Jakarta, APGtimes.com — Meutya Hafid mengungkapkan hampir 200.000 anak Indonesia telah terpapar judi online atau judol.
Bahkan, sekitar 80.000 anak di bawah usia 10 tahun ikut terpapar praktik judi online.
“Hampir 200.000 anak Indonesia telah terpapar judi online, termasuk sekitar 80.000 anak di bawah 10 tahun,” ujar Meutya dalam kegiatan Indonesia GOID Menyapa Gass Pol Tolak Judol di Medan, Kamis (14/5).
Meutya Sebut Judi Online Jadi Ancaman Serius
Meutya menilai angka tersebut menjadi alarm serius bagi masa depan generasi muda di tengah perkembangan media digital.
Menurutnya, judi online tidak hanya merusak kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga memicu berbagai persoalan sosial.
“Judi online bukan sekadar hiburan digital. Praktik ini bisa merusak ekonomi keluarga, memicu kekerasan rumah tangga, memecah hubungan sosial, dan menghancurkan masa depan anak-anak,” kata Meutya.
Selain itu, Meutya juga menyoroti banyak perempuan yang menjadi korban tidak langsung akibat anggota keluarga terjerat judi online.
Menurut dia, banyak keluarga kehilangan penopang ekonomi hingga mengalami keretakan rumah tangga akibat praktik tersebut.
“Kami mendengar banyak cerita pilu dari masyarakat. Ini bukan hanya soal uang, tetapi kehancuran masa depan anak dan ketenangan keluarga,” ujarnya.
Pemerintah Ajak Masyarakat Lawan Judi Online
Meutya menegaskan sistem judi online membuat pemain hampir selalu mengalami kerugian dalam jangka panjang.
Karena itu, ia mengajak masyarakat ikut berperan aktif mengedukasi lingkungan sekitar terkait bahaya judi online.
“Kita semua harus menjadi garda edukasi, saling mengingatkan, serta melindungi keluarga dan anak-anak dari maraknya praktik ilegal ini,” ujar Meutya.
Ia juga menegaskan pemberantasan judi online tidak cukup hanya melalui pemblokiran akses, takedown, maupun penegakan hukum.
Menurutnya, pemerintah perlu melibatkan masyarakat sebagai benteng utama pencegahan judi online.
“Kita tidak hanya menutup akses atau melakukan takedown. Yang terpenting adalah membangun kesadaran masyarakat dari dalam keluarga dan komunitas,” tuturnya. (dr*)









