Muaro Jambi, albrita.com — Sebanyak 13 kepala sekolah di Kabupaten Muaro Jambi memilih melepas jabatan mereka hanya beberapa hari setelah pemerintah daerah melantik ratusan kepsek baru.
Fenomena tersebut langsung memicu perhatian publik karena terjadi secara bersamaan di tengah rotasi besar-besaran dunia pendidikan.
Kepsek Pilih Kembali Jadi Guru
Beberapa kepala sekolah yang mundur mengaku lebih memilih kembali mengajar dibanding menjalani tugas di lokasi baru.
Mereka menilai penempatan baru terlalu jauh dan sulit dijangkau dari tempat tinggal masing-masing.
Salah satu kepala sekolah, Rasyidi, mengaku harus menempuh perjalanan panjang untuk mencapai sekolah tempat tugas barunya.
Dia mengatakan perjalanan menuju sekolah memakan waktu berjam-jam dan harus menyeberang menggunakan perahu ketek.
Dinas Pendidikan Akui Ada Pengunduran Diri
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Muaro Jambi Hendri membenarkan adanya pengunduran diri tersebut.
Menurut Hendri, selain faktor jarak, beberapa kepala sekolah juga mempertimbangkan kondisi kesehatan dan masa pensiun.
“Untuk alasan bermacam-macam, ada yang karena lokasi penempatan terlalu jauh, faktor kesehatan, dan ada juga yang sudah mendekati masa pensiun,” ujarnya.
Penempatan Kepsek Jadi Sorotan
Sejumlah kepala sekolah juga mengeluhkan minimnya penjelasan terkait mekanisme penempatan.
Mereka mengaku baru mengetahui lokasi tugas setelah proses pelantikan selesai.
Kondisi itu kemudian memicu pertanyaan dari masyarakat mengenai pola mutasi dan penempatan kepala sekolah di Muaro Jambi.
Isu Setoran Ikut Mencuat
Di tengah polemik tersebut, masyarakat mulai membicarakan dugaan adanya praktik setoran agar kepala sekolah tetap bertugas di sekolah tertentu.
Namun, hingga kini belum ada bukti maupun penjelasan resmi terkait isu tersebut.
Sementara itu, Dinas Pendidikan Muaro Jambi juga belum mengumumkan langkah lanjutan untuk mengisi posisi kepala sekolah yang kosong akibat pengunduran diri massal tersebut. (dr*)









