan menunggu perkembangan ekonomi AS dan pergerakan pasar keuangan internasional sebelum menentukan langkah selanjutnya. (de*)

Follow WhatsApp Channel apgtimes.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir
Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen
2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun
Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran
IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat
BCA Beli Kembali Saham 19–21 Oktober, Laba Semester I-2026 Naik
OJK Bahas Anjloknya IHSG 14,91 Persen Bersama Analis dan Finfluencer
IHSG Anjlok 5,27 Persen, 774 Saham Melemah pada Perdagangan Senin
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:09 WIB

BEI Ubah Aturan IHSG, 80 Saham HSC dengan Bobot 18 Persen Bakal Tersingkir

Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:09 WIB

Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, BI Tahan Suku Bunga 5,75 Persen

Rabu, 21 Oktober 2026 - 22:09 WIB

2 Juta Warga RI Berobat ke Luar Negeri, Biayanya Tembus Rp 200 Triliun

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:09 WIB

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Melemah 1,8 Persen di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Selasa, 20 Oktober 2026 - 12:09 WIB

IHSG Dibuka Melemah ke 4.980, Saham BMRI dan BBTN Justru Menguat

Berita Terbaru

Presiden Amerika Serikat Donald Trump (kanan) bersama Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu (kiri) di Oval Office, Gedung Putih, Washington DC, 4 Februari 2025..(AFP/ANDREW CABALLERO-REYNOLDS)

Internasional

AS-Israel Siapkan Serangan Baru ke Iran, Fasilitas Nuklir Jadi Target

Kamis, 22 Okt 2026 - 16:09 WIB